Oleh: Syahrati, S. HI., M. Si
Penyuluh Agama Islam Kab. Bireuen
Peristiwa tragis baru-baru ini terjadi di Medan mengguncang perasaan kita. Seorang ibu menghembuskan napas terakhir di tangan anak kandungnya yang baru berusia 12 tahun. Bagi para ibu, kabar ini terasa seperti tamparan yang menyisakan perih mendalam. Ada rasa nyeri dan sulit percaya. Sekaligus muncul tumpukan pertanyaan, bagaimana sebenarnya relasi paling suci antara ibu dan anak bisa berujung pada noktah sekelam itu.
Hasil penyelidikan mengungkap fakta yang menyayat hati bahwa tragedi ini tidak lahir dalam semalam. AI, sang putri bungsu, diduga melakukan aksi nekat tersebut akibat tumpukan dendam karena kerap menerima kekerasan fisik dan ancaman di dalam rumah. Puncaknya, kemarahan AI meledak saat sang ibu menghapus konten game dan serial anime di ponselnya. Ironisnya, cara pelaku mengeksekusi tindakan kejam tersebut dipelajari dari tontonan serial detektif dan gim bertema pembunuhan yang ia konsumsi tanpa filter. Di tengah suasana rumah yang dingin karena hubungan orang tua yang tak harmonis, tontonan brutal itu menjadi pemandu jalan bagi seorang anak di bawah umur untuk meluapkan amarah yang selama ini ia pendam sendiri.
Di balik pintu rumah yang tertutup, sering kali tersimpan konflik berulang, tekanan emosional yang tak terurai, dan hilangnya keseimbangan dalam pengasuhan. Dalam Islam, rumah adalah madrasah pertama seorang anak. Namun kita perlu bertanya kembali mengenai ilmu apa yang sebenarnya sedang kita ajarkan di sana. Anak seharusnya mengenal cinta dan rasa aman sebelum mengenal aturan. Rasulullah saw mencontohkan bahwa pengasuhan haruslah berlandaskan kelembutan. Beliau tidak pernah menjadikan kekerasan sebagai jalan keluar karena satu hal yang harus kita sadari: bahwa akhlak tidak akan pernah tumbuh dari luka.
Ketimpangan di Atas Pundak Ibu
Kita sering melihat potret keluarga yang pincang ketika peran ayah absen secara emosional. Saat ayah hanya hadir sebagai pencari nafkah, namun asing di hati anak, maka beban pengasuhan akan jatuh sepenuhnya ke pundak ibu. Saat ibu merasa lelah berjuang sendirian, emosinya menjadi sangat rapuh.
Di sisi lain, sering kali ayah justru tampil sebagai sosok yang terlalu memanjakan dan selalu menuruti keinginan anak demi menghindari konflik. Sikap ayah yang seperti ini, meskipun niatnya meredam suasana, justru sering kali melemahkan wibawa ibu. Anak menjadi bingung karena tidak ada satu komando yang selaras dalam rumah tangga. Ibu yang menuntut kedisiplinan akhirnya dianggap sebagai musuh, sementara ayah menjadi pelindung yang keliru. Padahal Islam mendudukkan ayah sebagai qawwam, yaitu penopang yang bukan hanya memberi materi tetapi juga menjadi penjaga stabilitas emosi keluarga.
Zaman yang Tak Lagi Sama
Dulu kita sering berdalih, bahwa kita tetap baik-baik saja meskipun sering dipukul atau dimarahi saat kecil. Namun kita sering lupa, anak-anak kita hidup di zaman yang jauh berbeda. Hari ini, saat anak-anak merasa terluka atau kesepian di rumah, mereka akan lari ke dunia digital. Di sana terdapat tontonan kekerasan dan game yang minim saringan tersedia tanpa batas. Tanpa kehadiran orang tua yang utuh, apa yang mereka konsumsi di layar akan menjadi referensi utama dalam menyelesaikan masalah di dunia nyata.
Kemarahan yang terus-menerus diledakkan di rumah, terlebih jika disertai ancaman, perlahan akan mengikis rasa aman anak. Mereka mungkin akan diam, namun luka batin itu sifatnya menumpuk. Ia akan mengeras dan suatu saat bisa meledak dalam bentuk yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Memulihkan Rahmah
Saya menulis tidak untuk mencari siapa yang salah, karena setiap orang tua pasti memiliki beban dan rasa lelahnya masing-masing. Namun peristiwa di Medan itu adalah cermin besar bagi kita semua untuk kembali bermuhasabah. Sudahkah rumah kita menghadirkan sakinah, apakah anak-anak merasa cukup aman untuk bicara tanpa harus takut dipersalahkan.
Allah tidak menilai rumah tangga kita dari foto harmonis yang ditampilkan di media sosial, melainkan dari apa yang terjadi di ruang paling privat. Setiap bentakan dan kelalaian adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.
Karena itu, mendidik anak sejatinya merupakan perjalanan panjang untuk terus memperbaiki diri. Mari kita bangun kembali komunikasi yang selaras antara ayah dan ibu. Kita harus meyakini bahwa pengasuhan yang menghadirkan rahmah akan melahirkan ketenangan, sementara rumah yang kehilangan rahmah hanya akan menyisakan luka yang panjang.*

0 facebook:
Post a Comment