LAMURIONLINE.COM I BANDA ACEH
- Komunikasi pemasaran zakat tidak cukup hanya dengan mengandalkan imbauan kewajiban fikih atau menyajikan data dan angka. Amil harus mampu menyentuh empati publik dengan menyajikan cerita perubahan dari para penerima manfaat atau mustahik. 

Praktisi Kehumasan & Periklanan, Riza Rahmi menyampaikan hal itu dalam presentasi materi Marketing Komunikasi Zakat pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Bagi Amil Baitul Mal Kota (BMK) Banda Aceh di Hotel Hanifi, Rabu (22/7/2026).

Bimtek yang berlangsung 21-22 Juli 2026 itu diikuti 30 peserta dari unsur Badan/Komisioner BMK Banda Aceh, Sekretariat, Tenaga Profesional, serta peserta magang dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh. 

Dalam pemaparannya, Riza menggarisbawahi kendala lembaga zakat dalam menggaet muzakki sering kali berakar dari miskomunikasi. Maksudnya, bukanlah kondisi tidak adanya komunikasi, melainkan gagal dalam membangun narasi. 

"Komunikasi pemasaran di lembaga amil harus dilakukan secara terencana agar mampu membawa masyarakat dari sekadar tahu, menjadi yakin, lalu tergerak untuk berdonasi, hingga akhirnya loyal," urainya. 

Perkembangan teknologi telah mengubah perilaku muzakki. Riza menjelaskan, perjalanan seorang donatur sekarang ini tidak lagi linier, melainkan mengikuti kerangka AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share). 

Riza menguraikan, attention atau interest, bahwa materi komunikasi di media sosial harus mampu menghentikan laju scroll pengguna melalui visual dan video kisah nyata yang menggugah empati. 

Kemudian, search. Masyarakat akan melakukan validasi mandiri. Karena itu, situs web resmi dan laporan transparansi lembaga harus mudah diakses. Demikian pula action, perlu diciptakan kemudahan bertransaksi, seperti penyediaan QRIS interaktif dan layanan konsultasi via WhatsApp. 

“Berikutnya share, mengajak donatur yang telah berzakat membagikan pengalamannya di media sosial guna mengajak jejaring mereka,” ungkap Riza. 

Riza juga menyebutkan tantangan Baitul Mal sebagai lembaga pemerintah yang kerap terjebak pada formalisme birokrasi dan laporan seremoni, untuk itu patut didorong supaya para amil lebih inovatif dan terampil memanfaatkan teknologi. 

"Keterbatasan anggaran bukan lagi alasan. Amil dapat memanfaatkan kecerdasan buatan seperti Gemini atau ChatGPT untuk riset naskah, serta aplikasi kreatif seperti Canva dan CapCut untuk memproduksi konten visual berkualitas," pungkasnya.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top