Oleh: Hj. Supiati, S. Ag., M. Sos

Sekretaris PD IPARI Banda Aceh

*Refleksi Filantropi Islam dan Tantangan Kepedulian Sosial Berkelanjutan


Setiap Idul Adha, ada pemandangan yang hampir selalu kita temui di berbagai daerah: proses penyembelihan hewan qurban berlangsung sejak pagi, lalu dilanjutkan dengan pembagian daging kepada masyarakat. Dalam waktu yang relatif singkat, daging tersebut sudah berpindah tangan dan habis dibagikan.

Secara umum, berdasarkan pola pelaksanaan qurban di berbagai wilayah Indonesia, distribusi daging qurban biasanya selesai dalam waktu 1–2 hari setelah penyembelihan, bahkan di beberapa tempat bisa selesai hanya dalam hitungan jam karena sistem pembagian yang sudah tertata.

Namun, jika kita menengok lebih jauh ke belakang, ibadah qurban bukanlah sekadar tradisi tahunan yang berdiri sendiri. Ia memiliki akar sejarah yang sangat dalam, bermula dari peristiwa agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Peristiwa ini bukan hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi tentang ketundukan total seorang hamba kepada perintah Allah, sebuah simbol pengorbanan yang melampaui logika manusia.

Sejak saat itu, qurban menjadi warisan spiritual yang terus hidup dalam peradaban Islam. Ia tidak hanya dipraktikkan sebagai ritual, tetapi juga sebagai pengingat bahwa keimanan selalu menuntut keberanian untuk melepaskan sesuatu yang kita cintai demi ketaatan kepada Allah.

Dalam perkembangan sejarah umat Islam, qurban juga tidak pernah berdiri sendiri sebagai ibadah individual. Ia selalu membawa misi sosial: membangun solidaritas, memperkuat kepedulian, dan memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dalam menikmati rezeki Allah.

Namun di tengah perjalanan panjang sejarah itu, muncul satu realitas sosial yang menarik untuk direnungkan:

mengapa daging qurban cepat habis, tetapi semangat kepedulian sosial yang menyertainya tidak selalu bertahan lama?

Qurban: Lebih dari Sekadar Daging

Dalam pandangan Islam, qurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan. Ia adalah ibadah yang sarat makna sosial dan spiritual.

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu…”

(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini memberi pesan yang sangat dalam: yang Allah nilai bukanlah apa yang tampak secara fisik, tetapi nilai ketakwaan yang hidup di baliknya.

Dengan kata lain, qurban tidak berhenti pada daging yang dibagikan, tetapi seharusnya berlanjut menjadi kesadaran sosial yang membekas dalam kehidupan sehari-hari.


Fenomena Sosial: Filantropi yang Bersifat Musiman

Jika kita melihat realitas sosial di masyarakat, qurban sering kali menjadi puncak aktivitas berbagi dalam satu tahun. Momentum ini sangat kuat, penuh semangat, dan melibatkan banyak orang.

Namun setelah Idul Adha berlalu, pola tersebut cenderung berubah. Aktivitas berbagi yang semula ramai, perlahan kembali ke rutinitas masing-masing.

Fenomena ini menunjukkan adanya kecenderungan filantropi musiman, yaitu kepedulian sosial yang aktif hanya pada momen tertentu, bukan menjadi bagian dari gaya hidup berkelanjutan.

Padahal dalam Islam, kepedulian sosial tidak dibatasi oleh waktu. Al-Qur’an menggambarkan karakter orang beriman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”

(QS. Al-Insan: 8)

Ayat ini tidak menyebut “hanya saat Idul Adha”, tetapi menunjukkan bahwa kepedulian adalah karakter, bukan acara tahunan.

Mengapa Kepedulian Cepat Hilang?

Ada beberapa faktor sosial yang dapat menjelaskan fenomena ini:

Pertama, qurban masih dipahami sebagai kegiatan seremonial tahunan.

Banyak masyarakat memaknai qurban sebagai ritual yang selesai setelah daging dibagikan, bukan sebagai proses pembentukan kepedulian sosial jangka panjang.

Kedua, belum kuatnya keberlanjutan program sosial pasca qurban.

Setelah Idul Adha, tidak banyak gerakan lanjutan yang menjaga semangat berbagi tetap hidup.

Ketiga, lemahnya internalisasi nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Makna qurban sebagai latihan mengikis ego dan menumbuhkan empati belum sepenuhnya menjadi kesadaran kolektif.

Makna yang Seharusnya Tertinggal

Jika daging memang harus habis karena memang untuk dibagikan dan dikonsumsi, maka ada satu hal yang seharusnya tidak ikut habis, yaitu: rasa peduli.

Qurban seharusnya meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada sekadar momen Idul Adha, yaitu:

a. kepekaan terhadap tetangga yang kesulitan

b. kesadaran terhadap ketimpangan sosial

c. dan kebiasaan berbagi yang terus hidup

Karena esensi qurban bukan hanya “memberi daging”, tetapi mendidik hati agar tidak mati rasa terhadap penderitaan orang lain.

Peran Penyuluh Agama: Menjaga Api Kepedulian Tetap Hidup

Di sinilah peran penyuluh agama menjadi sangat penting. Qurban tidak boleh berhenti sebagai informasi tahunan, tetapi harus menjadi materi pembinaan yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

1. Menghidupkan edukasi makna qurban di majelis taklim

Qurban perlu dijelaskan bukan hanya dari sisi fiqh, tetapi juga dari sisi sosial dan kemanusiaan.

2. Mendorong gerakan sedekah berkelanjutan setelah Idul Adha

Misalnya sedekah mingguan atau bulanan sebagai lanjutan semangat qurban.

3. Membentuk kesadaran empati sosial dalam keluarga

Agar nilai berbagi tidak hanya muncul saat hari besar, tetapi menjadi budaya rumah tangga.

Penutup: Yang Harusnya Tidak Ikut Habis

Daging qurban memang akan selalu habis dalam hitungan hari. Itu adalah bagian dari mekanisme ibadah itu sendiri. Namun yang menjadi harapan utama dalam Islam adalah agar nilai qurban tidak ikut habis bersama dagingnya.

Allah tidak sedang meminta manusia untuk sekadar menyembelih hewan, tetapi membentuk manusia yang lebih peka, lebih peduli, dan lebih rendah hati terhadap sesama.

Karena pada akhirnya, qurban bukan hanya tentang apa yang kita berikan, tetapi tentang siapa kita setelah memberi itu selesai.

Jika daging cepat habis, itu wajar. Tetapi jika kepedulian juga ikut habis, maka di situlah kita perlu kembali merenung: apakah kita sudah benar-benar memahami makna qurban yang sesungguhnya?

SHARE :

0 facebook:

 
Top