Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Wakaf di Aceh, Tradisi, Inovasi dan Keberkahan


Silaturrahmi sangat dianjurkan dalam Islam, bahkan Allah mengancam tidak akan menerima amal ibadah orang yang memutuskan tali persaudaraan. Islam menegaskan persaudaraan dan melarang permusuhan antarsesama. Barang siapa yang ingin bahagia di dunia dan akhirat, hendaknya memperkuat ikatan silaturrahmi.

Teungku Ismail dari Aceh Selatan (YouTube, 22 Agustus 2025), menjelaskan, iblis sangat senang melihat sesama muslim bermusuhan. Iblis mengompori keduanya agar terus bersengketa, karena perpecahan umat kemenangan besar bagi iblis.

Untuk menggambarkan betapa buruknya perbuatan memutus silaturrahmi, sebuah kisah menarik tentang Firaun dan iblis. Dikisahkan, Firaun, raja zalim yang mengaku sebagai tuhan, bersahabat akrab dengan iblis. Suatu ketika, iblis berkunjung ke istana Firaun. 

Iblis mengetuk pintu kamar sang raja, tetapi tidak menjawab ketika Firaun bertanya, “Siapa di luar?” Setelah ketukan ketiga, Firaun marah, membuka pintu dengan kasar, dan kaget melihat sahabatnya sendiri, iblis.

Firaun pun bertanya, “Mengapa engkau tidak menjawab pertanyaanku?” Iblis menjawab, “Mengapa aku harus menjawabnya? Bukankah engkau mengaku sebagai tuhan? Tuhan seharusnya mengetahui segalanya, yang terang maupun tersembunyi, yang ada di langit maupun di bumi. Aku hanya berada di balik pintu, tetapi engkau tidak mengetahuinya. Bagaimana mungkin engkau berani mengaku sebagai tuhan?”

Mendengar jawaban itu, Firaun berkata, “Engkau tahu, aku bukanlah tuhan. Aku hanya ingin diakui karena kekuasaan dan kehebatanku. Jangan beritahu rahasia ini kepada siapa pun.” Iblis pun berjanji akan menyimpan rahasia tersebut.

Saat berkeliling istana, iblis mencolek mahkota di kepala Firaun sambil berkata, “Seburuk-buruknya aku, tidak pernah sekalipun aku mengaku sebagai tuhan. Tetapi engkau dengan beraninya mengaku demikian. Itu keburukan yang luar biasa. Namun, ketahuilah wahai Firaun, ada keburukan yang lebih besar daripada dosamu. Kelak, akan ada segolongan umat Muhammad yang memutuskan tali silaturrahmi. Mereka bertikai dengan saudara sendiri demi merebut kenikmatan dunia: kekuasaan, harta, dan kedudukan. Mereka rela merusak persaudaraan hanya demi kepentingan sesaat.”

Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran, memutuskan silaturrahmi perbuatan yang amat dimurkai Allah, bahkan derajat keburukan orang yang memutus silaturrahmi lebih hina daripada Firaun yang mengaku tuhan maupun iblis yang terlaknat. 

Hikmah yang bisa kita petik: pentingnya saling memaafkan dalam perbedaan dan menguatkan kebersamaan dengan sesama. Semoga kita tergolong orang-orang yang selalu menjaga silaturrahmi, dirahmati Allah, dan mendapat petunjuk-Nya.

SHARE :

0 facebook:

 
Top