Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Koordinator Kesiswaan MIN 11 Aceh Besar

Pengajian di Dayah Lamsayuen, Aceh Besar,  yang saya ikuti beberapa waktu lalu membahas tujuh golongan orang yang berada di bawah naungan Arsy di hari kiamat kelak. Pertama, imam atau pemimpin yang adil. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah saw, "Orang-orang yang berbuat adil nanti di hari kiamat akan berada di atas mimbar cahaya di sisi Allah Swt, yaitu mereka yang berbuat adil dalam hukum mereka, dalam keluarga mereka, dan terhadap apa-apa yang mereka urus." (HR Ahmad, Muslim dan Nasai)  

Menjadi pemimpin yang adil, suatu hal yang sangat dianjurkan Islam, yang berkenaan dalam segala aspek kehidupan manusia. Tidak berbuat zalim dan semana-mena terhadap orang yang dipimpinnya, baik di dalam pemerintahan, rumah tangga, lembaga, dan lainya yang menjadi tanggung jawab seorang imam atau pemimpin. Allah Swt berfirman, "Dan berlaku adillah, karena keadilan lebih dekat kepada taqwa." (QS Al-Maidah: 8). 

Golongan kedua adalah pemuda yang tunduk dan beribadah kepada Allah. Dalam kehidupan sering kita jumpai, kaum pemuda yang biasanya menghabiskan waktu untuk kesenangan dunia saja.  Berfoya-foya dengan gaya hidup yang arogan dan didominasi keegoisan yang tinggi. Susah menerima ajakan  untuk melakukan kebaikan dan beribadah. Lebih cenderung menggunakan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, dengan alasan menghabiskan masa muda. Seakan masa muda tersebut hanyalah untuk bersenang-senang belaka. Padahal masa muda menentukan masa depan dirinya. Baik masa muda, akan baik masa depan, suram masa muda, suram pula masa depannya. 

Masa muda merupakan masa sensitif terhadap berbagai godaan menurutkan hawa nafsu. Gejolak jiwa dan pikiran yang mengalami goncangan hidup seringkali ingin melepaskan diri dari berbagai masalah. Kondisi ini menjadi peluang terjerumus seorang pemuda dalam keburukan dan kesesatan. Keadaan ini berada di bawah pengaruh rayuan setan. Rasulullah saw bersabda, "Ada tujuh golongan manusia yang akan di naungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungannya-Nya. Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah Swt.

Golongan ketiga, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid. Laki-laki yang selalu menyempatkan diri berada di tempat suci ini. Memakmurkan masjid dengan berbagai aktivitas dan kegiatan  keagamaan. Menjadikan dirinya sebagai bagian dari kehidupan masjid. Selalu terpanggil jiwanya  untuk berada di masjid di setiap kegiatan ibadah. Allah Swt berfirman di dalam Al-Qur'an surat At Taubah ayat 18. "Hanya  yang memakmurkan masjid-masjid Allah, yaitu orang-orang  beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah. Merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang yang mendapat petunjuk."

Golongan keempat, dua orang yang saling mencintai karena Allah. Cinta dan kasih sayang merupakan anugerah  Allah yang tak ternilai harganya. Namun cinta yang tidak sehat justru menyesatkan. Tetapi cinta yang terjalin dengan  ketulusan dan keikhlasan semata-mata karena Allah itulah cinta yang sebenarnya. Tidak memandang ras dan tanpa pilih kasih, bukan karena harta dan kedudukan tinggi serta paras yang cantik. Tetapi cinta yang didasari rasa  keimanan dan ketaqwaan hanya mengharap ridha Allah Swt. Berkumpul dan berpisah atas nama Allah. Berdasarkan hadits Rasulullah Saw, "Barangsiapa saling mencintai karena Allah, memberi Karena Allah, dan menahan karena Allah, maka iman pada dirinya telah sempurna." (HR Abu Daud).

Golongan kelima, seorang laki-laki yang takut melanggar perintah Allah saat digoda oleh seorang perempuan. Pada umumnya, laki-laki lebih besar nafsu syahwatnya dibandingkan orang perempuan. Meskipun pada dasarnya nafsu lebih banyak terdapat pada kaum perempuan. Akan tetapi, perempuan memiliki rasa malu yang merupakan bagian dari iman mereka, hingga  membuat perempuan lebih menjaga kehormatan dan martabat kewanitaannya hingga selalu memelihara diri dengan baik. Namun  seorang laki-laki yang lebih tinggi nafsu syahwat, tetapi mampu menahan diri tidak tergoda dengan rayuan perempuan cantik yang menggodanya berbuat maksiat. Ia lebih takut kepada Allah dan tidak akan melanggar larangan-Nya. Kemampuan tersebut membuatnya menjadi istimewa di sisi Rabb-Nya. 

Golongan keenam, orang yang merahasiakan sedekahnya. Dalam beramal shalih, modal utama adalah ketulusan dan keikhlasan, tanpa disertai sifat ria. Rasulullah Saw bersabda, "Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, (dan disebutkan salah satu dari mereka)... Dan laki-laki yang bersedekah kemudian menyembunyikan sedekahnya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya." (Muttafaqun Alaih).

Golongan terakhir yang termasuk orang  mendapat naungan Arsy adalah seseorang yang saat mengingat Allah takut akan siksaan api neraka. Setiap kali mengingat Allah, maka hatinya bergetar dan timbul rasa takut dengan azab-Nya kelak. Rasulullah saw bersabda, "Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua tetes air  dan dua tanda, yaitu air mata tercurah karena takut kepada Allah, dan setetes darah yang tumpah di jalan Allah. Dan untuk dua tanda, mereka adalah tanda yang disebabkan oleh jalan Allah, dan tanda yang disebabkan oleh memenuhi salah satu tugas yang diwajibkan oleh Allah Swt." (HR Hasan).

Orang yang takut dengan siksaan Allah di hari kiamat, akan selalu mendekatkan diri kepada-Nya dalam segala suasana. Bertaqarrub kepada Allah,  menghiasi lisannya dengan berzikir dan selalu berkata yang benar. Tidak mencari kesenangan dunia yang berlebihan, tetapi mengharapakan ridha Allah untuk mencapai tingkat manusia muttaqin.  Inilah tujuh golongan orang-orang yang mendapat naungan Arsy di hari kiamat nanti. Semoga menjadi pembelajaran bagi kita bersama.

SHARE :
 
Top