Oleh: Ahmad Faizuddin

Today nearly everything is made in China – Except for courage, it’s made in Palestine (Unknown)

Ungkapan di awal tulisan ini terjemahannya lebih kurang, “Hari ini hampir semuanya buatan Cina, kecuali keberanian, ia adalah buatan Palestina.” Meskipun ungkapan tersebut disemat kepada Anthony Bourdain – mantan koki, penulis, dan pembawa acara TV CNN, namun pernyataan ini sudah beredar sejak 2013 silam. Terlepas dari siapa yang mengungkapkannya, kata-kata tersebut mengandung unsur kebenaran.

Di saat banyak barang-barang di seluruh dunia adalah buatan Cina, produksi “keberanian” dapat diklaim sebagai buatan Palestina. Betapa tidak, di tengah-tengah gempuran bom dan tank tentara Zionis Israel – la’natullah, penduduk Palestina tetap tegar menghadapi berbagai serangan dari berbagai penjuru tanah air mereka. 

Ada dua perbedaan utama yang dapat kita lihat antara made in China dan made in Palestine. Yang pertama dalam hal kuantitas. Made in China dapat kita jumpai di banyak tempat, hampir di seluruh negara di dunia ini ada. Jadi kita sudah biasa melihatnya. Dikarenakan sudah biasa, terkadang seolah kurang mendapat apresiasi. Sementara made in Palestine hanya ada di Palestina. Ia lahir dari rahim perempuan-perempuan perkasa yang menghasilkan mujahidin-mujahidin tangguh pembela bangsa, agama, dan tanah airnya. 

Ada pengalaman menarik dari seorang kawan yang belajar di benua Amerika. Biasanya setiap 3 bulan sekali, dia akan mengirimkan sesuatu kepada anaknya di kampung halaman yang berusia lebih kurang 7 tahun. Suatu ketika, saat sedang berkomunikasi dengan keluarganya, sang anak bertanya, “Apakah Ayah sedang belajar di China?”. Bingung dengan pertanyaan anaknya, dia bertanya kembali, “Tidak anakku, Ayah belajar di Amerika. Kenapa memangnya?” Dengan polosnya sang anak menjawab, “Karena semua hadiah yang Ayah kirimkan ada tulisan made in China”. 

Yang kedua dalam hal kualitas. Sudah menjadi rahasia umum bahwa made in China umumnya adalah hasil ciplakan dari sebuah produk asli. Jadi barang yang pada dasarnya mahal, dapat dibeli dengan harga murah karena memang bukan aslinya. Berbeda dengan made in Palestine yang kita maksudkan dalam tulisan ini, kualitasnya asli terjaga dan terasah terus selama perang yang berkepanjangan dengan tentara terkutuk Israel. 

Masih segar dalam ingatan ketika Penulis pertama kali berjumpa dengan seorang kawan dari Palestina beberapa tahun yang lalu. Raut garis wajahnya terlihat tegas namun senyumannya tampak lembut. Ketika bercerita tentang negaranya Palestina, matanya selalu berapi-api meskipun menyimpan rasa sedih yang mendalam karena situasi perang yang berkepanjangan. 

Dari satu sisi, perang adalah hal yang buruk, tapi bukan hal yang paling buruk. Yang lebih buruk lagi adalah rusaknya perasaan moral dan patriotik, yang dapat membawa seseorang pada keyakinan bahwa tidak ada yang patut diperjuangkan. Melihat kondisi Palestina saat ini, ada pro dan kontra diantara masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sungguh sangat disayangkan apabila ada di antara ummat Islam sendiri yang tidak membela Palestina. 

Semangat tali persaudaraan kita diuji ketika salah seorang daripada saudara kita dilanda musibah. Ingatlah pesan Nabi SAW yang mengibaratkan ummat Islam seperti satu jasad atau tubuh. Dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang-orang Mu’min dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak boleh tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Perumpamaan tersebut menunjukkan betapa pentingnya persaudaraan sesama ummat Islam (ukhuwwah Islamiyyah). Perasaan ini lahir dari jiwa yang sehat imannya. Seorang Mu’min pasti merasakan penderitaan saudaranya yang ditimpa musibah, sehingga berusaha untuk menolongnya. Apabila tidak merasakan apa-apa, maka patut dipertanyakan keimanannya.  

Dari hadis diatas, ada tiga karakteristik orang yang beriman, yaitu saling mencintai (tawâddun), saling menyayangi (tarâhum), dan saling mengasihi (ta’âthuf). Ketiga karakter tersebut menunjukkan rasa solidaritas dalam membangun ummat dan mensyiarkan Islam. Oleh karena itu, barometer seorang Mu’min sangat ditentukan oleh kesalehan individual dan dibuktikan melalui kesalehan sosial. Hal ini sejalan dengan Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 2 dan At-Taubah Ayat 71:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya” (Q.S. Al-Maidah: 2)

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, Sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S. At-Taubah: 71)

Akhirnya, di saat kita sudah mengoleksi banyak barang-barang made in China, mudah-mudahan kita juga dapat membekali diri dengan satu-satunya made in Palestine, yaitu “keberanian” untuk membela agama dan tanah air tercinta.  

Kedah, Malaysia: Jum’at, 24 November 2023 

AHMAD FAIZUDDIN adalah putra kelahiran Aceh dan postdoctoral fellow di Universiti Utara Malaysia (sejak 2021-sekarang). Ia juga merupakan presidium Indonesia Social Justice Network (ISJN) 2021-2023, sebuah organisasi alumni International. Fellowship Program (IFP) Ford Foundation di Indonesia, dan Managing Editor untuk Journal of Humanity and Social Justice. Ia menamatkan pendidikannya dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh (S1), Ohio University USA (S2), dan International Islamic University Malaysia (S3). Sebagai peneliti dan konsultan pendidikan, ia aktif menulis di berbagai jurnal, majalah, tabloid, bulletin, dan media massa baik lokal, nasional maupun internasional. Artikel lepasnya dapat diakses di New Straits Times, The Star, Jakarta Post, Kompas, Serambi Indonesia, Gema Baiturrahman, dan lain sebagainya. Ia dapat dihubungi di email: akhi.faizuddin@gmail.com.

SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top