Oleh Juariah Anzib  S.Ag

Dalam sebuah diskusi dengan teman-teman guru di sekolah tempat saya bertugas. Kami membahas tema tentang sebuah pepatah yang menyatakan "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Begitulah yang sering kita dengar orang mengucapakan. Pepatah ini sering dijadikan sebagai sebuah acuan kehidupan manusia antara seorang anak dengan orang tuanya. Melambangkan seorang anak yang sering memiliki persamaan watak dan sifat orang tuanya. Kebiasaan tidak jauh berbeda antara perangai anak dengan kedua orang tuanya.

Menurut teman saya Nuridha S. Pd I, guru kelas lima MIN 11 Aceh Besar, ia berpendapat.  Ternyata tidak selalu buah itu terjatuh dekat dengan pohonnya. Karena terkadang ada buah yang terdampar jauh dari pohonnya. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, seperti karena terbawa angin kencang hingga terlempar.jauh dari pohonnya. Bisa juga disebabkan karena dibawa burung atau sejenis hewan pemakan buah seperti kalong. Mengambil buah dan membawa jauh dari batangnya hingga terjatuh di tempat yang jauh . Mungkin juga pohonnya berada dekat dengan sungai, sehingga buahnya terjatuh ke dalam air dan dibawa arus entah kemana. Kemungkinan lain pohonnya berada di lereng-lereng gunung yang tinggi. Tak kala buahnya terjatuh, dia akan terguling ke bawah tanpa di ketahui rimbanya.

Begitulah gambaran kehidupan anak manusia yang terkadang tidak selalu mengikuti jejak dan watak kedua orang tuanya. Sebuah pepatah Aceh berbunyi, "menyo jeut ta peulaku, boh labu jeut keu aso kaya, menyo hanjeut ta peulaku aneuk teungku jeut keu beulaga." Yang artinya bahwa, bila kita pandai mengolah makanan,maka labu saja  bisa jadi makanan lezat dan nikmat, tetapi bila kita tidak pandai mengolah dan mendidik,meskipun  seorang anak teungku bisa menjadi bejat.

Pepatah Aceh di atas mengandung makna yang sangat dalam. Bila kita mengupasnya, memiliki arti yang sangat bermanfaat. Menjadi bahan renungan bagi setiap orang tua yang menginginkan buah hati mereka menjadi anak-anak yang shalih-shalihah.

Jika ada orang tua yang memiliki watak dan kebiasaan yang buruk.  Jarang beribadah, sering berbuat maksiat dan tidak dapat menjadi panutan bagi keluarganya. Anak dibesarkan dalam suasana yang kurang didikan agama, namun ternyata si anak ketika besar menjadi orang yang jauh lebih baik dari orang tuanya. Tekun beribadah dan jauh berbeda wataknya dengan orang tuanya. Jiwanya terbentuk dengan melihat atau sering bergaul dengan anak-anak yang baik membawanya ke arah kebaikan. Secara perlahan bisa ia meniru prilaku yang dicontohkan orang lain melalui fitrah atau kesucian dalam jiwanya.

Begitu juga sebaliknya, terkadang ada orang tua yang shalih dan baik budi pekertinya. Menjadi panutan untuk orang banyak sebagai penyebar kebaikan.  Selalu berdakwah untuk orang lain. Tetapi ada juga  diantara anaknya yang tidak mengikuti jejak tersebut. Bahkan cendrung berbuat hal-hal yang dilarang agama dan  tidak diharapakan orang tuanya. Suka hura-hura, layaknya anak yang tidak dibekali agama. Padahal selalu dibimbing oleh orang tuanya agar menjadi anak yang baik.

Mungkin saja hal ini menjadi suatu ujian dari Allah terhadap orang-orang tua yang shalih. Diuji dengan kenakalan anaknya agar tetap bersabar dan tidak berputus asa. Selalu berprasangka baik dan  mendoakannya agar dibukakan hidayah untuk dapat menerima kebaikan. Selaku orang tua, akan terus berusaha dan berdoa. Tidak mudah  menyerah dengan keadaan yang menimpa. Tidak meninggalkannya dalam keadaan yang tidak stabil. Sifat egois,  emosi,  dan labil yang tidak menentu. Sehingga mendapat petunjuk dan hidayah Allah untuk berubah menjadi anak baik.

Lalu bagaimana dengan orang tua fasik yang memiliki anak shalih? Hasil diskusi kami menyimpulkan bahwa itu merupakan suatu pembelajaran untuk menyadarkan orang tuanya melalui fitrah seorang anak. Munculnya kebaikan dan keshalihan di depan matanya, agar segera menyadari dosa-dosanya dan bertaubat kepada Allah Swt. Akan menimbulkan rasa malu karena anaknya lebih baik dari dirinya dan shalih. Jika hal tersebut tidak menjadi pembelajaran baginya, berarti hatinya telah mati. Ditutup pintu kebaikan karena sering mengerjakan dosa-dosa besar. Alangkah beruntungnya jika menyadari hal tersebut. Itu merupakan suatu hidayah Allah yang tidak boleh disia-siakan. Namun betapa celakanya jika hal tersebut diabaikan begitu saja. Keshalihan anaknya tidak dapat menjadikan  keteladanan baginya untuk mengubah diri.

Dalam Al-qur'an surat Ar-Ra'd ayat 11, Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri."

Ayat tersebut merupakan suatu motivasi kepada manusia. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang tanpa usaha. Akan tetapi Allah akan mengubah nasib seseorang hamba dengan berusaha dan berdoa secara terus menerus kepadaNya. Insya Allah dengan izinnya kita akan mendapat kebaikan melalui hidayah Allah Swt.

SHARE :
 
Top