Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Menjadi  guru Profesional


Allah Swt menciptakan manusia dengan berbagai  kelurangan dan kelebihan masing-masing. Tak ada  yang sempurna, baik yang berupa fisik maupun mentalnya. Kesempurnaan hanya milik Allah semata. Namun demikian, Allah Swt telah memberikan kesempuranaan ciptaannya hanya kepada seorang manusia yang teristimewa di muka bumi ini, yaitu Muhammad Rasulullah saw. 

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam bukunya Sirah Nabawiyah menuliskan bahwa Rasulullah memiliki kesempurnaan fisik dan akhlaknya. Beliau mempunyai kefasihan dalam berbicara, lancar dalam berkata-kata dan jelas dalam  pengucapannya. Setiap perkataannya mengandung makna yang mendalam. Ketika berbicara selalu dengan bahasa yang lemah lembut dan sopan.

Rasulullah seorang yang mampu menguasai dirinya, terkontrol emosinya dan tidak pernah marah dalam kondisi apapun. Sabar bagian dari kepribadiannya. Semakin banyak tantangan yang dihadapinya, maka semakin bertambah pula  kesabarannya. Beliau selalu beranggapan bahwa tingkah polah orang-orang bodoh yang menentangnya adalah bagian dari tugas dan kewajiban yang harus dihadapinya. 

Syaikh Shafuyyurrahman menyebutkan, kemurahan hati dan kedermawanannya bagian dari kesehariannya. Beliau tidak pernah takut menjadi miskin harta. Bahkan selalu menyuruh istrinya Aisyah memasak lebih banyak agar dapat berbagi dengan siapa saja yang melewati rumahnya. Kedermawanan  Rasulullah sangat menonjol saat datangnya bulan suci Ramadhan. Kemurahan hati beliau bukan hanya dari segi makanan saja, akan tetapi di segala aspek kehidupan umat. 

Baginda Rasulullah seorang patriotisme sejati yang tangguh dan pemberani.  Tidak bisa diusik dan pantang menyerah serta tidak gentar menghadapi musuh. Beliau tidak pernah mencari musuh, akan tetapi jika musuh datang pantang berlari. Musuh akan menghindar dari hadapannya. Ali berkata, "Jika kami sedang dikepung ketakutan dan bahaya, maka kami berlindung kepada Rasulullah saw. Tak ada seorangpun yang lebih dekat jaraknya dengan musuh selain beliau."

Baginda nabi seorang yang paling pemalu, lebih pemalu dari seorang gadis pingitan. Beliau lebih suka menundukkan wajahnya, pandangannya lebih sering ke bawah, akan tetapi sangat jeli.Jika ada sesuatu hal yang membuat orang lain malu, beliau tidak langsung berbicara di depan orang banyak. Tetapi dengan cara tidak menyebut namanya. Jika sedang berbicara Rasulullah tidak berama-lama menatap dan memandang ke wajah lawan bicaranya, lalu menundukkan pandanganya.

Baginda Rasul seorang yang selalu jujur dalam perkataannya, adil terhadap tindakan dan sangat besar amanahnya. Selalu menepati janji dan dan menyambung silaturahmi dengan sesama muslim. Rasulullah seorang yang penyayang, bukan hanya kepada sesama manusia, akan tetapi juga kepada hewan dan tumbuhan, hingga disebut sebagai rahmatan lil 'alamin. Berlapang dada memaafkan kesalahan orang lain,  meskipun musuh besarnya sekalipun. Tidak bersifat pendendam dan selalu membalas kejahatan dengan kebaikan. 

Menurut Syaikh, Baginda seorang yang paling tawadhuk (merendah diri) dan jauh dari kesombongan. Beliau tidak akan membiarkan seseorang berjalan dibelakangnya separti pengawal. Tidak menginginkan kehadirannya disambut secara berlebihan seperti sambutan para raja. Padahal beliau seorang raja terbesar di seluruh jagat raya. Beliau senantiasa duduk setara dengan para sahabat yang lain. Memperlakukan hamba sahaya dan pembantunya secara baik. Tidak pernah membentak meskipun tugas yang diembannya tidak selesai dikerjakan. Beliau sangat mencintai orang-orang miskin dan duduk bersamanya serta menghadiri jenazahnya. 

Dalam kehidupan berumah tangga, beliau selalu mengerjakan tugas-tugasnya dengan tangannya sendiri. Tidak pernah membebankan orang lain. Aisyah berkata, "Beliau selalu menjahit bajunya sendiri, menambal terompahnya, mencuci pakaian dan memerah susu dombanya. Mengerjakan pekerjaan sendiri dan membereskan urusannya tanpa menyusahkan orang lain. Beliau tidak pernah merepotkan para istri dan selalu memuliakannya. 

Itulah sebagian dari akhlak Rasulullah yang sangat mulia. Ini hanyalah sebagian dari kepribadian Rasulullah saw. Masih banyak akhlak beliau yang tidak akan habis disebutkan satu persatu. Sulit diungkapkan dengan kata-kata, namun dapat dirasakan dengan jiwa. Meneladani kepribadian Rasulullah adalah bagian dari sunnahnya. Mari kita jadikan Rasulullah sebagai teladan mulia dalam kehidupan kita sehari-hari.*

SHARE :
 
Top