Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi dan Keberkahan
Iman adalah keyakinan seseorang terhadap hal-hal yang belum tampak secara nyata. Yakni kepercayaan kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul, hari kiamat, serta takdir baik dan buruk. Enam rukun iman ini menjadi dasar keyakinan hakiki yang bersumber dari sanubari secara ilahiah. Sementara percaya pada sesuatu yang terlihat dan dapat dibuktikan keberadaannya, seperti bumi, matahari, dan bulan, tidak disebut sebagai iman, melainkan pengetahuan biasa.
Keberadaan Allah, malaikat, kitab suci, para rasul, hari kiamat, dan qada’ qadar hanya dapat diyakini lewat iman. Siapa yang tidak beriman kepada rukun-rukun tersebut tergolong dalam golongan orang yang hatinya tertutup dari cahaya kebenaran.
Namun iman yang tertanam dalam diri seorang hamba Allah tidak bersifat tetap. Ia dapat mengalami pasang surut seiring perjalanan hidup. Hati manusia senantiasa berubah, karena itu iman membutuhkan penjagaan. Ibadah menjadi kekuatan yang menjaga hati tetap stabil dan terarah kepada Allah. Hidup ini memiliki satu tujuan akhir: menuju alam keabadian. Dunia pada hakikatnya fana dan sementara.
Dalam bukunya Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk, Ahmad Rifa’i Rif’an menjelaskan bahwa iman bersifat dinamis dan tidak statis. Kadar iman dapat naik atau turun sesuai kondisi hati dan perilaku seseorang. Ketika iman menguat, tumbuh rasa semangat dan kenikmatan dalam beribadah, baik ibadah wajib maupun sunnah. Hati terasa khusyuk dan penuh gairah. Tetapi saat iman melemah, muncul rasa berat melaksanakan ibadah. Bahkan ketika beribadah pun seseorang ingin cepat selesai, sehingga ibadah kehilangan kesempurnaan dan rasa kehadiran hati.
Fluktuasi iman adalah realitas yang banyak dialami orang beriman. Namun, turunnya iman tidak boleh dibiarkan tanpa usaha memperbaikinya. Ketika iman melemah dan rasa malas datang menyerang, kita harus memaksa diri tetap beribadah. Karena dengan memperbanyak ketaatan, iman akan kembali menguat. Sebaliknya, bila seseorang membiarkan kemaksiatan menumpuk, iman akan kian merosot.
Naik turunnya iman adalah hubungan sebab-akibat yang saling berpengaruh. Malas beribadah menyebabkan iman melemah. Sebaliknya, ketekunan dalam ibadah membuat iman bertambah. Dua hal ini saling mendorong dan memperkuat.
Salah satu langkah penting untuk meningkatkan iman adalah memperbanyak mengingat kematian. Banyak orang menunda ibadah dan mudahlah meremehkan dosa karena merasa kematian masih jauh. Padahal kematian lebih dekat dari urat leher. Ia datang tanpa memberi aba-aba, dan Allah merahasiakan waktunya agar manusia selalu bersiap. Dengan selalu mengingat kematian, seseorang terdorong memperbaiki diri, menjauhi maksiat, dan memperbanyak amal baik sebagai bekal menuju perjalanan panjang akhirat.
Langkah berikutnya adalah menghadiri majelis ilmu dan berkumpul bersama orang-orang saleh. Kebaikan itu menular, dan semangat ibadah tumbuh kembali setiap kali berada di lingkungan yang penuh dzikir dan ilmu. Rasulullah saw bersabda:
"Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam majelis zikir (pengajian) kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat Allah meliputi mereka, ketenangan turun ke dalam hati mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk-makhluk langit."
Demikian beberapa ikhtiar menjaga kestabilan iman, agar tidak jatuh dan agar senantiasa bertambah dengan izin Allah Swt. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang istiqamah meningkatkan keimanan, dijauhkan dari kemaksiatan, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.

0 facebook:
Post a Comment