LAMURIONLINE.COM | ACEH BESAR
- Ihsan bukan diukur dari banyaknya pemberian, melainkan dari keikhlasan hati dalam berbuat baik karena Allah Swt. Pemberian yang bernilai ihsan lahir dari hati yang tulus, bukan dari keinginan memperoleh pujian atau pengakuan manusia.

Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ustaz Muhammad Zadath Uddin, menyampaikam hal tersebut dalam khutbah Jumat di Masjid Jami’ PMDG Kampus 8, Seulimuem, Aceh Besar, Jumat (16/10/2026).

Dia menegaskan, Islam dibangun di atas semangat memberi, berkorban, dan menyebarkan kebaikan, kelembutan, dan kedamaian. Islam juga mengajarkan umatnya memperkuat ikatan iman hingga mencapai derajat yang lebih tinggi, yaitu ihsan.

Dalam kaitannya ini, Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia.’” (QS Al-Baqarah: 83).

Menurut Ustaz Zadath, setiap kebaikan hendaknya dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang baik. Ketika memberi, seseorang harus melakukannya karena Allah. Ketika berbuat baik, ia perlu menyempurnakan kebaikannya. Begitu pula ketika berhijrah, seseorang harus meninggalkan kesalahan dan perilaku buruk.

Dia juga mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan amal kebaikan sebagai sarana mencari pengakuan. Kebaikan tidak perlu diumbar demi memperoleh pujian. Seorang hamba hendaknya menyelesaikan urusannya dengan ikhlas dan tidak menggantungkan nilai amalnya pada penilaian manusia.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, orang yang menerapkan ihsan dalam kehidupannya akan semakin dekat dengan rahmat Allah dan menjauhkan diri dari kemaksiatan serta dosa. Ihsan bukan hanya tercermin dalam hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dalam sikap terhadap sesama.

Ustaz Zadath menutup khutbahnya dengan mengingatkan bahwa memberi karena Allah harus disertai keikhlasan. Karena itu, seseorang tidak boleh mengungkit-ungkit pemberiannya, menyakiti penerima, ataupun melakukan kerusakan di muka bumi.

“Dengan demikian, ihsan mengajarkan, nilai suatu kebaikan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya pemberian, tetapi juga oleh ketulusan niat, cara melakukannya, dan dampak baik yang dirasakan orang lain,” pungkasnya. (Sayed MH/Kaffah)

SHARE :

0 facebook:

 
Top