Tadi malam, kami 27 orang Tim Formatur yang terdiri dari unsur Dewan Syura, Dewan Syari’ah, Dewan Pengawas Keuangan, Ketua Harian, Sekretaris, unsur sepuh, DPW, serta Muslimah Wahdah, berkumpul dalam sebuah musyawarah yang rasanya sulit dilupakan.

Setelah melalui pembahasan yang panjang dan penuh pertimbangan, seluruh Tim Formatur akhirnya sepakat secara aklamasi untuk kembali memilih Ust Zaitun sebagai Ketua Umum Wahdah Islamiyah periode 2027–2030.

Namun, ada satu hal yang membuat musyawarah malam itu begitu alot. Beliau justru menolak untuk dipilih kembali.

Bukan karena tidak siap berkhidmat. 

Bukan karena ingin meninggalkan perjuangan. 

Tetapi justru karena beliau memahami betapa beratnya amanah seorang ketua. Amanah yang bukan sekadar jabatan di dunia, tetapi akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Perdebatan berlangsung panjang, jam berganti jam, malam semakin larut, hingga akhirnya waktu menunjukkan sekitar pukul 03.00 dini hari, dalam suasana yang penuh haru, air mata pun tak terbendung, isak tangis terdengar dari para anggota Tim Formatur tak terkecuali ust Zaitun sendiri.

Bukan tangisan karena perebutan jabatan, tetapi tangisan karena menyadari betapa beratnya sebuah amanah dan betapa besarnya harapan kepada sosok yang dianggap mampu memikulnya.

Akhirnya, luluhlah hati Ust Zaitun, beliau menerima amanah tersebut.

Dan... tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu, ketika nama beliau diumumkan di hadapan forum yang sedari tadi menunggu dengan menahan kantuk penasaran, siapakah gerangan yang akan menjadi Ketua Umum Wahdah Islamiyah yang baru, maka ketika nama Ust Zaitun disebut, satu ruangan Aula Asrama Haji Pondok Gede seketika bergemuruh.

Takbir menggema dari seluruh penjuru forum.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Wajah-wajah yang sejak tadi menahan kantuk seketika berubah menjadi wajah penuh kegembiraan. Ada senyum, ada haru, ada air mata, dan ada rasa syukur yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Sungguh luar biasa!

Satu nama yang sejak awal justru berusaha menghindar dari pucuk pimpinan, akhirnya kembali diamanahi untuk memimpin. 

Bukan karena ia mengejar jabatan, tetapi karena forum melihat pada dirinya sosok yang dianggap mampu memikul amanah tersebut.

Dari peristiwa malam itu, saya mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berharga,

Ternyata, orang yang paling layak memimpin terkadang justru orang yang paling takut menerima kepemimpinan, sebab ia tidak melihat kursi ketua sebagai kemuliaan, tetapi sebagai beban amanah.

Ia tidak melihat jabatan sebagai kesempatan untuk dilayani, tetapi sebagai kesempatan untuk lebih banyak berkorban dan melayani.

Ia tidak sibuk bertanya, "Apa yang akan saya dapatkan"?

Tetapi justru bertanya, "Apa yang akan saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah"?

Di zaman ketika banyak orang berlomba mendapatkan posisi, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang terasa seperti "seribu satu".

Satu orang yang tidak ingin menjadi ketua, tetapi justru dipilih oleh banyak orang untuk memimpin.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada beliau untuk menunaikan amanah ini, menjaga keikhlasan, melapangkan hati, menguatkan langkah, dan menjadikan kepemimpinannya sebagai wasilah semakin kokohnya dakwah dan semakin luasnya manfaat Wahdah Islamiyah bagi umat dan bangsa, amin...

Hatta Selian (ketua DPW Aceh), Asrama Haji Pondok Gede


SHARE :

0 facebook:

 
Top