LAMURIONLINE.COM | ACEH - Dalam rangka mengenang 17 tahun tragedi Gempa/Tsunami Aceh. keluarga korban Gempa/Tsunami Aceh menggelar acara doa bersama untuk korban Tsunami Aceh di lapangan Tugu Gampong Kopelma Darussalam, Sabtu (25/12).

Acara yang diinisiasi oleh keluarga korban Tsunami ini dihadiri oleh warga Gampong kopelma Darussalam dan sekitarnya. 

Acara berlangsung khidmat diawali pembacaan surat yasin yang dipimpin oleh inisiator kegiatan, Tgk Baharuddin AR. Kemudian dilanjutkan dengan samadiyah. Ditutup dengan tausiah dan doa yang disampaikan oleh pendakwah kondang Aceh, Ustaz Tgk H Dr Mizaj Iskandar Usman, Lc,LL.M.

Seperti diketahui bersama, tugu Darussalam adalah saksi bisu tragedi gempa-tsunami Aceh 2004 lalu. Ribuan pengungsi bersama ratusan mayat bermalam disekitar tugu dan Masjid Kopelma Darussalam. Air bah tsunami berhenti persis di lapangan tugu Darussalam. Meski demikian, setiap malam para pengungsi tidak dapat tidur nyenyak karena gempa susulan dan isu (hoaks) tsunami naik lagi sering disebarkan. Terlebih bau menyengat mayat korban tsunami yang hanya berjarak 100 meter membuat pengungsi sulit tidur.

"Setiap masalah dan musibah telah ditentukan oleh Allah subhanahu wataala. Oleh karena itu, kita diwajibkan memiliki iman kepada qadha dan qadar. Kecewa, sedih sesaat boleh tapi jangan berlarut-larut. Kecewa berlebihan dapat merusak iman dan akidah seorang muslim. Apapun ketetapan Allah Subhana wa taala boleh jadi tidak ideal menurut kita tapi itu sudah ditakdirkan oleh Allah. Maka, digambarkan dalam Al Qur'an, wali-wali Allah atau orang yang dekat dengan Allah adalah orang yang tidak ada kekhawatiran (takut akan masa depan) dan bersedih hati (akan masa lalu) atas ketetapan-Nya" Ungkap Ustaz Mizaj yang juga Dosen tetap dan wakil Dekan Fakultas Saintek UIN Ar-Raniry.

Tgk Baharuddin AR selaku inisiator acara mengharapkan semoga acara ini dapat ditradisikan setiap tahunnya karena tragedi gempa-tsunami ini adalah tragedi bersejarah dan terjadi ditempat bersejarah, Tugu Darussalam yang diresmikan oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno pada 2 September 1959. 

Acara doa bersama dengan tema "Desember Berduka "ini juga mendoakan korban banjir Malaysia dan musibah gunung Semeru. (*)

SHARE :
 
Top