Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Kita hidup di era di mana informasi berada dalam genggaman. Gawai yang kita miliki bisa menjadi pintu menuju perpustakaan dunia atau justru menjadi jurang yang membuat waktu berharga kita terbuang percuma. Di tengah suasana Ramadhan 2026 yang penuh berkah, tantangan terbesar bagi seorang pelajar dan pendidik adalah bagaimana menempatkan teknologi sebagai pelayan ilmu, bukan sebagai tuan yang memperbudak perhatian kita.

Islam tidak pernah memusuhi teknologi. Sebaliknya, Islam mendorong ummatnya untuk menggunakan segala wasilah (sarana) demi kemashlahatan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Jatsiyah ayat 13: 

"Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." 

Ayat ini menegaskan bahwa segala ciptaan dan penemuan manusia, termasuk teknologi digital, adalah sarana yang ditundukkan untuk kepentingan manusia agar mereka berpikir dan bersyukur.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya" (HR. Muslim). Dalam konteks digital, hadits ini memberikan motivasi luar biasa. Satu unggahan yang berisi ilmu bermanfaat, satu aplikasi Al-Qur'an yang memudahkan orang tadarrus, atau satu video edukasi yang meluruskan kesalahpahaman, dapat menjadi ladang amal jariyah yang terus mengalir bagi pembuatnya.

Namun, teknologi bagaikan pedang bermata dua. Di bulan puasa, saat kita dilatih untuk menahan diri, kita juga ditantang untuk melakukan diet digital. Bijak berteknologi berarti mampu menyaring mana informasi yang valid dan mana yang sekadar hoaks. Sering kali, semangat belajar kita terganggu oleh notifikasi media sosial yang tidak perlu. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mengatur ulang prioritas penggunaan gawai kita. Alih-alih menghabiskan waktu berjam-jam untuk hiburan kosong, gunakanlah platform digital untuk mengakses kuliah agama, membaca jurnal ilmiah, atau mempelajari keterampilan baru yang bermanfaat bagi umat. 

Sebagai dasar etika dalam menerima informasi digital, Allah SWT menjelaskan dalam Surah Al-Isra Ayat 36: 

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya".

Pendidikan di era modern tidak lagi terbatas pada dinding kelas. Teknologi telah meruntuhkan batasan ruang dan waktu. Seorang santri di pelosok desa kini bisa mengakses tafsir ulama besar dari Timur Tengah melalui perpustakaan digital. Seorang mahasiswa dapat berdiskusi tentang sains dan iman melalui forum daring. Inilah berkah teknologi yang harus kita optimalkan untuk meningkatkan derajat intelektualitas ummat.

Mari kita jadikan gawai kita sebagai saksi kebaikan di hari akhir kelak. Gunakanlah teknologi untuk mempererat silaturahmi, menyebarkan kedamaian, dan memperdalam pemahaman ilmu. Dengan menjadikan teknologi sebagai sarana dakwah dan edukasi, kita telah menjalankan amanah sebagai hamba yang berpikir dan beradab di tengah kemajuan zaman.

SHARE :

0 facebook:

 
Top