Oleh: Ir. Faizal Adriansyah, M.Si
Dosen Luar Biasa Teknik Geologi USK dan Widyaiswara Ahli Utama LAN RI
Ramadan adalah bulan yang agung dan penuh kemuliaan, salah satu sebabnya karena Allah telah memilih bulan Ramadan sebagai bulan diturunkan Al Qur’an untuk pertama kali sebagaimana firman Allah dalam surah Al Baqarah ayat 185 “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”
Keberadaan Al Qur’an ditengah-tengah kehidupan umat manusia, semenjak diturunkan Allah kepada Nabinya yang ummi Muhammad SAW, telah memasuki usia 15 abad. Selama ini Al Qur’an telah memperlihatkan sinar kebenarannya yang tiada pernah padam. Al Qur’an adalah satu-satunya kitab suci diatas muka bumi ini yang dapat dihafal dengan sempurna, sehingga melalui para penghafal Al Qur’an yang tersebar di seluruh penjuru dunia, segala usaha musuh-musuh Islam untuk menyelewengkan ayat-ayat Al Qur’an dengan mudah diketahui. Al Qur’an 15 abad yang lalu dan Al Qur’an yang ada didepan kita sekarang adalah kitab yang sama yang tidak pernah berubah sedikitpun. Kemurnian dan keontentikan Al Qur’an ini merupakan jaminan Allah sebagaimana tertera dalam surah Al Hijr ayat 9 “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”
Al Qur’an adalah mukjizat yang bersifat universal, berlaku sepanjang masa. Berbeda dengan jenis mukjizat lainnya yang bersifat temporal, yang hanya dapat dilihat dan disaksikan oleh umat yang hidup sezaman dengan rasul yang bersangkutan. Al Quran sudah teruji 15 abad berada didalam ruang dan waktu sejarah manusia yang terus berubah, namun Al Quran selalu relevan dan hadir dalam semua zaman, bahkan Al Quran banyak menjawab persoalan zaman hingga abad ini. Al Qur’an adalah mukjizat intelensia, Al Qur’an menantang akal dan nalar manusia untuk memikirkannya.
Ayat Al Qur’an yang pertama turun surah Al Alaq ayat 1 sampai 5 memiliki nilai tauhid yang mendalam disamping itu ayat ini memberi pesan kebangkitan peradaban lewat media membaca. Makna iqra sungguh sangat luas tidak hanya membatasi membaca yang tertulis saja tetapi juga membaca fenomena alam semesta. Bahkan para ulama menyebutkan “iqra” mencakup seluruh aktifitas keilmuan yang dikembangkan oleh manusia, seperti riset, uji coba, hingga melahirkan temuan ilmiah.
Obyek Ilmu Pengetahuan dalam Al Qur’an sangatlah luas meliputi apa yang ada dilangit dan dibumi, Allah berfirman dalam surah Yunus ayat 5 Katakanlah, "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!" Terkadang Allah menyebut nama salah satu obyek dalam firmanNya, hal ini untuk memberi contoh tentang apa yang perlu dipelajari. Misalnya Surah Al Ghasiyah ayat 17 “Apakah tidak kamu perhatikan bagaimana proses kejadian unta”. Tidaklah berarti hanya unta saja yang kita pelajari yang lain tidak perlu. Unta disini hanyalah sebagai pengenalan saja dari perlunya mempelajari berbagai ilmu tentang makhluk hidup. Saat ini manusia telah mampu mengklasifikasi hampir satu juta jenis binatang yang terdiri dari 800.000 jenis serangga, 21.000 jenis ikan, 86.000 jenis burung dan 4.000 jenis mamalia. Obyek kajian keilmuan mulai dari mahluk terkecil hingga mahluk sebesar ikan paus menjadi bagian dari perintah Al Quran untuk dikaji.
Penunjukan objek studi dalam Al Qur’an bersifat universal, meliputi berbagai ruang dan waktu. Klasifikasi ilmu yang saat ini kita kenal seperti fisika, kimia, matematika, metalurgi, mineralogi, biologi, zoologi, biokimia, astronomi, geologi, botani, hukum ekonomi, filsafat dan seterusnya tentulah akan berkembang terus dimasa depan. Al Qur’an telah menunjukkan kemukjizatannya yang luar biasa bahkan semua disiplin ilmu tersebut disentuh oleh Al Qur’an. Dalam perkembangan akhir-akhir ini dunia telah mengenal ilmu tentang kajian masa depan yang tersebut “futurology”.
Masalah ini bagi Al Qur’an bukanlah hal asing, karena ilmu proyeksi masa depan ini sendiri telah diungkapkan Allah diantaranya dalam kisah Nabi Yusuf yang mampu menyelamatkan kerajaan Mesir dari bencana kekeringan dan kelaparan dengan proyeksi apa yang terjadi dimasa depan sehingga Nabi Yusuf bisa menyiapkan grand desain perencanaan dengan sangat tepat.
Apa yang diungkapkan Al Qur’an tentang ilmu pengetahuan memang bersifat global/umum dan tidak rinci, karena Al Quran bukanlah kitab sains yang hanya bisa dibaca oleh kalangan ilmuwan saja. Tapi Al Quran adalah kitab hidayah (hudallinas), yang bisa dibaca oleh siapapun. Petunjuk Al Quran Allah berikan kepada siapapun yang menjadikan Al Qur’an panduan dalam hidupnya. Namun demikian apa yang dikemukakan Al Qur’an sangatlah menyentuh prinsip dasar keilmuan. Sebagai contoh ketika Al Qur’an berbicara tentang kejadian alam semesta sebagai mana dalam surah Al Anbiya ayat 30 “Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya, dahulu menyatu, kemudian Kami memisahkan keduanya dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air? Maka, tidakkah mereka beriman?“
Apa yang diungkapkan Al Qur’an ini sejalan dengan temuan sains yang terkenal dengan teori “Big Bang”. Demikian juga dengan pandangan para astofisika tentang langit, mereka menyatakan langit terus berkembang atau meluas seakan seperti sebuah balon yang ditiup semakin lama membesar. Sehingga tidak ada ilmuan astrofisika yang berani memastikan berapa sesungguhnya luas langit? Perkembangan ilmu astrofisika ini sejalan dengan informasi Al Qur’an dalam surah Az Zariat ayat 47 “Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya.”
Keluasan ilmu yang dikandung oleh Al Qur’an tiadalah terbatas, setiap ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu dipersilahkan mengkaji isinya. Semakin banyak ilmuwan yang terlibat dalam pengkaji isi kandungan Al Qur’an, cahaya kebenarannya akan semakin memancar keseluruh penjuru dunia sebagaimana firman Allah dalam surah Fussilat ayat 53 “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
Sudah lama umat Islam terjebak dalam pendikotomian ilmu agama dan ilmu umum/sains. Seakan-akan sains bukanlah ilmu agama sehingga bisa diabaikan bahkan lebih ekstrim lagi ditinggalkan. Keinginan musuh-musuh Islam memang demikian, mereka ingin umat Islam lemah dan tidak berdaya. Rasulullah pernah memperingatkan dalam sabdanya “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. Maka seseorang bertanya ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” (Bahkan kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih mengapung). Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menimpakan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn. Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?” Nabi shallallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR. Abu Dawud).

0 facebook:
Post a Comment