Oleh Juariah Anzib, S.Ag

Koordinator Kesiswaan MIN 11 Aceh Besar 

Dalam khutbah Idul Adha 10 Zulhijjah 1443 Hijriah, yang disampaikan Teungku Ramli, pimpinan dayah Bustanul Fata Leugeu di masjid kemukiman Ulee Susu. Pembahasan materi  berkenaan dengan golongan orang-orang  yang termasuk perusak atau meruntuhkan  agama.  Golongan tersebut terutama sekali bagi orang-orang yang meninggalkan shalat fardhu lima waktu. Shalat merupakan tiang agama. Orang yang mengerjakan shalat, maka ia telah menegakkan agama.  Demikian sebaliknya, orang-orang yang  meninggalkan shalat,  berarti telah meruntuhkan agama. Shalat merupakan ibadah pokok yang paling utama. Jika shalat diabaikan, maka ibadah lain akan sia-sia.

Jika diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari, hampir rata-rata disetiap rumah orang muslim ada orang yang tidak mengerjakan shalat wajib. Terkadang  anaknya shalat, tetapi ayahnya tidak. Ibunya shalat, namun anaknya malas.  Mertuanya shalat, tetapi menantunya ogah, dan lain sebagainya. Begitu papar tgk Ramli. Shalat dianggap sesuatu yang sepele dan tidak dijadikan keutamaan  ibadah.

Hal kedua adalah berilmu tetapi tidak diamalkan. Selaku muslim, setiap orang pasti memiliki dasar-dasar agama yang tertanam sejak dini. Semua orang tua tidak akan membiarkan anak-anaknya hidup tanpa memiliki dasar agama. Menempatkan mereka ke tempat-tempat pendidikan agama agar menjadi orang yang mumayyiz, mengetahui mana yang baik dan yang tidak baik menurut syariat. 

Akan tetapi hal tersebut diabaikan tanpa diamalkan. Padahal dia telah mengetahuinya hukumnya, tetapi seakan tidak mengerti. Meninggalkan shalat fardhu, memakan riba dengan berbagai motif. Termasuk juga berjudi. Dahulu orang berjudi dengan cara sembunyi-sembunyi. Masih memiliki rasa malu berbuat dosa agar tidak diketahui orang lain. Meskipun pada dasarnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Namun sekarang judi dilakukan secara terang-terangan di depan halayak. Bahkan yang lebih menyedihkan judi dimainkan ditempat-tempat ibadah, seperti teras masjid, mushalla, menasah dan sebagainya. Dengan menggunakan nama yang keren seperti chip hingga mudah tertedaya bagi siapa saja yang melihatnya. Dilakukan  oleh seluruh lapisan manusia, baik dari golongan anak-anak, remaja, bahkan orang tua sekalipun. Tidak menyadari hal tersebut telah merendahkan derajat, wibawa dan martabat selaku orang  yang seharusnya menjadi panutan bagi generasi-generasi Islam ke depan.  

Perusak agama juga dari  golongan orang-orang yang beramal tanpa ilmu.  Islam menganjurkan menuntut ilmu karena tanpa ilmu manusia menjadi buta. Kita dapat mengambil suatu i'tibar dari orang yang suka menanam tumbuhan lalu  menyiramnya secara rutin setiap hari.  Menyiram dan memberi pupuk agar tumbuh subur dan berbuah banyak. Andaikan kita menyadari hal tersebut dapat menjadi suatu  pembelajaran berharga  bagi kita. Mengapa kita  hanya menyiram tumbuhan saja tanpa menyirami ruhani kita sendiri dengan  pengetahuan agama.  Agar keimanan dan ketakwaan menjadi tumbuh subur dan berbuah manfaat. Kita selalu menyempatkan menyiram tumbuhan setiap saat, tetapi kita lupa menyiram ruhani kita dengan siraman ilmu agama. Jika kita membiasakan menyiram jiwa kita dengan kebaikan, menuntut ilmu agama, maka insya Allah jiwa yang kosong dapat terisi dengan berbagai pengetahuan hingga adapat beribadah secara baik dan benar sesuai syarat dan rukunnya. Tidak melakukan ibadah secara taqlid. Allah menolak ibadah  bagi orang-orang tanpa ilmu. Oleh karenanya  menuntut ilmu menjadi suatu kewajiban bagi setiap muslimin dan muslimat

Golongan Perusak agama juga bagi mereka  yang suka meremehkan dan menganggap enteng urusan agama. Menyepelekan hal-hal yang telah menjadi ketentuan syariat seperti berbusana yang tidak islami. Ghibah menjadi kebiasaan sehari-hari  yang dianggap hal biasa saja. Tanpa disertai rasa berdosa ketika menggunjing aib saudara sendiri. Kemudian makanan syubhat dan bahkan haram tidak dihiraukan, asalkan mendapat rezeki tanpa perlu mempersoalkan, apakah pantas atau tidak sesuai syariat. 

Itulah diantara prilaku perusak agama yang dilakukan manusia dalam kehidupan dunia ini. semakin sering  dilakukan,.maka akan semakin menjadi suatu kebiasaan yang dapat mendarah daging dalam jiwanya. Mari kita merenung dan menyadari secara perlahan, apakah kita tergolong kepada golongan perusak atau peruntuh agama. Mengintrospeksi diri merupakan suatu hal mulia yang dapat kita lakukan sebelum semua menjadi penyesalan yang tiada berarti. Jangan sampai kesibukan kita dapat mengalahkan kepentingan akhirat dengan tipu muslihat dunia yang hanya sesaat. Wallahua'lam.

SHARE :
 
Top