Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)
Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia
Ramadan kembali menyapa umat Islam pada tahun 2026 ini dengan membawa suasana yang penuh ketenangan. Bagi setiap Muslim, bulan suci ini bukan sekadar periode menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah semesta. Di dalamnya, kita kembali memposisikan diri sebagai murid yang sedang menempuh ujian disiplin, kesabaran, dan kejujuran. Namun, sebelum melangkah lebih jauh dalam kurikulum spiritual ini, ada satu elemen dasar yang menentukan apakah seluruh jerih payah kita akan membuahkan hasil atau hanya menjadi rutinitas tanpa makna, yaitu niat.Dalam dunia pendidikan, niat sering kali dipandang sebagai motivasi internal. Namun, dalam kacamata Islam, niat adalah ruh dari setiap amal. Sebuah hadits masyhur dari Umar bin Khattab RA mengingatkan kita bahwa, "Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan" (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjadi pengingat keras bahwa kualitas akhir dari sebuah proses belajar sangat bergantung pada titik berangkatnya.
Jika kita menilik Al-Qur'an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..." Ayat ini menegaskan bahwa segala bentuk pengabdian, termasuk aktivitas menuntut ilmu, haruslah memiliki orientasi yang tunggal, yakni mencari ridha Allah SWT.
Mengapa niat yang murni karena Allah begitu krusial dalam pendidikan? Pertama, niat yang benar berfungsi sebagai penjaga ketahanan mental. Dalam proses belajar, kita sering kali menemui kejenuhan atau materi yang sulit dipahami. Jika niat kita hanya untuk mengejar nilai atau pujian manusia, kita akan mudah patah arang saat ekspektasi itu tidak tercapai. Sebaliknya, jika belajar diniatkan sebagai ibadah, setiap kesulitan akan dipandang sebagai bagian dari ujian yang bernilai pahala.
Kedua, niat mampu mengubah rutinitas menjadi sesuatu yang bernilai sakral. Membaca buku, melakukan riset, hingga mendengarkan penjelasan guru bisa setara derajatnya dengan berzikir jika dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan kebodohan diri dan memberi manfaat bagi sesama. Tanpa keikhlasan, ilmu yang luas sering kali hanya melahirkan kesombongan intelektual yang menjauhkan keberkahan.
Mengawali Ramadan kali ini, marilah kita melakukan pembaruan niat (tajdidun niyyah). Langkah ini bisa dimulai dengan evaluasi diri yang jujur: untuk apa kita mempelajari bidang yang kita tekuni saat ini? Setelah itu, tanamkan komitmen dalam hati untuk menjadikan setiap lembar buku yang kita baca sebagai jalan menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Sang Pencipta.
Sebagai penutup, janganlah lupa untuk senantiasa memanjatkan doa, "Allahumma inni as-aluka 'ilman nafi'an" (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat). Niat adalah akar dari pohon pengetahuan kita. Jika akarnya sehat dan tertanam kuat dalam keikhlasan, maka buah dari pendidikan kita berupa karakter yang mulia dan amal yang nyata akan dapat dirasakan manfaatnya oleh semesta.
Selamat memasuki Madrasah Ramadan 2026. Semoga ilmu yang kita kejar tahun ini menjadi cahaya yang menuntun kita pada kemenangan yang hakiki.

0 facebook:
Post a Comment