LAMURIONLINE.COM | ACEH - Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK NU) bekerja sama dengan Kementerian Agama RI sejak Rabu dan Kamis, 7 - 8 Januari 2026 melaksanakan kegiatan pendampingan psikososial untuk korban bencana hidrometeorologi di Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen.
Kehadiran tim psikososial yang terdiri dari tenaga psikolog, trainer keluarga sakinah, penghulu dan penyuluh agama di sambut ceria, penuh keharuan bahkan beberapa kaum ibu sampai meneteskan air mata berbagi kisah dan pengalaman saat bencana terjadi.
Masyarakat sangat tergugah dan antusias dengan kehadiran tim psikososial yang mampu membangkitkan semangat dan harapan dengan berbagai simulasi dan trauma healing yang di sampaikan.
Di Kabupaten Aceh Utara lokasi yang dituju yaitu Gampong Pante Gaki Bale Kecamatan Langkahan, sedangkan di Kabupaten Bireuen titik fokus di kawasan Simpang Jaya - Sarah Sirong dan pelajar Madrasah Ibtidaiyah Swasta Cot Keutapang Kecamatan Juli.
Tim psikososial yang hadir khusus dari Jakarta terdiri dari psikolog dan trainer keluarga sakinah yaitu Ratu Dian Hatifa, Nailatin Fauziyah,Chairunnisa, Nurmey Nurul Haq dan Sugeng Widodo.
Sebelumnya LKK NU bekerja sama dengan Kementerian Agama RI telah melatih 108 tenaga pendampingan psikososial di 3 wilayah terdampak bencana hidrometeorologi sejak tanggal 5 - 7 januari 2025.
Kegiatan dimulai di Pidie Jaya dengan melatih 36 relawan dari unsur penyuluh, penghulu, guru dan relawan NU. Dilanjutkan di Aceh Utara dan Bireuen. Setelah kegiatan pelatihan di lanjutkan dengan pendampingan ke beberapa lokasi pengungsian, sekolah dan daerah terdampak. Para relawan yang telah di latih di arahkan untuk melakukan pendampingan psikososial di masing masing obyek binaan.
Ketua LKK NU Aceh H Khalid Wardana SAg MSi menyampaikan apresiasi yang luar biasa atas pelaksanaan program psikososial untuk para korban terdampak. Dukungan ini menjadi modal pendampingan awal agar penyintas merasa di terima dan tidak merasa sendirian sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan setelah peristiwa bencana alam.
"Jika kita melihat kondisi riil di lapangan tentunya butuh proses yang lama agar masyarakat bisa bangkit kembali secara normal, apalagi menata kembali pranata sosial yang telah hilang. Untuk itu melalui program psikososial akan mengembalikan potensi korban, keluarga dan masyarakat lebih kuat secara individu dan kolektif, berfungsi optimal, memiliki ketangguhan dalam menghadapi masalah sehingga menjadi lebih berdaya dan produktif," ungkap Khalid yang telah berpengalaman menggerakkan program psikososial bersama American Red Cross paska gempa dan tsunami Aceh.*





0 facebook:
Post a Comment