Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku "Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan"
Iduladha adalah hari besar bagi umat Islam untuk meraih kemenangan sejati. Hari raya ini menanamkan keikhlasan beramal melalui ketulusan finansial, yaitu mengorbankan harta benda lewat penyembelihan hewan kurban untuk dibagikan kepada fakir miskin. Tujuannya mulia: mengikis kesenjangan sosial dan menciptakan keharmonisan hidup antar sesama muslim.
Umat Islam memiliki dua hari raya (Ied) dalam satu tahun, yaitu Idulfitri dan Iduladha. Keduanya hari kemenangan dan keberkahan bagi orang-orang beriman; hari bergembira dengan limpahan ampunan, kebaikan, dan kesempatan bersilaturahmi dan beribadah sosial. Tiada hari yang lebih indah selain hari menggapai kemenangan. Dua hari raya ini selalu disambut dengan penuh suka cita, yang masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri.
Dalam realitasnya, Idulfitri sering kali terlihat lebih meriah karena beriringan dengan selesainya ibadah puasa Ramadan. Namun meskipun Iduladha terkadang terkesan lebih sunyi di lingkungan rumah, kesunyian itu justru mencerminkan keikhlasan dalam diam, beramal secara sembunyi-sembunyi tanpa riya. Kesibukan melaksanakan ibadah kurban membuat suasana terasa khusyuk, sepi dari hura-hura, namun sangat mendalam secara makna.
Tiga Keistimewaan Iduladha
Dalam khutbah Iduladha di Masjid Baitul Kiram, Darul Kamal, Aceh Besar (27/5/2026), Teungku 'Aidil menyampaikan, di antara tanda kelebihan hari raya Iduladha adanya tiga rangkaian ibadah besar:
Pertama, pelaksanaan ibadah haji di tanah suci. Iduladha bertepatan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji, yang merupakan rukun Islam kelima. Suatu ketaatan yang diteruskan sejak masa kenabian Ibrahim Alaihis Salam (as). Beliau meninggikan fondasi Ka’bah Baitullah, beribadah tawaf mengelilinginya, kemudian menyeru umat manusia untuk menunaikan ibadah haji.
Kedua, syariat melontar jumrah. Dalam pelaksanaan ibadah haji, terdapat amalan wajib yaitu melontar jumrah. Sejarah membuktikan bahwa ketika keluarga Nabi Ibrahim digoda oleh iblis yang ingin menghalangi perintah penyembelihan Ismail, Nabi Ibrahim secara tegas mengusir iblis tersebut dengan melontarkan batu-batu kerikil. Beliau berzikir menyebut nama Allah agar terlindungi dari rayuan makhluk laknatullah. Peristiwa heroik inilah yang kini menjadi rangkaian amalan haji bernama melontar jumrah.
Ketiga, pelaksanaan ibadah kurban. Rangkaian ketiga ibadah kurban. Setelah melewati masa sulit dari godaan iblis, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail meneruskan ketaatan mereka. Ketaatan ini tentu didampingi oleh doa sang ibunda, Siti Hajar, seorang wanita saleha yang patut dijadikan teladan. Ketabahannya menghadapi ujian berat ini ia ikhlaskan dengan tetesan air mata kepasrahan kepada Allah.
Ujian Keimanan dan Keberkahan
Menyembelih anak kandung suatu ibadah luar biasa yang membutuhkan keikhlasan dan ketulusan hati yang paling dalam. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih putra semata wayangnya saat itu, padahal kehadiran sang anak telah dinanti selama puluhan tahun. Namun, demi mendekatkan diri kepada Allah, Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah-Nya.
Allah menguji keimanan keluarga Nabi Ibrahim membuktikan cinta sejati mereka kepada-Nya. Setelah kelulusan iman itu terbukti, Allah Swt menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba (kibas) sebagai ganti nyawa putra tercintanya. Hingga sekarang, peristiwa ini diabadikan menjadi ibadah mulia yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw.
Sebuah pengorbanan besar telah dicontohkan oleh dua orang rasul, yaitu Nabiullah Ibrahim as dan putranya Nabiullah Ismail as. Peristiwa luar biasa ini menggetarkan hati orang-orang beriman. Sungguh beruntung Ibunda Hajar yang diapit oleh dua nabi sekaligus, suami dan anaknya, dalam lingkaran ketaatan yang agung.
Berdasarkan rentetan peristiwa bersejarah itu, Iduladha memiliki hikmah dan kemuliaan yang sangat besar. Oleh karena itu, pada hari raya Iduladha, umat Islam disunahkan mengumandangkan takbir lebih lama, yaitu selama empat hari: pada hari Nahar (10 Zulhijah) dan tiga hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah). Hari-hari tersebut adalah hari yang diharamkan berpuasa, agar umat Islam dapat menikmati indahnya kebersamaan dan keberkahan ibadah kurban.*

0 facebook:
Post a Comment