Oleh: Prof. Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA

Ketua Majlis Syura Dewan Dakwah Aceh dan  Dosen Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Keureuléng Nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya merupakan salah satu terminologi Aceh yang sering terjadi dalam kehidupan umat manusia. Secara harfiah judul artikel ini dapat diartikan sebagai berikut: kereuléng bermakna mengerling atau memandang atau melihat sesuatu dengan mata yang berputar tetapi tubuh badan dan kepala tetap tegak tidak berputar. Nggang bermakna burung enggang, keu bermakna kepada, abeuek genangan air dalam kapasitas lumayan besar dan dalam yang di dalamnya hidup satwa kecil-kecil seperti kodok, ikan, ular, tarum dan seumpamanya. Kuek bermakna bangau dan paya bermakna paya juga atau rawa-rawa yang di dalamnya juga hidup satwa seperti belalang, ikan, katak, lintah dan sejenisnya.

Kalau mau diberikan arti secara terminologi maka keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya bermakna: burung elang memantau abeuek untuk mencari makan di sana, sementara burung bangau memantau paya juga mengharapan rezekinya di sana. Dalam kaitannya dengan kehidupan manusia ia bermakna; ada seseorang yang mengerling atau membuat pendekatan dengan orang lain dengan harapan mendapatkan sesuatu yang diinginkan pada orang tersebut seperti berharap dapat jabatan, berharap dapat menjadi menantu, berharap dapat uang, berharap dapat kedudukan, berharap pangkat dan status sosial dalam kehidupan.

Sebahagian orang yang menginginkan sesuatu pada orang lain tetapi tidak berani bicara terus terang dan transparan karena malu atau tidak enak perasaan, maka konpensasi yang dibangun adalah membuat pendekatan dengan menjinakkan diri kepada orang tersebut, sehingga ia mendapatkan perhatian khusus darinya dan memperoleh sesuatu yang diinginkan dari orang tersebut. Prilaku semacam itu dalam terminologi Aceh disebut keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya. 

Contoh Barang 

Pada zaman Rasulullah saw pernah terjadi satu peristiwa menarik berkaitan dengan hijrahnya para sahabat Nabi dari Makkah ke Yasrib. Tatkala itu ada seorang pemuda yang sedang mencintai seorang gadis cantik bernama Ummu Qais. Pemuda tersebut berkeinginan menikahi Ummu Qais, namun Ummul Qais memberi syarat baru mau menikah dengan pemuda tersebut kalau ia mau berhijrah dari Makkah ke Yasrib. Sipemuda keberatan dan tidak mau berhijrah ke Yasrib dan ia mau menetap di Makkah, karena ia tidak mau berhijrah maka Ummu Qais terus saja berhijrah ke Yasrib. Ketika sipemuda mengetahui bahwa orang yang dicintai itu sudah berhijrah maka ia pun segera berhijrah ke sana mengikuti Ummu Qais. 

Qisah ini yang menjadi asbabul wurud hadis pertama dalam kitab Hadis Arba’in Imam Nawawi: Sesungguhnya setiap perbuatan itu didasarkan kepada niat, dan setiap orang hanya berbuat sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya demi kepentingan duniawi atau mencari wanita untuk dinikahi, maka hijrahnya untuk apa yang diniatkan tersebut. 

Hadits tersebut menjadi salah satu dalil mengabadikan ungkapan para éndatu orang Aceh dahulu dan dalam perspektif ke-Aceh-an itulah namanya; keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya. 

Dalam kisah inspiratif lain masih pada zaman Rasulullah saw ada seorang perempuan janda bernama Ar-Rumaisha Ummu Sulaim binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Ḥaram al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah, pupuler dengan nama panggilannya Ummu Sulaim. Sebagai sahabat perempuan Rasulullah saw yang berkepribadian luhur, cerdas, teguh dalam iman, serta mulia akhlaknya. Ia juga memiliki kecantikan yang tiada tara, tidak hanya tampak pada rupa, tetapi juga tercermin dalam kejernihan sikap dan keteguhan prinsip hidupnya.

Ummu Sulaim merupakan perempuan janda akibat cerai mati dengan suami pertamanya Malik bin Nadhr yang memiliki seorang putera bernama Anas bin Malik yang dititipkan Ummu Sulaim kepada Rasulullah saw yang kemudian menjadi salah seorang shahabat perawi hadits terkemuka yang mampu menghafal sekitar 2.286 hadits. Sebagai wanita yang berkharakter Islam sangat tinggi Ummu Sulaim dalam keadaan janda muda menjadi pantauan dan incaran para lelaki di Madinah.

Seorang hartawan terkenal di Madinah bernama Abu Thalhah Al-Anshari merupakan salah seorang yang paling menyukai Ummu Sulaim dan hampir setiap hari Abu Thalhah mencari thau tentang kondisi Ummu Sulaim, di mana ia berada, apa yang sedang ia lakukan, bagaimana cara menjumpainya. Semenjak mengenal Ummu Sulaim pikiran Abu Thalhah terus dibayang-bayangi oleh sosok muslimah yang berkharakter islami tersebut sehingga Abu Thalhah memberanikan diri menawarkan Ummu Sulaim menjadi istrinya dengan mahar super bebas apa saja yang dimintakan Ummu Sulaim.

Sebagai muslimah berkharakter tinggi Ummu Sulaim menolak mentah-mentah semua itu karena Abu Thalhah seorang kafir penyembah berhala yang belum memeluk Islam. Namun Abu Thalhah tidak tinggal diam, siang malam memikirkan cara memiliki Ummu Sulaim tanpa berpindah agamanya. Sayang seribu kali sayang upaya Abu Thalhah menguasai Ummu Sulaim gagal dan berceceran di tengah jalan. Ummu Sulaim tetap menjadi Ummu Sulaim yang tidak mampu ditaklukkan kekokohan imannya dengan harta benda dan kekayaan Abu Thalhah.

Setelah mengalami jalan buntu menaklukkan iman Ummu Sulaim yang tidak lapuk di hujan dan tidak lekang di panas akhirnya demi untuk memiliki seorang Ummu Sulaim Abu Thalhah menyerah dan menganut Islam dengan mengucapkan dua kalimah syahadah hanya semata-mata untuk memiliki seorang Ummu Sulaim. Kisah perjalan cinta ibarat orang betepuk sebelah tangan itu akhirnya menyatu dan yang diidamkan akhirnya ketemu juga walaupun harus melalui jalan yang sangat penuh liku-liku. Kisah cinta Abu Thalhah Al-Anshari  kepada Ummu Sulaim tersebut menjadi dalil lain bagi peninggalan éndatu orang Aceh yang terkenal dengan: keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya. 

Ketika seorang pemuda berteman akrab dengan seorang pemuda lain yang mempunyai adik perempuannya yang sudah gadis lalu si pemuda tersebut berkesempatan untuk selalu berkunjung ke rumah pemuda yang mempunyai adik perempuan tersebut dan di sana ia punya kesempatan berbicara atau sempat melihat sosok gadis tersebut, lalu si pemuda berupaya berbaik-baik dengan orang tua si gadis dengan berbagai cara termasuklah ketika datang ke rumah tersebut selalu membawa sesuatu yang berharga agar orang tua si gadis terikat budi dengannya dan dia dapat merebut sigadis tersebut, maka prilaku si pemuda tersebut dalam kaca mata orang Aceh disebut; keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya.

Dalam perumpamaan lain, ada orang yang menginginkan jabatan pada seseorang kepala negara atau kepala daerah dalam sesuatu kesempatan, sebelum orang tersebut menjadi kepala negara atau kepala daerah seperti bupati/walikota, dan gubernur, orang tersebut tidak dekat dengannya, tetapi ketika calon kepala negara atau kepala daerah terpilih menjadi presiden, gubernur, bupati/walikota, mulailah ia mendekatinya dengan berbagai langkah dan cara dengan harapan ia akan diberikan jabatan menteri, jabatan kepala dinas, kepala biro, kepala badan, dan sebagainya. Maka prilaku orang semacam itu dalam pemahan Aceh disebut; keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya.

Dalam beberapa kali pilkada di Aceh ada orang yang mempelajari calon gubernur mana yang bakal menang dalam pilkada, lalu ia bergabung kedalam kelompok calon gubernur tersebut dan berkampanye berapi-api dan berasap-asap dengan ucapan-ucapan aneh dikeluarkan dalam kampanyenya seperti: kalau calon gubernur yang diusung oleh partai ini tidak menang dalam pilkada nanti maka beraki kuburanku ketika aku mati nanti. Yang lain pula berucap, kalau pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung partai pulan tidak menang dalam pilkada nanti maka potong tanganku. Sementara yang lain lagi berucap: kalau pasangan cagub/cawagub pulan kalah dalam pilkada nanti maka malu ulama Aceh semuanya. Semua ucapan-ucapan dan prilaku tersebut mengandung nilai keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya.

Kebiasaan Orang Tertentu 

Prilaku keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya merupakan kebiasaan orang-orang tertentu yang menghirup udara Allah di permukaan bumi ini. Ia sering dimiliki oleh orang-orang yang bergelimang dalam politik praktis yang menginginkan sesuatu jabatan atau para kontraktor yang menginginkan sesuatu proyek, bisa juga para bisnismen yang ingin usaha bisnisnya berkembang pesat atau para agen sesuatu benda yang menginginkan harga murah dari benda yang dibelinya dan dapat dijual dengan harga lebih maksimal tingginya atau orang-orang malas lagi kikir yang mengharapkan keuntungan semata. 

Di sisi lain, ada prilaku positif dari orang-orang tertentu yang berkaitan dengan terminologi keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya. Umpamanya ada orang yang berusaha memperoleh jabatan kepala negara dengan tujuan memajukan Islam dan hukum Islam seperti yang terjadi di Turki ketika Thayyib Erdoghan menjadi presiden, di Mesir ketika Mohammad Moorsi menjadi presiden, di Brunei Darussalam dalam kepemimpinan Sulthan Hasanul Bolqiyah dan wilayah lainnya. Ada juga orang yang berjuang keras dengan menumpahkan segala kekuatan untuk memperoleh jabatan gubernur menghindari kemenangan calon gubernur non muslim di wilayah yang mayoritas muslim seperti yang terjadi di Jakarta tanggal 19 April 2017 yang berhadapan antara Anis Rasyid Baswedan dengan Basuki Cahya Purnama (Ahok) yang kafir. 

Prilaku orang-orang dalam kasus dan contoh terakhir merupakan penunaian tugas dan tanggungjawab seorang muslim terhadap perintah agamanya Islam. Maka ketika orang tersebut membuat pendekatan dengan pihak-pihak tertentu untuk memperoleh sesuatu jabatan maka itu bisa saja disebut keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya atau dapat juga disebut bahwa orang tersebut berupaya melaksanakan tugas dan tanggungjawab agama.

Ada hal yang perlu diperhatikan sekaligus diawasi dalam kasus prilaku politikus yang berusaha memperoleh jabatan dengan cara keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya adalah mereka sering dan cenderung ingin memperoleh kekuasaan dan jabatan untuk keperluan diri sendiri, keluarganya, kaum dan golongannya saja, sehingga praktik pelaksanaan pemerintahan nantinya menjadi nepotisme. Demikian juga dengan prilaku kontraktor yang sering mengerling proyek pada pemerintah yang ketika proyek diperoleh tidak dikerjakan sebagaimana mestinya sehingga proyek yang dibangun tidak berkualitas tinggi sesuai dengan ketentuan dalam bistek. Akibatnya proyek segera hancur, masyarakat kecewa dan proyek tidak dibangun.

Demikian juga prilaku bisnismen yang selalu mengutamakan keuntungan yang sebanyak-banyaknya ketimbang pahala yang banyak. Akhirnya tidak sedikit dari kalangan mereka yang terjerumus kedalam praktik dan amalan riba, tipu, gharar, korupsi dan seumpamanya. Efeknya adalah kehancuran yang bakal melanda di masa depan yang boleh jadi kita ikut merasakan kehancuran tersebut atau hanya anak cucu kita yang bakal menerima padahnya nanti.  Allah telah mengingatkan kondisi semisal ini dalam Al-Qur’an surah Al-Anfal ayat 25: Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Karena itu, perangai keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya tersebut harus diputar haluannya dari upaya memperoleh jabatan untuk keperluan pribadi, kaum dan golongan kepada perolehan jabatan untuk kepentingan Islam, kepentingan muslim dan masa depan dunia yang bersahabat dengan kita baik dalam konteks makhluk-Khaliq maupun dalam hubungan hamba dengan hamba, sehingga tidak ada sesuatupun yang kita kerling dalam hidup ini melainkan memajukan dan kemajuan Islam.

Walhasil, keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya bisa mengandung dua makna, yaitu makna yang menjurus kepada negatif dan makna yang berkenaan dengan kesan positif. Namun demikian kepada umat Islam kita harapkan tidak memiliki sifat keureuléng nggang keu abeuek kereuléng kuek keu paya hanya sekedar ingin mendapatkan kedudukan dalam sesuatu jabatan lalu kita diperintah seperti babu oleh orang yang memberikan jabatan kepada kita. Kalau begini yang terjadi maka marwah dan harga diri kita melayang baik dimata manusia maupun di mata tuhan. Wallahu a’lam. (diadanna@yahoo.com)

Editor: Sayed M. Husen

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top