Oleh: Syahrati, S.HI., M.Si.

Penyuluh Agama Islam Bireuen

Rasulullah SAW bersabda:

"Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya."

(HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan sebuah kenyataan yang sering kali luput dari perhatian kita, bahwa perjalanan seorang hamba menuju Allah bukanlah perjalanan yang selalu lurus tanpa hambatan. Ada saat-saat ketika hati begitu mudah menjalankan ketaatan, namun ada pula masa ketika seseorang masih bergulat dengan kelemahan dirinya sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sulit menemukan seseorang yang masih terjatuh dalam dosa, tetapi tetap menjaga salatnya. Ada yang masih tergelincir dalam ghibah, namun lisannya tetap basah dengan zikir. Ada yang masih berjuang meninggalkan kebiasaan buruknya, namun tidak pernah meninggalkan tahajud di sepertiga malam. Ada pula yang masih menyimpan banyak kekurangan, tetapi tetap berusaha mendekat kepada Allah melalui berbagai amal saleh.

Fenomena ini terkadang menimbulkan pertanyaan. Sebagian orang memandangnya sebagai sebuah kontradiksi. Bagaimana mungkin seseorang masih melakukan maksiat tetapi tetap rajin beribadah? Bukankah ibadah seharusnya melahirkan kesalehan yang sempurna?

Pertanyaan tersebut lahir dari keinginan yang baik, yaitu melihat kesesuaian antara ibadah dan perilaku. Namun di sisi lain, kita juga perlu memahami bahwa manusia bukanlah malaikat yang terbebas dari kesalahan. Setiap manusia memiliki medan perjuangannya masing-masing.

Rasulullah SAW bersabda: "Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi)

Hadis ini tidak mengajarkan kita untuk meremehkan dosa, tetapi mengingatkan bahwa kesalahan merupakan bagian dari kelemahan manusia. Yang menjadi pembeda bukanlah ada atau tidaknya dosa, melainkan bagaimana seseorang menyikapi dosa tersebut. Apakah ia terus berusaha memperbaiki diri atau justru menyerah dan tenggelam dalam keputusasaan.

Di sinilah letak bahaya yang sering kali tidak disadari. Terkadang dosa yang dilakukan seseorang bukanlah masalah terbesar. Yang lebih berbahaya adalah ketika dosa itu melahirkan rasa putus asa sehingga ia merasa tidak pantas lagi mendekat kepada Allah.

Bisikan itu datang dengan wajah yang tampak masuk akal. "Untuk apa aku salat jika masih sering berbuat salah?" atau, "untuk apa aku mengaji jika masih banyak dosa yang belum mampu kutinggalkan?" Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar seperti kejujuran, padahal sejatinya adalah jebakan. Bukan suara hati nurani yang mengajak memperbaiki diri, melainkan bisikan yang perlahan memutus tali antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Ketika seseorang berhenti beribadah karena merasa tidak layak, ia tidak sedang menghukum dosanya. Ia justru sedang menjauhkan dirinya dari satu-satunya pintu yang bisa membawanya keluar dari dosa itu. Seperti seseorang yang sakit lalu memilih tidak pergi ke dokter karena malu dengan kondisinya, padahal justru di situlah tempat ia seharusnya pergi. Padahal Allah SWT telah berfirman: "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."

(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini bukan sekadar penghibur. Ini adalah pernyataan tegas dari Allah bahwa tidak ada satu pun hamba yang terlalu kotor untuk kembali kepada-Nya. Yang Allah tunggu bukanlah seseorang yang sudah sempurna, melainkan seseorang yang masih mau mengetuk pintu-Nya.

Karena itu, menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah merupakan hal yang sangat penting, bahkan ketika seseorang masih berada dalam proses memperbaiki dirinya.

Ibadah dan maksiat memang tidak boleh berjalan beriringan. Namun ketika seseorang belum mampu meninggalkan seluruh maksiatnya, jangan sampai ia juga meninggalkan ibadahnya. Sebab bisa jadi salat yang terus dijaga, zikir yang terus dilantunkan, dan air mata yang jatuh dalam tahajud menjadi sebab Allah membimbingnya meninggalkan dosa sedikit demi sedikit.

Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."

(QS. Al-'Ankabut: 45). Ayat ini memberikan harapan bahwa salat memiliki kekuatan untuk membentuk dan memperbaiki diri seseorang. Proses itu mungkin tidak selalu terjadi secara instan. Tidak semua perubahan lahir dalam satu malam. Namun selama seorang hamba tetap menjaga hubungannya dengan Allah, selalu ada peluang bagi hatinya untuk terus diperbaiki.

Karena itu, keberadaan ibadah dalam diri seorang pendosa tidak boleh langsung dipandang sebagai kemunafikan. Bisa jadi justru ibadah itulah yang sedang menjadi tali yang menghubungkannya dengan Allah. Bisa jadi di balik salat yang terlihat biasa, ada penyesalan yang tidak diketahui siapa pun. Bisa jadi di balik tahajud yang sunyi, ada perjuangan panjang untuk meninggalkan dosa yang selama ini membebaninya.

Tentu saja hal ini bukan berarti dosa boleh dibiarkan atau dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Setiap Muslim tetap berkewajiban untuk menjauhi kemaksiatan dan berusaha memperbaiki dirinya. Namun perjuangan meninggalkan dosa sering kali merupakan proses yang panjang dan tidak mudah. Dalam proses itulah seseorang membutuhkan pertolongan Allah, dan salah satu jalan terdekat untuk meraih pertolongan tersebut adalah melalui ibadah. Barangkali tidak ada satu pun amal yang sia-sia di hadapan Allah. Kebaikan yang terus diusahakan hari ini mungkin menjadi sebab hadirnya kekuatan untuk meninggalkan keburukan pada hari esok.

Setiap manusia adalah musafir yang sedang menempuh perjalanan menuju Rabb-nya. Ada yang melangkah dengan cepat, ada yang tertatih, ada yang sesekali terjatuh lalu bangkit kembali. Namun selama pintu taubat masih diketuk dan hubungan dengan Allah masih dijaga, selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik daripada hari kemarin.

Maka jika hari ini kamu masih merasa berat, masih terjatuh pada kesalahan yang sama, masih berjuang dengan dosa yang terasa sulit ditinggalkan, jangan jadikan itu alasan untuk menjauh. Justru di situlah kamu paling membutuhkan Allah. Tetaplah salat meski hatimu belum sepenuhnya khusyuk. Tetaplah berzikir meski lisanmu terasa kelu. Tetaplah mengetuk, karena Allah tidak pernah menutup pintu-Nya bagi hamba yang masih mau datang.

Perubahan yang nyata jarang lahir dari satu momen dramatis. Lebih sering ia tumbuh perlahan, dari setiap ibadah yang tetap dijaga di tengah perjuangan, dari setiap air mata yang jatuh dalam diam, dan dari setiap niat kecil untuk tidak menyerah hari ini. Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya, menguatkan langkah kita dalam ketaatan, dan membimbing kita meninggalkan segala hal yang tidak diridhai-Nya.

SHARE :

0 facebook:

 
Top