Oleh: Prof. Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA
Dosen Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Satu-satunya ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil wajibnya puasa bulan Ramadhan ah dalah surah Al-Baqarah ayat 183: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,Ayat ini mengandung empat unsur penting yang harus diperhatikan terkait puasa Ramadhan, yaitu pertama, panggilan orang-orang beriman, kedua perintah wajib puasa Ramadhan, ketiga perintah yang sama untuk orang-orang sebelum kita, serta keempat, tangguhan gelar muttaqin. Semua itu satu paket yang harus terpadu dan dipadukan seorang muslim untuk melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan dengan harapan memperoleh gelar orang bertaqwa.
Panggilan orang-orang beriman dalam ayat ini menunjukkan, puasa Ramadhan itu dialamatkan Allah Swt khusus kepada orang-orang yang sudah beriman atau orang-orang yang dengan melaksanakan puasa Ramadhan menjadi orang beriman. Kalau kita perhatikan ciri orang beriman yang tertera dalam Al-Qur’an di antaranya yang tertera dalam surah Al-Anfal ayat 2 dan Al-Mukminun ayat 1 sampai 11:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al-Mukminun 1-11).
Pertama, kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan. Ini merupakan perihal yang tidak boleh tidak mesti dilakukan karena yang namanya wajib kalau dilaksanakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan berdosa. Khusus yang meninggalkan puasa Ramadhan dosanya tergolong dosa besar karena ia merupakan salah satu dari lima rukun Islam sebagai dasar paling asasi bagi seorang muslim. Boleh jadi orang-orang yang rajin dan yakin berpuasa Ramadhan karena mereka mukmin boleh jadi juga karena ikut-ikutan atau ada malu kepada seseorang, di situlah kita mudah membedakan siapa berpuasa karenan iman dan siapa berpuasa karena insan.
Karena perintah berpuasa itu khas buat orang-orang beriman maka tidak ada orang kafir yang berpuasa Ramadhan karena mereka tidak beriman dan tidak ada orang Islam yang berpuasa Ramadhan kecuali mereka sudah pasti seorang mukmin. Ketika ukuran beriman itu kita ukur dengan makna ayat-ayat di atas tadi maka lumayan sulit kita peroleh seorang mukmin dalam kehidupan ini, yang banyak bersama kita adalah orang Islam.
Tidak otomatis orang Islam itu beriman tetapi sudah otomatis seorang mukmin itu orang Islam. Dengan demikian, selain orang Islam apa saja agama mereka adalah orang kafir dan tidak ada tempat tersangkut iman pada diri orang kafir.
Kedua, perintah yang sama untuk orang-orang sebelum kita. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak memerintahkan ummat Islam saja berpuasa wajib melainkan sudah diperintahkan juga kepada orang-orang sebelum datangnya orang Islam di bumi ini selaras dengan hadis dari Ibnu Umar: shiyamu Ramadhana katabahullahu alal umami qablakum (puasa Ramadhan telah diwajibkan oleh Allah kepada ummat sebelum ummat Islam). Dalil tersebut menjadi bukti bahwa Allah tidak membebani ummat Islam saja dengan puasa Ramadhan melainkan telah duluan Allah wajibkan kepada orang-orang sebelumnya.
Makanya tidak ada hal dan tidak ada hak bagi seorang yang membenci puasa Ramadhan untuk menyalahkan puasa tersebut dengan dalih melanggar HAM, dengan alasan mengganggu kesehatan atau memberatkan ummat Islam. Justru dengan berpuasa Ramadhan dengan tepat sasaran dan tepat aturan mereka menjadi sehat, menjadi disiplin dan menjadi berkepribadian.
Kewajiban yang Allah berikan itu sebuah keadilan, hukum yang Allah wajibkan itu sebuah kemuslihatan, larangan yang Allah larang itu adalah bencana dan kemudharatan. Oleh karenanya orang beriman itulah yang ikhlas berpuasa Ramadhan dan tidak mempersoalkan perintah tuhan.
Ketiga, tangguhan gelar muttaqin. Kalam Allah: la’allakum tattaqun merupakan tangguhan gelar taqwa yang Allah berikan kepada seseorang kita yang rajin dan benar dalam menunaikan ibadah puasa. Muttaqin itu bukan orang Islam apalagi orang kafir dan tidak semua manusia menjadi muttaqin (orang bertaqwa), mengikut Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 133 dan 134:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Orang bertaqwa itu di antaranya adalah orang-orang yang murah hati, tidak kikir baik dalam kondisi mudah maupun dalam keadaan susah, orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan orang-orang yang suka mema’afkan orang lain. Ketika semua itu menjadi bahagian dari kebaikan maka Allah suka kepada orang-orang semisal itu yang identik dengan orang muttaqin, kepada orang muttaqin itu Allah berikan kemudahan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
Firman Allah, artinya: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah akan berikan jalan keluar kepadanya, dan memberikan rizki dari arah yang tidak diduga” (QS Thalaq: 2-3).
Dalam surah An-Nisak ayat 13 Allah berfirman: (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.
Ketika melangkah menuju ke bulan Ramadhan lalu berpuasa penuh di dalamnya secara keimanan dan keikhlasan, maka tiada lain balasan Allah kecuali ampunan dari dosa-dosa masa lalu (man shama Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu min zanbih). Dari itu pula berpuasa Ramadhan itu harus dimulai dengan keimanan, dilaksanakan juga dengan keimanan dan disudahi juga dengan kemimanan pula.
Dengan demikian, kita sudah menunaikan kewajiban puasa Ramadhan dengan sebenarnya karena ia kewajiban yang harus dilaksanakan, yang kewajiban semisal itu telah duluan Allah wajibkan kepada orang-orang terdahulu maka jadilah seorang muslim itu seorang yang muttaqin dalam bingkai keimanan.
Editor: Sayed M. Husen

0 facebook:
Post a Comment