Loading...

Banda Aceh – Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa umat Islam tidak boleh ikut-ikutan merayakan Natal dan Tahun Baru Masehi, yakni terkait dengan akidah, tidak ada dalil dalam Islam serta ditakutkan akan menjadi kebiasaan/adat dalam masyarakat.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ustad Drs Ridwan Ibrahim MPd dalam Dakwah Umum Jumatan yang digelar Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh di Taman Sari, Banda Aceh, Jumat (12/12/2014) pagi tadi.
“Apa perbedaan antara peringatan 1 Muharam sebagai tahun baru Islam dan tahun baru masehi, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian?” tanya Ustad Ridwan yang juga Kabid Dakwah DSI Kota Banda Aceh ini kepada hadirin.
“Saat tahun baru Islam, tidak ada satu non muslim pun yang ikut merayakannya. Kita pun mungkin tidak merayakannya. Namun saat tahun baru masehi, berapa banyak orang Islam yang merayakan? Sedangkan umat Nasrani berada di gereja hingga jam 00.00 WIB sebagai acara puncak ritual keagamaan mereka.”
Ustad Ridwan mengingatkan, jika kita tidak ikut merayakan tahun baru masehi, bukan berarti umat Islam tidak toleransi. “Bentuk toleransinya kita tidak boleh mengganggu ibadah mereka di gereja,” katanya.
Ia kemudian memaparkan tiga alasan utama Pemerintah Kota Banda Aceh melarang umat Islam merayakan Natal dan Tahun Baru Masehi. “Pertama, karena ada persoalan akidah. Perayaan tahun baru masehi itu merupakan ritual perayaan Natal umat Nasrani yang puncaknya digelar pada malam tahun baru.”
Kedua, sambung Ustad Ridwan, memang tidak ada perintahnya atau dalilnya dalam agama Islam. “Jika tidak ada dalam agama, apa lagi menyangkut ibadah, tidak boleh kita amalkan. Bid’ah itu namanya.”
Ketiga, yang tak kalah penting, perayaan tahun baru masehi ditakutkan menjadi kebiasaan dalam masyarakat. “Hal ini sekarang sudah mulai menjadi kebiasaan dalam masyarakat kita. Pada malam tahun baru, ikan-ikan di pasar habis diborong untuk merayakan malam tahun baru,” katanya lagi.
Ustad Ridwan juga mengungkapkan, tahun lalu, ada tiga negara atau daerah yang tidak merayakan malam tahun baru masehi, yakni Saudi Arabia, Israel, dan Kota Banda Aceh. “Jika saja Saudi Arabia ikut merayakan malam tahun baru masehi, hancurlah kita sudah,” sebut Ustad Ibrahim yang disambut tawa hadirin.
“Israel saja tidak ikut-ikutan merayakan malam tahun baru masehi, karena mereka tahu itu bukan ritual agama mereka. Masa kita umat Islam kalah dengan Yahudi.”
Pada akhir khutbahnya, ustad yang tampil dengan gaya kocak dan sesekali mengeluarkan guyonan segar hingga hadirin enggan beranjak dari tenmpat duduknya itu, mengajak warga Kota Banda Aceh untuk tidak mengeluarkan sepeser rupiah pun untuk perayaan malam tahun baru nanti.
“Saya tidak mengajak kita semua untuk menyedekahkan seluruh harta kita di jalan Allah seperti yang dicontohkan sahabat nabi Umar bin Khatab. Mari kita mulai dengan hal kecil, jangan keluarkan sepeser rupiah pun untuk ikut-ikutan merayakan malam tahun baru nanti. Semoga Allah melimpahkan berkah dan karunia-Nya bagi warga Kota Banda Aceh,” pungkasnya yang disambut tepuk tangan hadirin.
Acara Dakwah Umum Jumatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ustad Ridwan Ibrahim. Pada kesempatan itu turut hadir Sekda Kota Banda Aceh, Ir Bahagia Dipl SE, sejumlah Kepala SKPD, PNS di lingkungan Pemko Banda Aceh, awak media, pelajar dan masyarakat umum. (Jun)
SHARE :
 
Top