LAMURIONLINE.COM I BANDA ACEH - Menyambut Milad ke-49 Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) hendaknya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi menjadi kesempatan melakukan refleksi seluruh kader untuk mengevaluasi dan memperkuat peran organisasi dalam menghadapi perubahan zaman.

Di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, BKPRMI dituntut semakin efektif sebagai simpul pemersatu umat lintas mazhab, sekaligus mampu melakukan transformasi gerakan dakwah agar lebih relevan dengan karakter generasi muda saat ini.

Pengurus Ikatan Keluarga Alumni (IKA) BKPRMI Aceh, Sayed Muhammad Husen, menyampaikan hal itu dalam keterangannya kepada media di Banda Aceh dalam rangka memperingati Hari Lahir BKPRMI, Kamis (3/9/2026).

Menurut Sayed, perjalanan panjang BKPRMI sejak didirikan pada 3 September 1977 di Masjid Salman ITB merupakan modal sejarah yang sangat berharga. Salah satu kontribusi organisasi ini adalah gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur'an melalui pengembangan Taman Kanak-Kanak Al-Qur'an (TKA) dan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) yang berkembang luas pada akhir dekade 1980-an.

"Sejak berdiri pada 3 September 1977 di Masjid Salman ITB, BKPRMI telah melahirkan sejarah besar, salah satunya melalui gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur'an lewat TKA/TPA pada akhir dekade 1980-an. Kini, di era modern, warisan historis itu harus kita rawat dengan menjawab tantangan kontemporer, yakni disrupsi digital dan potensi polarisasi umat," ujar Sayed.

Jangan Terjebak Perdebatan Furu'iyah

Sayed mengatakan, salah satu kekuatan BKPRMI sejak awal adalah semangat komunikasi dan ukhuwah yang memungkinkan organisasi ini menjadi ruang perjumpaan bagi pemuda dan remaja masjid dari berbagai latar belakang.

Karena itu, ia mengingatkan agar BKPRMI tidak kehilangan jati dirinya dengan terjebak dalam perdebatan furu'iyah atau persoalan cabang keislaman yang berpotensi menimbulkan perpecahan.

Menurutnya, perbedaan mazhab dan pandangan keislaman seharusnya tidak menjadi penghalang bagi kader untuk membangun kerja sama dalam memakmurkan masjid dan memberdayakan umat.

"BKPRMI didirikan di atas semangat ukhuwah islamiyah. Tugas kita menyatukan berbagai spektrum pemuda Islam dari beragam latar belakang mazhab agar bisa berkolaborasi di dalam masjid," katanya.

Ia menegaskan, masjid harus menjadi ruang yang mampu mempertemukan umat, membangun persaudaraan, mencerdaskan masyarakat, serta melahirkan generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan sosial dan kebangsaan.

"Masjid harus menjadi pusat perekat, bukan tempat memicu perpecahan," tegasnya.

Selain menjaga ukhuwah, Sayed juga mengingatkan pentingnya menjaga BKPRMI agar tidak terseret ke dalam kepentingan politik praktis. Menurutnya, organisasi pemuda masjid harus tetap fokus pada pembinaan generasi muda, penguatan dakwah, pendidikan keislaman, dan pemberdayaan masyarakat.

Dakwah Tidak Boleh Berhenti di Mimbar

Lebih lanjut, Sayed menyoroti perlunya peremajaan metode dakwah. Menurutnya, perubahan karakter generasi muda menuntut organisasi pemuda masjid mampu mengembangkan pola komunikasi yang adaptif.

Generasi Z dan Alpha yang tumbuh sebagai digital natives memiliki pola konsumsi informasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Karena itu, dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui mimbar-mimbar masjid, tetapi harus diperluas ke ruang digital.

"Mimbar-mimbar fisik masjid harus diperluas jangkauannya ke media sosial dalam bentuk visualisasi kreatif, video pendek, dan podcast," ujarnya.

Sayed menilai, ruang digital kini telah menjadi bagian penting dari kehidupan generasi muda. Karena itu, kader BKPRMI harus mampu menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah, pendidikan, literasi keislaman, sekaligus membangun komunikasi positif dengan masyarakat.

Menurutnya, penguasaan ruang siber juga sangat penting untuk menghadapi penyebaran hoaks, fanatisme buta, ujaran kebencian, dan berbagai narasi ekstrem yang berpotensi memecah belah umat.

Kader pemuda masjid, kata dia, harus hadir dengan konten alternatif yang memberikan pencerahan dan menghadirkan wajah Islam yang sejuk dan mencerahkan.

"Konten digital yang diproduksi oleh kader masjid harus mencerminkan wajah Islam yang damai, membahagiakan dan mengedepankan moderasi dalam mengamalkan syariat Islam," katanya.

Melahirkan Kader Masjid Era Digital

Sayed menambahkan, tantangan BKPRMI ke depan bukan hanya bagaimana mempertahankan eksistensi organisasi, tetapi juga bagaimana melahirkan kader yang memiliki kemampuan keislaman, kepedulian sosial, wawasan kebangsaan, serta kecakapan digital.  

Kader pemuda dan remaja masjid, menurutnya, harus mampu menjadi penggerak perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan masjid, tetapi juga harus mampu memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan pesan-pesan keislaman yang mencerahkan.

"Refleksi milad tahun ini merupakan panggilan bagi aktivis masjid untuk melahirkan kader yang tidak hanya taat beribadah, tetapi juga cakap dalam literasi digital," ujarnya.

Ia berharap, momentum Milad ke-49 BKPRMI menjadi titik penguatan kembali semangat pengabdian organisasi. Dengan tetap berpegang pada ukhuwah islamiyah, BKPRMI diharapkan mampu menjadi rumah besar bagi pemuda Islam dari berbagai latar belakang dan menjadi kekuatan strategis dalam menjaga persatuan bangsa.

"Kita ingin pemuda remaja masjid menjadi benteng persatuan bangsa dan umat, baik di dunia nyata maupun di dunia maya," pungkas Sayed. (Abrar)

SHARE :

0 facebook:

 
Top