LAMURIONLINE.COM | ACEH BESAR – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kabupaten Aceh Besar masa bakti 2025–2030 resmi dikukuhkan pada Sabtu (25/7/2026). Pengukuhan tersebut menjadi momentum memperkuat peran penyuluh pertanian dalam mengawal berbagai program prioritas Kementerian Pertanian, khususnya percepatan swasembada pangan nasional.
Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di Balai Latihan Penyuluhan (BLP) Saree, Aceh Besar, bersamaan dengan pelantikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Perhiptani Provinsi Aceh. Pengukuhan dilakukan langsung oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Perhiptani Indonesia, Dr. Isran Noor.
Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Pengurus Wilayah Perhiptani Aceh, Jefri Irawan, S.Pt. ditetapkan sebagai Ketua DPD Perhiptani Kabupaten Aceh Besar masa bakti 2025–2030. Ia juga menjabat sebagai Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Indrapuri.
Pengukuhan tersebut dirangkaikan dengan kegiatan lokakarya yang diikuti sekitar 500 penyuluh pertanian dari seluruh kabupaten/kota di Aceh. Kegiatan berlangsung selama dua hari, mulai 25 hingga 26 Juli 2026, dengan fokus peningkatan kapasitas penyuluh dalam mendukung transformasi sektor pertanian.
Ketua DPD Perhiptani Aceh Besar, Jefri Irawan, S.Pt., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
> "Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga pengukuhan dan lokakarya ini dapat berlangsung dengan baik dan sukses. Momentum ini menjadi awal bagi Perhiptani Aceh Besar untuk semakin solid dalam menjalankan tugas pendampingan kepada petani serta mengawal program prioritas Kementerian Pertanian," ujarnya.
Menurut Jefri, lokakarya kali ini mengangkat materi mengenai penerapan metode PM-AAS (Pertanian Modern Advanced Agriculture System) atau metode tanam benih langsung (Tabela) sistem rapat. Teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian melalui penerapan mekanisasi dan budidaya yang lebih efisien.
Metode PM-AAS merupakan sistem budidaya padi modern yang menitikberatkan pada tiga tahapan utama, yakni pengolahan lahan secara cepat disertai pengembalian jerami ke lahan, penanaman benih langsung menggunakan alat seeder dengan pola jajar legowo, serta pengaturan irigasi dan pemupukan secara presisi. Melalui pendekatan tersebut, produktivitas tanaman diharapkan meningkat sekaligus menekan biaya produksi dan penggunaan tenaga kerja.
Jefri menegaskan, peningkatan kapasitas penyuluh melalui lokakarya menjadi bagian penting dalam memperkuat pendampingan kepada petani di lapangan.
> "Kami berharap seluruh penyuluh dapat menguasai dan menerapkan teknologi PM-AAS dalam proses pendampingan kepada petani. Dengan demikian, target peningkatan produksi padi dan keberlanjutan swasembada pangan nasional dapat tercapai," katanya.
Selain pengurus Perhiptani, kegiatan tersebut turut dihadiri oleh unsur pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian, di antaranya Pemerintah Aceh yang diwakili Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, anggota DPRA Dr. Anshari Muhammad, S.Pt., M.Si. dari Fraksi Golkar, perwakilan Dinas Peternakan Aceh, Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Aceh, Perum Bulog Aceh, serta sejumlah instansi dan lembaga terkait lainnya.*






0 facebook:
Post a Comment