Oleh: Syahrati, S. HI., M. Si.
Penyuluh Agama Islam Bireuen
Hari Arafah merupakan salah satu hari paling istimewa dalam Islam. Pada tanggal 9 Zulhijah, jutaan umat Islam yang menunaikan ibadah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf,yaitu rukun haji yang menjadi puncak perjalanan spiritual seorang muslim. Suasana Arafah yang dipenuhi lantunan doa, istighfar, dan air mata harapan sering menghadirkan rasa haru bagi umat Islam di berbagai penjuru dunia, termasuk mereka yang belum memperoleh kesempatan menjadi tamu Allah di Tanah Suci.Kerinduan kepada Baitullah adalah anugerah. Namun, belum berada di Arafah bukan berarti kehilangan kesempatan meraih kemuliaan hari tersebut. Islam menghadirkan banyak pintu kebaikan yang dapat diketuk oleh umat Islam dari mana pun mereka berada.
Salah satu amalan utama bagi muslim yang tidak sedang berhaji adalah puasa Arafah. Rasulullah SAW bersabda: "Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang." (HR. Muslim).
Hadis ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebuah ibadah yang dilakukan hanya sehari, namun memiliki keutamaan yang begitu besar. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa penghapusan dosa dalam hadis tersebut dipahami sebagai dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap membutuhkan taubat yang sungguh-sungguh.
Selain puasa, Hari Arafah juga menjadi momentum terbaik untuk memperbanyak doa. Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah." (HR. Tirmidzi).
Keutamaan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi jamaah haji yang sedang wukuf, tetapi menjadi kesempatan emas bagi seluruh umat Islam untuk memperbanyak munajat.
Dalam riwayat tentang Haji Wada’ yang terdokumentasikan secara autentik dalam Kitab Shahih Muslim melalui hadis dari sahabat Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW melaksanakan wukuf setelah matahari tergelincir hingga matahari terbenam. Setelah menunaikan salat Zuhur dan Asar secara jamak, beliau bertolak menuju tempat wukuf dan memperbanyak doa di atas kendaraan beliau hingga menjelang Magrib.
Bagi kita di Indonesia, rentang waktu wukuf tersebut bertepatan dengan waktu sore hingga malam hari. Artinya, selain memaksimalkan doa sepanjang hari ke-9 Zulhijah di tanah air, kita juga memiliki momentum emas ekstra untuk mengetuk pintu langit bersamaan dengan waktu wukuf jutaan hamba yang sedang bersimpuh di Padang Arafah.
Menariknya, kemuliaan Hari Arafah tidak datang secara sembunyi-sembunyi. Berbeda dengan Lailatul Qadar yang waktu pastinya dirahasiakan di sepuluh malam terakhir Ramadan, Hari Arafah hadir dengan waktu yang telah maklum. Tanggalnya jelas, keutamaannya tegas, dan kesempatannya terbuka lebar. Tidak ada rahasia tentang kapan Hari Arafah datang.
Ironisnya, kesempatan yang begitu benderang ini terkadang justru berlalu tanpa persiapan. Hari Arafah datang setiap tahun, tetapi tidak semua orang menyambutnya dengan gempita puasa, untaian doa terbaik, atau istighfar yang diperbanyak. Padahal, Rasulullah SAW juga mengingatkan:
"Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka selain Hari Arafah." (HR. Muslim).
Bagi mereka yang saat ini tengah merindukan Baitullah, jangan pernah berhenti berharap. Hari ini raga kita mungkin belum diizinkan berdiri di Padang Arafah, tetapi pintu rahmat Allah tetap terbuka lebar di tanah air. Sebab, pada akhir cerita, kedekatan seorang hamba dengan Sang Pencipta tidak hanya ditentukan oleh di mana tempat ia berada, melainkan oleh ketulusan hati yang berserah diri kepada-Nya.

0 facebook:
Post a Comment