Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Koordinator Kesiswaan MIN 11 Aceh Besar


Hidup hanyalah fatamorgana, yang indah dilihat tetapi sulit ditebak. Keindahan semu yang cuma sesaat. Meskipun terkadang menggiurkan, membuat insan terpana dan terlena dalam buaian  kasih alam yang tiada abadi. Hidup hanya sementara, suatu saat akan kembali kepada zat yang hakiki yaitu alam barzah dan alam akhirat. Disitulah tempat abadi selama-lamanya. 

Kehidupan manusia  diibaratkan daun pisang. Ketika tumbuh berawal dengan pucuk yang  menjulang tinggi ke angkasa. Seakan  melambung tinggi hingga lupa dari mana sumbernya. Dalam gulungan ketinggian yang menjulang, ia nampak begitu indah dengan warna yang putih, lembut, segar, dan mempesona. Secara perlahan, gulungan yang indah mulai terbuka. Semakin lama semakin melebar hingga akhirnya gulungannya pun terlepas. 

Kini daun pisang mulai melebar. Warnanya berubah, dari warna putih, lembut dan menjulang tinggi. Kini perlahan merebah dan merendah. Warna daunnya mulai menghijau dan menebal. Kelembutan dan keindahannya memudar. 

Seiring berjalannya waktu, daun pisang pun berubah. Dari posisinya yang tinggi di atas sana, kini  keberadaannya semakin ke bawah dan terus ke bawah. Karena di atas sudah muncul lain yang indah seperti tadi. Daun yang sudah berada di bawah semakin lama semakin menua dan terus ke bawah. Dia mulai sadar bahwa dirinya tak seindah dan setinggi dulu. Hingga pada akhirnya layu perlahan. Kini daun mulai menguning dan terus saja menguning.

Warna yang menguning layu, lama-lama berubah menjadi abu-abu tua. Pertanda ia semakin tidak berdaya. Akhir cerita daun pisang pun mengering. Dikala kering, semua keindahan tadi hanya tinggal kenangan. Sehelai daun pisang kejayaannya telah berakhir. Kini ia lemah, hanya dapat bersandar pada pohonnya, sambil menunggu waktu jatuh dengan sendirinya, terlepas dari gagangnya yang sudah mengering. Maka tamatlah riwayat daun pisang dan kembali kepada dasar.

Begitulah bayangan kehidupan manusia di atas permukaan bumi. Sejauh mana sanggup melangkah, secantik apapun seseorang, sehebat siapapun dia dan setinggi manapun jabatannya, jika waktu terus berlalu, dia akan mengalami nasib sama seperti kisah sehelai daun pisang. Semua yang kita miliki suatu saat akan sirna ditelan masa dan berakhir dikikis alam. 

Manusia diciptakan oleh Allah Swt dari tanah, maka suatu saat dia akan kembali ke dasar penciptaan yaitu tanah. Sejauh mana manusia sanggup berjalan di atas bumi ini, pasti ada batasnya.  Hidup bagaikan fenomena sehelai daun pisang. Kehidupan manusia berawal dari tanah, hidup di atas tanah, makan hasil tanah dan kembali ke dalam tanah. Itulah arti kehidupan dunia sebenarnya yang serba tanah. 

Oleh karena itu, semestinya manusia tidak perlu menyombongkan diri dalam kehidupan di tanah ini dan menganggap diri lebih hebat dari orang lain. Jangan sering meremehkan banyak orang  dan menganggap rendah sesama. Jangan  melupakan kebesaran Sang Maha Pencipta Tanah dan lupa suatu saat kita akan kembali menjadi tanah.

Mari kita sadari betapa singkatnya hidup di atas tanah ini, hanya seumur sehelai daun pisang. Menggunakan waktu yang singkat ini adalah hal terbaik. Beribadah dan beramal salih sebanyak-banyaknya, sebagai bekal saat kembali ke dalam tanah. Hanya itu yang membantu kita ketika berada di alam kubur. Semoga kisah daun pisang menjadi iktibar bagi kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Editor: smh

SHARE :
 
Top