Oleh: Dr. Tgk. H. Abd. Razak Lc, MA

Pimpinan Dayah Daruzzahidin Lamceu, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar 

Islam sangat melarang pemeluknya berbuat zalim, baik kepada dirinya ataupun orang lain. Sebab, zalim sangat bertentangan dengan ajaran Rasulullah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, kesopanan, dan sifat menghargai sesama.

Terdapat empat bulan yang sangt dimuliakan dalam Islam, yang dikenal dengan istilah bulan haram, yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan ini, semua amal ibadah dan ketaatan akan dilipatgandakan oleh Allah ‘azza wa jalla.  

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)

Bahkan, kemulian empat bulan mulia ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, memasuki pertama bulan haram ini sudah saatnya dijadikan momentum untuk meninggalkan segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. 

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, yaitu: Artinya, “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS At-Taubah [9]: 36).

Dalam tradisi Arab Jahiliyah empat bulan haram, Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram, dan Rajab sangat diagungkan dan disakralkan. Bagaimana setelah datangnya Islam? Setelah Islam datang, kemuliaan bulan haram makin dikukuhkan. Bahkan tradisi Arab Jahiliyah mengagungkan bulan haram sebenarnya juga berasal dari ajaran agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ra. 

Dalam hal ini Nizamuddin an-Naisaburi (w. 850 H/1446 M), pakar tafsir asal kota Naisabur, Iran sekarang, saat menafsirkan frasa ad-dînul qayyim dalam surat at-Taubah ayat 36 menyatakan: “Maksud frasa ad-Dînul Qayyim ayat ini adalah, bahwa penghormatan terhadap bulan-bulan haram merupakan ajaran agama yang lurus, yang diamalkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Orang-orang Arab Jahiliyah mewarisinya dari mereka berdua. Orang-orang Arab Jahiliyah sangat mengagungkannya dan mengharamkan peperangan di dalamnya. Bahkan andaikan ada orang yang berpapasan dengan pembunuh ayah atau saudaranya, ia akan membiarkannya (karena begitu mulianya bulan-bulan haram dalam tradisi mereka.” (Nizhamuddin an-Naisaburi, Tafsirun Naisaburi, juz IV, halaman 142).

Islam datang menguatkan penghormatan terhadap kemuliaan bulan-bulan haram. Islam memerintahkan umatnya agar memuliakan bulan-bulan haram dengan meningkatkan ibadah, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial.

Sudah tiba saatnya bagi umat Islam menjaga kemuliaan bulan haram ini dengan memperbanyak melakukan kewajiban, ketaatan, dan semua nilai-nilai kebaikan, serta menjauhi semua hal-hal yang dilarang oleh Allah, termasuk berbuat zalim. Sebab, semua amal kebaikan dan perbuatan zalim akan dibalas melebihi perbuatan yang dilakukan di selain bulan haram.

Imam al-Baghawi dalam Kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an, juz 4, halaman 44 mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan berbuat zalim di bulan haram adalah merusak kemuliaannya dengan melakukan maksiat dan hal-hal yang tidak mendapatkan ridha dari-Nya. 

Kemudian beliau mengatakan, artinya, “Amal saleh lebih agung (besar) pahalanya di dalam bulan-bulan haram. Sedangkan zalim pada bulan tersebut (juga) lebih besar dari zalim di dalam bulan-bulan selainnya.”

Melakukan maksiat berupa berbuat zalim di bulan haram sangat besar dosanya, dan Allah ‘azza wa jalla sangat membenci orang-orang yang berbuat zalim. 

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: Artinya, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS Asy-Syura [42]: 40)

Selain tidak disukai oleh Allah, perbuatan zalim akan menjadi kegelapan kelak di hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad, yaitu: Artinya, “Bertakwalah kalian semua kepada Allah, dan takutlah kalian dari perbuatan zalim, karena sesungguhnya kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (HR Abdullah bin Umar)

Karena itu, mari kita tinggalkan semua kemaksiatan, segala bentuk perbuatan zalim, khususnya di bulan yang sangat mulia ini, dan meningkatkan lagi ibadah-ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla, dengan mengerjakan semua kewajiban, meningkatkan ibadah sunnah, konsisten dalam melakukan kebajikan terhadap sesama. Tentunya, seorang mukmin tidak menjadikan ibadah sebagai musiman, tetapi sebagai napas kehidupan yang terus berlanjut. Di hadapan kita kini terbentang bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, yang memiliki nilai lebih dibanding bulan lainnya.

Dewasa ini, bentuk kezaliman tidak selalu berupa fisik. Justru, banyak dosa yang terjadi melalui lisan dan jari, seperti gibah, fitnah, dan penyebaran hoaks di media sosial. 

Allah Ta’ala telah mengingatkan, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12). Ayat ini menunjukkan bahwa dosa lisan yang kini meluas dalam bentuk tulisan digital tetap termasuk dalam kategori kezaliman yang harus dihindari.

Karenanya, pada bulan haram, dosa-dosa ini menjadi lebih berat. Maka, seorang muslim harus lebih waspada dalam menggunakan teknologi dan menjaga etika komunikasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya lisan, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)

Saatnya kita jadikan bulan haram sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk di dunia maya. Baik dalam bentuk menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan berita tanpa tabayyun, maupun dengan memperbanyak konten yang bermanfaat. 

Allah Ta’ala berfirman, “Tidaklah suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)

Jika seseorang mampu menjaga diri di bulan yang mulia ini, maka itu menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas iman dalam dirinya. Sebab, keberhasilan seorang muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Dengan meninggalkan kezaliman dan meningkatkan ketaatan, semoga semua ibadah yang kita lakukan bisa menjadi penyebab untuk meraih ridha-Nya, serta bisa menjadi hamba yang bertakwa kepada-Nya. Memiliki keimanan yang kuat dan keyakinan yang tidak goyah kepada-Nya.

Editor: Sayed M. Husen

SHARE :

0 facebook:

 
Top