Oleh: Muhibuddin Hanafiah
Akademisi Kopelma Darussalam
Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh 2 September 1959 merupakan momentum waktu yang sangat bersejarah bagi masyarakat Aceh. Bagaimana tidak, pada waktu inilah Kampus Darussalam atau lebih dikenal dengan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam mulai dibangun. Di bekas kebun kelapa peninggalan markas penjajah Belanda ini kemudian didirikan tiga lembaga pendidikan tinggi sekaligus, yaitu Universitas Syiah Kuala, Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry dan Dayah Manyak Tgk Chiek Pante Kulu.
Pembangunan tiga universitas yang memiliki kekhasan masing-masing ini menandai era baru bagi peradaban Aceh di masa hadapan. Prof A Hasjmy sebagai Gubernur Aceh dan salah seorang inisiator pembangunan lembaga pendidikan tinggi ini kemudian menamakan lokasi ini sebagai Darussalam, yang berarti kampung yang damai. A Hasjmi mengambil nisbah nama kampus ini pada kota Jerussalem al-Quds di Palestina.
Kampus simbol perdamaian ini kemudian diresmikan oleh Ir. Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia pada tanggal 2 September 1959. Pasca penandatangan prasasti dimulainya pembangunan kampus Darussalam, konflik politik antara Aceh dan pemerintah pusat pun kemudian berakhir dengan damai. Monumen atau Tugu Darussalam menjadi saksi sejarah dan simbol perdamaian itu dan sana terukir tanda tangan Soekarno dan untaian kata yang berbunyi: “Tekad Bulat Melahirkan Perbuatan Nyata. Darussalam Menuju Pelaksanaan Cita-Cita”.
Dalam sebuah catatan lain A Hasjmy pernah menyebut bahwa masyarakat Aceh baru saja mengakhiri era perang dan meninggalkan kondisi negeri yang berkecamuk peperangan (dar al-harb) menuju era damai dan memasuki kondisi negeri yang penuh perdamaian dan kesejahteraan (dar al-salam). Inilah spirit awal pembangunan Kopelma Darussalam sebagai pusat pengembangan agama, sain, dan teknologi bagi masa depan peradaban Aceh era modern kelak.
A Hasjmy sebagai tokoh dan pionir utama pembangunan Kopelma Darussalam -- sebagai salah satu wujud dari konvensasi untuk mengakhiri pertikaian politik dengan Jakarta -- meyakini bahwa harus ada tiga varian pendidikan tinggi untuk memajukan Aceh, bagaikan tiga pilar yang saling menguatkan.
Pertama, pendidikan tinggi umum yang mengambil fokus pada kajian sains dan teknologi yang dalam hal ini diperankan oleh Universitas Syiah Kuala. Kedua, pendidikan tinggi keagamaan yang moderat dan mengambil fokus kajian pada studi keislaman modern, dalam hal ini diperankan oleh UIN (kala itu masih IAIN) Ar-Raniry). Ketiga, pendidikan tinggi Islam tradisional khas kescehan, yaitu Dayah Manyang yang kemudian diperankan oleh Dayah Manyang Tgk Chiek Pante Kulu.
Jadi untuk memajukan Aceh dibutuhkan tiga kekuatan dimensi keilmuan: saintek (PTU), Islam moderat (PTKI) dan Islam tradisional (dayah/pesantren). Inilah tiga kutup pendidikan tinggi yang dibutuhkan kemajuannya guna membangun kembali peradaban Aceh pasca perang yang berkepanjangan.
Namun sayang, satu dari tiga universitas cikal bakal kemajuan peradaban Aceh itu “wafat” sebelum waktunya dan tinggal dua universitas lagi yang sedang mengemban amanat perjuangan rakyat Aceh. Padahal ketiga universitas itu merupakan “jantoeng hate” rakyat Aceh.
Selanjutnya, 2 September 2026, yaitu setelah 67 tahun berlalu bagaimana khabarnya kondisi pendidikan Aceh. Sudahkah sampai pada cita-cita Darussalam itu. Siapa yang berhak menjawabnya. Tentu Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan, Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh, UIN Ar-Raniry, serta Universitas Syiah Kuala adalah para pihak yang pantas memberikan gambaran kepada publik di Aceh tentang kondisi ketercapaian pendidikan di Aceh hari ini.
Apa saja kemajuan yang telah diperoleh, apa ketimpangan yang masih mengoyak jerit derita rakyat Aceh, dan bagaimana roadmap percepatan kemajuan pendidikan di Aceh. Dari dua lembaga pendidikan tinggi yang masih eksis, apa saja yang sudah dikontribusikan untuk kemajuan pendidikan rakyat Aceh. Jika belum, apa yang harus dilakukan.
Satu hal yang nampak di depan mata adalah kedua perguruan tinggi di Kopelma Darussalam telah meluluskan puluhan ribu orang sarjana; strata satu, dua, dan tiga. Sebagian kecil mereka telah bekerja di berbagai sektor pembangunan dan sebagian besarnya lagi hanya menjadi pengangguran semata. Alhasil, sampai hari ini Aceh belum banyak berubah ke arah kemajuan dan kesejahteraan sebagaimana dicita-citakan. Aceh masih begini-begini saja dan belum jelas arah tujuannya. Semoga Acehku akan lebih baik nasibmu di masa akan datang.
Editor: Sayed M. Husen

0 facebook:
Post a Comment