Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi dan Keberkahan
Kebersihan merupakan ajaran Islam. Agama ini tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt, tetapi juga menuntun manusia dalam menjaga kualitas hidup, termasuk kebersihan diri dan lingkungan. Islam agama yang suci dan mencintai kesucian. Karena itu, hidup bersih dan sehat merupakan ciri khas seorang mukmin.
Rasulullah saw bersabda, “Kebersihan adalah bagian dari iman.” Hadis ini menegaskan kebersihan bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual.
Kebersihan menghadirkan ketenangan batin. Lingkungan yang bersih menciptakan suasana yang nyaman, sehingga ibadah dapat dilakukan dengan lebih khusyuk. Dalam Islam, ibadah tidak dapat dipisahkan dari kesucian, baik lahir maupun batin.
Oleh karena itu, menjaga kebersihan sejatinya merupkan bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kebersihan cerminan jiwa orang-orang yang bertakwa.
Realitas di Aceh menunjukkan kondisi memprihatinkan. Persoalan sampah masih menjadi masalah serius. Sampah berserakan di pinggir jalan, jembatan, lingkungan rumah warga, serta di sekitar lembaga pendidikan. Kondisi ini tidak hanya merusak keindahan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat.
Dalam Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman (18/4/2026), Pimimpin Redaksi Gema Baiturrahman, Juniazi Yahya, menyampaikan persoalan sampah belum tertangani optimal. Sistem pengelolaan sampah masih lemah dan kesadaran masyarakat juga belum terbentuk dengan baik. Padahal persoalan sampah bukan hanya isu lokal, tetapi telah menjadi masalah nasional, bahkan global.
Karena itu, penanganan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Seluruh elemen masyarakat mesti terlibat aktif. Komunitas masjid, madrasah, sekolah, dayah, perkantoran, serta lingkungan keluarga memiliki peran strategis. Kesadaran membuang sampah pada tempatnya harus ditanamkan sebagai bagian dari budaya hidup, bukan sekadar kewajiban.
Perubahan prilaku harus dimulai dari individu dan keluarga. Rumah tangga merupakan madrasah pertama dalam membentuk karakter anak. Kebiasaan hidup bersih yang ditanamkan sejak dini akan berdampak pada lingkungan yang lebih luas. Orang tua tidak cukup hanya memberi perintah, tetapi harus memberi teladan. Anak-anak akan lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Sayangnya, masih banyak perilaku yang mencerminkan rendahnya kesadaran itu. Tidak jarang kita melihat orang dengan mudah membuang sampah dari kendaraan ke pinggir jalan, meskipun telah terpampang jelas tulisan “Dilarang Buang Sampah di Sini.” Sikap abai ini menunjukkan persoalan utama bukan sekadar kurangnya fasilitas, tetapi lemahnya kesadaran dan tanggung jawab.
Islam memberikan panduan tentang pentingnya kebersihan. Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya diinternalisasi. Membuang sampah sembarangan bahkan terkesan menjadi kebiasaan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ajaran dan perilaku.
Upaya membangun budaya hidup bersih harus dilakukan terpadu. Pemerintah perlu memperkuat sistem pengelolaan sampah, menyediakan fasilitas, dan memastikan pengawasan berkelanjutan. Di sisi lain, masyarakat harus berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Dalam kesempatan yang sama, Sayed Muhammad Husen, menekankan pentingnya strategi kolektif dalam membangun kesadaran hidup bersih. Gerakan ini harus dimulai dari level paling bawah, seperti lingkungan masjid, dayah, dan komunitas lainya. Penyediaan tempat sampah, edukasi berkelanjutan, dan dukungan anggaran yang memadai menjadi langkah awal yang efektif.
Sebagai daerah yang dikenal dengan nilai-nilai keislaman, Aceh semestinya menjadi contoh dalam menjaga kebersihan. Orang beriman tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga menjaga lingkungan sebagai bagian dari amanah. Program pemerintah dalam penanganan sampah harus didukung oleh semua pihak. Tanpa partisipasi masyarakat, program sebaik apa pun tidak akan berjalan optimal.
Sinergi antara orang tua dan guru sangat penting. Apa yang diajarkan di sekolah harus diperkuat di rumah. Pendidikan formal dan informal mesti berjalan seiring agar melahirkan generasi yang peduli terhadap kebersihan. Demikian pula antara pemerintah dan masyarakat, perlu adanya kerja sama untuk mewujudkan lingkungan yang bersih.
Pengalaman masa lalu menunjukkan, berbagai program pengelolaan sampah sering kali tidak berkelanjutan karena lemahnya pengawasan dan kurangnya komitmen. Hal ini menjadi pelajaran bahwa keberhasilan suatu program tidak hanya bergantung pada perencanaan, tetapi juga pada konsistensi pelaksanaannya.
Karena itu, mewujudkan masyarakat yang peduli kebersihan membutuhkan keseriusan dalam membangun karakter. Pembangunan tidak hanya berorientasi pada fisik, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan perilaku. Perubahan budaya hidup bersih adalah bagian dari pembangunan sumber daya manusia.
Hidup bersih bukan hanya kebutuhan, tetapi bagian dari ibadah. Dengan menjaga kebersihan, kita dapat menciptakan lingkungan yang sehat, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebab dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat dan dalam lingkungan yang bersih terwujudlah masyarakat yang beradab dan berbudaya.
Saatnya kita mulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil, untuk mewujudkan perubahan besar: menjadikan hidup bersih dari sampah sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Swt.*

0 facebook:
Post a Comment