LAMURIONLINE.COM | ACEH BESAR
- Sebuah penelitian terbaru mengenai jejak kolonial di Aceh menemukan keberadaan Jeurat Kaphe (Belanda) di kawasan Indrapuri, Aceh Besar. Situs ini berbeda dengan Kerkhof Peutjut, Jeurat Kaphe di Indrapuri adalah "kuburan massal" di mana puluhan serdadu Belanda dimakamkan secara bersamaan dalam satu liang lahat. 

Fadhli Espece, Peneliti Jeurat Kaphe, menegaskan bahwa keberadaan kuburan massal Belanda merupakan fenomena yang sangat langka. Hingga saat ini, Aceh menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang memiliki kuburan massal kolonial Belanda. 

"Dalam catatan kami, serdadu yang dimakamkan disini adalah korban peperangan di Kuta Cot Glie. Dalam pertempuran di markas Panglima Polem itu, Belanda pulang dengan membawa puluhan mayat, dua diantaranya adalah perwira. Selain itu Belanda juga mengalami kerugian sejumlah 68 orang serdadunya mengalami luka-luka. Dalam temuan kami, jumlah kerugian Belanda dalam pertempuran ini termasuk yang terbesar dalam sejarah Perang Aceh." 

Fadhli menyebutkan bahwa Jeurat Kaphe di Indrapuri merupakan penanda penting mengenai intensitas perang dan besarnya korban yang dialami Belanda selama menghadapi perlawanan rakyat Aceh. Situs ini memperlihatkan bahwa Perang Aceh adalah tragedi dan telah meninggalkan jejak besar bagi sejarah militer kolonial Belanda. 

“Selama ini sejarah perang kolonial cenderung merekam bagaimana pihak kolonial menjajah pribumi. Jarang sekali ada yang merekam sebaliknya, bagaimana pihak kolonial (penjajah) justru menjadi pihak yang dikalahkan dan mengalami kerugian besar. Kuburan massal Belanda di Indrapuri ini adalah bukti atas fenomena terbalik tersebut. Namun kini, ia telah menjadi warisan sunyi yang hampir hilang dari ingatan publik," ujar Fadhli 





Selain memiliki nilai sejarah, situs ini juga penting dalam kerangka politik ingatan. Keberadaan Jeurat Kaphe menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh menyimpan memori perang melalui penamaan lokal, tradisi lisan, dan ruang yang diwariskan lintas generasi. Sayangnya, sebagian besar situs serupa belum terdokumentasi secara memadai dan rentan hilang akibat pembangunan, alih fungsi lahan, serta minimnya perhatian terhadap tinggalan konflik kolonial. 

“Ini bukan bentuk pemuliaan terhadap kolonialisme, kita ingin merawat sejarah secara utuh. Kuburan massal ini adalah bukti nyata betapa dahsyatnya perang yang terjadi di Aceh yang oleh Belanda sering disebut sebagai "Atjeh Moorden" sekaligus jawaban mengapa wilayah ini memiliki posisi yang sangat berbeda di mata Belanda.” tutup Fadhli. (Arifin)

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top