Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Guru MIN 13 Aceh Besar
Dunia hanyalah tempat persinggahan; setiap yang datang pasti akan pergi. Cepat atau lambat, semua manusia akan mengalaminya. Tidak seorang pun mampu menghindari ketetapan Allah Swt. Waktu dan tempatnya adalah rahasia Ilahi. Kematian adalah sebuah kepastian yang tidak dapat ditolak.
Demikian pula dengan kepergian sosok yang kita hormati, Abu Doto Zaini Abdullah, mantan Gubernur Aceh. Beliau seorang pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk perdamaian hingga akhir hayat. Sosok inspiratif yang patut diteladani dan dibanggakan dalam sejarah perjuangan Aceh. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Dalam Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman (20 Juni 2026), Pemimpin Redaksi Gema Baiturrahman, Juniazi Yahya, menyampaikan bahwa kepergian Abu Doto Zaini Abdullah meninggalkan banyak kenangan. Salah satunya adalah kedekatan beliau dengan masjid. Ia dikenal sebagai pecinta ibadah yang tidak pernah jauh dari rumah Allah, meneladani jejak Rasulullah saw. Jiwa dan raganya senantiasa terpaut dengan masjid di mana pun berada.
Selain itu, beliau juga meninggalkan jejak perjuangan yang tidak pernah mengenal lelah. Sebagai bagian dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM), ia memiliki jiwa kepahlawanan yang kuat dalam memperjuangkan kepentingan umat. Dalam masa konflik, ia berperan sebagai juru damai antara GAM dan Republik Indonesia. Bahkan, ia pernah berada di pengasingan di Swedia sebagai bagian dari upaya menginisiasi dialog perdamaian Aceh. Hal ini menjadi bagian penting dari sejarah panjang perjuangan menuju kedamaian dan keselamatan bangsa.
Selama menjabat sebagai Gubernur Aceh, Abu Doto Zaini Abdullah berhasil menghadirkan berbagai perubahan di Tanah Serambi Mekkah. Ia menetapkan qanun-qanun yang berlandaskan syariat Islam, di antaranya qanun jinayah, penguatan kewajiban menutup aurat, dan upaya mengurangi praktik riba melalui pengalihan sistem perbankan konvensional menuju perbankan syariah.
Sebagai pemimpin, beliau juga dikenal sebagai imam di Masjid Pendopo Aceh. Kecintaannya terhadap masjid melahirkan kepedulian yang besar terhadap rumah Allah. Salah satu warisan monumental yang sangat berkesan adalah renovasi Masjid Raya Baiturrahman dengan konsep menyerupai Masjidil Nabawi di Madinah. Payung elektrik yang megah dan fasilitas yang indah menjadikan masjid kebanggaan masyarakat Aceh ini sebagai ikon sekaligus destinasi wisata religi.
Bagi beliau, Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar simbol, tetapi juga representasi martabat dan kharisma Aceh. Ia juga menggagas pembangunan fasilitas parkir bawah tanah dan tempat wudu berstandar internasional. Meski masa kepemimpinannya hanya lima tahun, hasil yang ditorehkan sangat mengesankan. Kepeduliannya begitu tinggi, bahkan ia turun langsung mengawasi proses renovasi, memastikan kualitas material, dan tidak segan memerintahkan pembongkaran ulang jika hasilnya tidak sesuai standar.
Sebagai seorang dokter, sejatinya beliau dapat menjalani kehidupan yang nyaman bersama keluarga. Namun, ia memilih jalan perjuangan yang penuh risiko. Ia rela keluar masuk hutan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan hidup di pengasingan demi cita-cita besar: mewujudkan Aceh yang damai. Komitmen dan keteguhannya menjadi teladan bagi generasi penerus.
Narasumber lain, Sayed Muhammad Husen, menambahkan bahwa Abu Doto Zaini berasal dari keluarga ulama. Ayahnya merupakan seorang imam besar di Masjid Baitul A'la Beureunuen. Sejak kecil, ia telah mendapatkan pendidikan keislaman yang kuat, yang membentuk kepribadiannya menjadi dermawan, sabar, dan peduli terhadap sesama. Ia juga mendirikan Masjid Baitussa’adah di kampung halamannya, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai sarana pemersatu umat.
Meski latar pendidikan formalnya bukan dari lembaga keagamaan, nilai-nilai Islam telah tertanam kuat dalam dirinya sejak dini. Hal ini tercermin dalam kebijakan dan kepemimpinannya yang sarat dengan nuansa keislaman. Ia adalah sosok yang menunjukkan bahwa kesalehan tidak hanya dimiliki oleh ulama, tetapi juga dapat tumbuh dalam diri seorang pemimpin.
Keteladanan beliau tidak hanya tampak saat menjabat sebagai gubernur, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan dan kepeduliannya terus terjaga. Karena sejatinya, perjuangan tidak hanya milik masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa depan.
Semoga segala perjuangan dan amal baktinya menjadi ladang pahala jariyah di sisi Allah Swt. Selamat jalan, Abu Doto Zaini Abdullah. Insya Allah, segala amal ibadahmu diterima di sisi-Nya.

0 facebook:
Post a Comment