LAMURIONLINE.COM | ACEH BESAR - Umat Islam seharusnya menjadikan Ramadhan sebagai momentum menghidupkan mata hati (bashirah) agar ibadah tidak sekadar rutinitas, tetapi benar-benar melahirkan kesadaran spiritual.
Ulama muda, Abu Syukri Daud Pango, menyampaikan hal itu Ceramah Subuh di Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop, Ahad, 11 Ramadhan 1447 H bertepatan dengan 1 Maret 2026.
Menurutnya, dalam setiap ibadah hendaknya seseorang berupaya menghidupkan diri dan membuka mata hati. Ibadah yang dilakukan tanpa kehadiran hati hanya akan menjadi gerakan lahiriah tanpa makna yang mendalam.
Abu Syukri menjelaskan, salah satu cara menghidupkan hati dengan meraih peringatan (mau’izah). Namun, mau’izah tidak akan memberi dampak bila hati tidak siap menerimanya.
Ia memaparkan tiga langkah dapat dilakukan agar nasihat dapat membekas dalam jiwa, pertama, menumbuhkan rasa hajat (kebutuhan) terhadap mau’izah. Seseorang harus merasa bahwa dirinya membutuhkan nasihat, bukan merasa paling benar atau paling baik.
Kedua, tidak membandingkan diri dengan pemberi mau’izah. “Jangan sibuk menilai siapa yang menyampaikan, tetapi fokuslah pada isi nasihat yang disampaikan,” pesannya.
Ketiga, menghadirkan dalam jiwa makna wa’ad (janji pahala) dan wa’id (ancaman siksa). Kesadaran bahwa setiap amal akan mendapat balasan di akhirat akan menguatkan pengaruh nasihat dalam diri seseorang.
Selain melalui mau’izah, Abu Syukri menegaskan, cara lain memperoleh peringatan dengan terbukanya mata hati (bashirah). Mata hati yang terang akan membuat seseorang mampu menilai realitas kehidupan dengan jernih.
Ia menyebutkan tiga syarat agar mata hati menjadi terang, pertama, cepat mengambil kesimpulan dalam membedakan yang baik dan yang buruk. Kedua, cepat menyadari apakah hari yang dijalani merupakan hari laba atau hari rugi di sisi Allah. Ketiga, merdeka dari tawanan syahwat, yakni tidak diperbudak oleh hawa nafsu.
Menurutnya, ketika mata hati tertutup, seseorang hanya melihat dunia dalam pandangannya dan melupakan akhirat. Namun ketika mata hati terbuka, setiap peristiwa dunia justru mengingatkan pada kehidupan akhirat.
“Ramadhan kesempatan terbaik menghidupkan mata hati. Di bulan ini, suasana ibadah, puasa, dan tilawah menjadi sarana membersihkan jiwa dari dominasi syahwat,” ujarnya. (Saifuddin A Rasyid/Sayed M. Husen)

0 facebook:
Post a Comment