Sayed Muhammad Husen (SMH) bukanlah nama asing dalam dinamika sosial-ekonomi Islam di Aceh. Sosok kelahiran Trienggadeng, 28 Desember 1965 ini merupakan perpaduan antara seorang konseptor, praktisi ekonomi syariah, dan pejuang literasi. Dedikasinya selama puluhan tahun mewarnai wajah institusi besar, seperti Masjid Raya Baiturrahman dan Baitul Mal Aceh.
Meskipun lahir di Trienggadeng, Sayed menghabiskan masa kecil dan remajanya di Sabang. Putra dari Tgk Muhammad Husen bin Puteh ini dikenal sebagai siswa berprestasi yang langganan masuk peringkat sepuluh besar sejak SD hingga SMA. Bakat kepemimpinannya mulai terasah saat menjabat sebagai Ketua OSIS di bangku SMAN I Sabang.
Pendidikannya berlanjut ke Universitas Syiah Kuala (USK) melalui jalur PMDK pada tahun 1985, mengambil Program Studi Bimbingan Konseling di FKIP. Di kampus inilah, karakter aktivisnya semakin matang melalui organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Lembaga Dakwah Kampus Forum Silaturrahmi Mahasiswa (LDK Fosma). Sayed bukan sekadar anggota, ia instruktur yang mengawal perubahan mental generasi muda Islam dan pernah menduduki posisi strategis sebagai Ketua Bidang Kaderisasi PW PII Aceh (1988–1990).
Melawan Rentenir
Salah satu warisan terpenting Sayed adalah pendirian Baitul Qiradh Baiturrahman (BQB) pada tahun 1995. Baginya, masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ritual ibadah, tetapi harus menjadi solusi keadilan dan kesejahteraan ekonomi umat.
"Masjid harus menjadi pusat pemberdayaan. Jika perut jamaah lapar dan terlilit utang, sulit bagi mereka khusyuk dalam beribadah," ungkap Sayed.
Sebagai General Manajer pertama (1995–2001), ia membangun sistem pinjaman tanpa bunga yang membebaskan pedagang pasar dari jeratan rentenir. Hingga kini, ia masih dipercaya sebagai Sekretaris Pengurus KSPPS Baitul Qiradh Baiturrahman untuk memastikan marwah syariah tetap terjaga.
Merevolusi Pengelolaan Zakat dan Wakaf
Sejak tahun 2004, Sayed menjadi aktor intelektual di balik transformasi Baitul Mal Aceh (BMA). Perannya mencakup berbagai aspek krusial, pertama, merancang strategi pengumpulan; membina strategi agar zakat tidak hanya dikumpulkan, tetapi dikelola secara akuntabel.
Kedua, modernisasi wakaf. Melalui program wakaf produktif, ia mendobrak stigma bahwa wakaf hanya soal "3M" (Masjid, Mushalla, Makam). Ia mendorong pemanfaatan tanah wakaf terlantar menjadi aset ekonomi seperti ruko, yang hasilnya mengalir abadi untuk fakir miskin.
Ketiga, jembatan pemberdayaan. Sayed mengintegrasikan dana zakat dengan modal usaha mikro, memastikan mustahik (penerima zakat) bisa "naik kelas" menjadi muzakki (pembayar zakat).
Literasi di Bingkai Syariah
Di dunia jurnalistik, Sayed adalah sosok sentral. Sebagai Pemimpin Redaksi Tabloid Gema Baiturrahman 2014-2025, Wakil Pemred Lamuri Online, dan tokoh di balik Khatib News, ia memandang media sebagai instrumen dakwah modern. Ia mencetuskan gagasan "Satu Masjid Satu Jurnalis" untuk memperkuat literasi publik dari akar rumput masjid.
Karya monumentalnya, buku "Merawat Bingkai Syariah" (2020), menjadi bukti produktivitasnya. Buku ini merangkum pemikirannya tentang bagaimana syariat Islam harus hadir dengan wajah humanis, menyentuh aspek ekonomi, dan mempererat ukhuwah. Bukan sekadar aturan yang kaku.
Jaringan Senioritas
Keberhasilan Sayed tidak lepas dari jejaring yang ia bangun di PII. Ia memiliki hubungan mentor-mentee yang erat dengan tokoh-tokoh senior Aceh seperti H Miswar Sulaiman, H Abu Yus (Muhammad Yus), dan H Alfian Husein Itam. Para senior ini memberikan "karpet merah" berupa akses jaringan, sementara Sayed menjawabnya dengan kinerja profesional sebagai pelaksana teknis dan konseptor andal.
Pada masa sulit Orde Baru, Sayed termasuk barisan yang teguh mempertahankan identitas PII meski harus bergerak di bawah tanah. Semangat pantang menyerah inilah yang ia bawa hingga kini dalam setiap kebijakan yang ia susun di pemerintahan maupun lembaga sosial.
Saya mencatat, SMH adalah representasi sosok intelektual organik Aceh. Ia bergerak dari mimbar ke pasar, dari meja redaksi ke pemberdayaan ekonomi rakyat. Melalui zakat, wakaf, dan literasi, ia terus berupaya memastikan bahwa "Bingkai Syariah" di Aceh tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyejahterakan rakyat. (Abrar/Gemini)

0 facebook:
Post a Comment