Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

Tidak terasa kita sudah berada di bulan Muharram. Pada bulan ini kita disunnatkan untuk berpuasa, baik puasa Senin, Kamis, puasa Nabi Daud (sehari berpuasa dan sehari berbuka), Tasu'a, 'Asyura maupun puasa 11 Muharram.

Puasa sunnat yang paling utama di bulan Muharram adalah puasa 'Tasu'a dan 'Asyura. (Fiqhu As-Sunnah: 1/316, Syarhu Riyadhis Shalihin: 5/299). 

'Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram. Adapun Tasu'a adalah hari kesembilan dari bulan Muharram. (Al-Majmu': 6/352, Mughni Al-Muhtaj: 2/183, Tuhfah Al-Muhtaj: 1/532, Al-Mu'tamad fi al-Fiqh Asy-Syafi'i: 2/209, Al-Fiqhu Al-Islami wa Adillatuhu: 3/1642). 

Para ulama menyebutkan bahwa puasa 'Asyura itu ada 3 tingkatan:

Pertama: Puasa 3 hari yaitu hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas Muharram. Ini yang paling sempurna.

Kedua: Puasa hari kesembilan dan kesepuluh Muharram.

Ketiga: Puasa hari kesepuluh Muharram saja.

Puasa 'Asyura memiliki banyak keutamaan. Adapun keutamaan puasa 'Asyura yaitu:

1. Mengikuti Sunnah Rasul Saw.

Sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, dan persetujuan Rasul saw. Puasa A'syura ini merupakan sunnah fi'liyyah (perbuatan Nabi) dan qauliyyah (perkataan Nabi). Mengikutinya tentu mendapat pahala yang besar.

Rasulullah saw selalu berpuasa 'Asyura sampai beliau wafat sejak di Mekkah sampai hijrah ke Madinah. Beliau tidak pernah meninggalkannya. Bahkan memerintahkan umat Islam berpuasa. Ini menunjukkan keutamaan puasa 'Asyura.

Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Hari 'Asyura merupakan hari puasa orang-orang kaum Quraisy pada masa jahiliah. Rasulullah saw berpuasa 'Asyura. Ketika beliau mendatangi Madinah, beliau berpuasa 'Asyura dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa 'Asyura. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan beliau bersabda: "Barangsiapa yang ingin berpuasa 'Asyura maka silakan berpuasa. Dan barangsiapa yang tidak berpuasa maka silakan tidak berpuasa." (Muttafaq 'Alaih).

2. Menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.

Sebagai manusia biasa, tentu kita ada berbuat dosa, baik sengaja maupun tidak. Maka kita harus selalu meminta ampun kepada Allah. Selain itu, harus memperbanyak ibadah, khususnya ibadah yang mempunyai keutamaa menghapus dosa. Puasa 'Asyura ini merupakan salah satu ibadah yang dapat menghapuskan dosa-dosa.

Puasa 'Asyura dapat menghapus dosa-dosa selama setahun berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah ia berkata: Rasulullah saw ditanya tentang puasa 'Asyura? Maka beliau bersabda: "Saya berharap kepada Allah puasa 'Asyura dapat menghapus dosa setahun yg lalu." (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain dari Abu Qatadah ra. ia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Puasa hari 'Arafah menghapus dosa dua tahun setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Dan puasa 'Asyura menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Al-Jama'ah kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmizi).

3. Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan.

Puasa Ramadhan merupakan puasa yang paling utama, karena hukumnya wajib dan dilakukan di bulan yang paling agung dan utama yaitu bulan Ramadhan. Bulang yang dijuluki oleh Rasul saw sebagai sayyidus syuhur (penghulu bulan-bulan). 

Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. ditanya: Shalat apa yang paling utama setelah shalat wajib? Rasulullah saw bersabda: "Shalat di tengah malam". Lalu ditanya lagi: Puasa apa yang paling utama setelah puasa Ramadhan? Rasulullah saw. bersabda: "Bulan Allah yang kalian memanggilnya Muharram" (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Daud).

Puasa Asyura adalah puasa yang yang dilakukan pada hari ke 10 dari bulan Muharram. Maka keutamaan puasa Asyura termasuk dalam keutamaan berpuasa di bulan Muharram seperti yang disebutkan dalam hadits.

4. Mengikuti Ajaran Nabi Musa as.

Puasa 'Asyura merupakan hari yang agung di mana pada hari itu Nabi Musa berpuasa sebagai rasa syukur atas nikmat Allah swt yang telah menyelamatkannya dan kaumnya Bani Israil dari kekejaman fir'aun. Maka Rasulullah saw mengikuti Nabi Musa dalam berpuasa 'Asyura dan mengatakan lebih berhak mengikutinya daripada orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena ada persamaan syariat Nabi saw dengan syariat Nabi Musa dalam tauhid dan Ushuluddin serta beriman kepada Nabi Musa. Adapun Yahudi dan Nasrani tidak demikian. 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Nabi saw mendatangi Madinah, maka beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa 'asyura. Maka beliau bersabda: "Apa ini?" Mereka berkata: ini hari yang baik, Allah menyelamatkan Musa dan bani Israil pada hari ini dari musuh mereka, maka Musa berpuasa padanya. Lalu Rasulullah saw bersabda: "Saya lebih berhak berpuasa mengikuti Musa daripada kalian". Maka beliau berpuasa 'Asyura dan memerintahkan utk berpuasa 'Asyura. (Muttafaq 'Alaih)

Namun, untuk membedakan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, Rasulullah saw berniat berpuasa Tasu'a bersama dengan 'Asyura pada tahun depannya, meskipun beliau tidak dapat melakukannya karena telah wafat terlebih dahulu sebelum tiba hari ke 9 Muharram tahun depannya.

Diriwayatka dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: ketika Rasulullah saw berpuasa hari 'Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa hari 'Asyura, para sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, Sesungguhnya hari 'Asyura itu hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah saw bersabda: "Jika tahun depan kita masih hidup, insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan." Ibnu Abbas berkata: maka sebelum hari kesembilan tahun depannya tiba, Rasulullah saw telah wafat. (HR. Muslim dan Abu Daud).

Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda: "Jika aku hidup hingga tahun depan maka aku akan benar-benar berpuasa pada hari kesembilan." Yakni bersama hari 'Asyura (HR. Ahmad dan Muslim).

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Puasalah kalian hari 'Asyura. Dan berbedalah kalian dengan orang-orang Yahudi pada hari itu. Berpuasalah juga kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya." (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Al-Humaidi, Ibnu Khuzaimah dan lainnya).

Hadits ini didhaifkan oleh Imam Asy-Syaukani (Nailu Al-Awthar: 4/350) dan lainnya karena sanadnya dhaif. Namun telah shahih semisal hadits ini dari Ibnu Abbas, mauquf dari perkataannya. (Al-Fiqhu Al-Muyassar fi Dhaui Al-Kitab wa As-Sunnah: 164).

5. Mewujudkan Keinginan Rasul Saw.

Rasululullah berkeinginan untuk berpuasa Tasu'a bersama dengan hari 'Asyura pada tahun akan datang untuk menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berpuasa pada hari 'Asyura saja. Namun keinginan beliau ini tidak terwujud karena ajal telah menjemput beliau. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits di atas. Keinginan beliau tersebut menunjukkan keutamaan puasa tasu'a dan 'Asyura.

Maka sudah sepatutnya kita sebagai umatnya untuk mewujudkan keinginan Rasul saw sebagai bentuk kecintaan kita kepada beliau dan untuk meraih keutamaannya.

Sebagai penutup, begitu besar pahala dan keutamaan puasa 'Asyura. Semoga kita dapat meraih keutamaan puasa 'Asyura. Dan semoga Allah swt menerima puasa kita. Amin..!

Penulis adalah Dosen Fiqh dan Ushul Fiqh UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Doktor Fiqh dan Ushul Fiqh, International Islamic University Malaysia (IIUM)

SHARE :
 
Top