Oleh: Zulfa Zahara Arani
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Syiah Kuala
Awal tahun 2026 ini menjadi momen yang sangat berharga bagi saya, sebab berhasil lolos dalam kegiatan Internasional Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 4 yang dilaksanakan di tiga negara ASEAN, yaitu Malaysia, Singapore, Thailand, dan dalam kegiatan ini, saya hadir sebagai perwakilan Dayah Insan Qur’ani.Kegiatan ini menjadi forum global bagi santri, mahasiswa, dan akademisi untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan merumuskan gagasan strategis dalam penguatan ekosistem ekonomi syariah global. Kegiatan ini mengusung tema “Kolaborasi Santri dalam Membangun Ekosistem Ekonomi Syariah Global”.
Sebelum mengikuti konferensi, peserta diwajibkan mempublikasikan jurnal ilmiah secara berkelompok. Dalam seleksi tersebut, kelompok saya mengangkat penelitian berjudul “Analisis Komparatif Kontribusi Zakat dan Wakaf terhadap Pengentasan Kemiskinan di Indonesia dan Malaysia”
Penelitian tersebut membahas perbandingan peran zakat dan wakaf sebagai instrumen filantropi islam dalam menekan angka kemiskinan di dua negara, dengan menyoroti aspek kebijakan,implementasi, serta dampak sosial dan ekonominya.
Melalui penelitian ini, kami menemukan bahwa zakat dan wakaf bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai solusi sosial yang berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang profesional dan transparan, keduanya mampu membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok rentan.
Saat mempresentasikan hasil penelitian di forum internasional, saya merasakan pengalaman yang sangat berkesan. Saya belajar untuk menyampaikan gagasan secara jelas, dan berdiskusi dengan sudut pandang yang berbeda. Forum ini membuka wawasan saya bahwa isu kemiskinan dan ekonomi syariah bukan hanya persoalan nasional, tetapi juga menjadi perhatian global.
Alhamdulillah, di akhir rangkaian kegiatan, melompok kami dinobatkan sebagai “Top 1 Best Group, sebuah penghargaan yang menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus bentuk apresiasi atas kerja keras dan kekompakan tim.
Selain forum akademik, perjalanan ke Malaysia, Singapura, dan Thailand juga memberikan pengalaman budaya yang berharga. Saya belajar tentang kedisiplinan, sistem pendidikan, serta bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam konteks masyarakat yang beragam.
Bagi saya, mengikuti ICSM bukan hanya tentang perjalanan ke luar negeri, tetapi tentang membawa identitas sebagai santri Aceh ke tingkat internasional. Ini menjadi bukti bahwa santri tidak hanya belajar di pesantren, tetapi juga mampu berkontribusi dalam diskusi global dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
Pengalaman ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa dari pesantren, kita bisa melangkah lebih jauh. Dari Aceh, untuk Indonesia. Dari santri, untuk dunia.*


0 facebook:
Post a Comment