Indrapuri mempunyai sejarah I panjang jauh sebelum Islam datang. Berawal dari sebuah candi Hindu, kini ada sebuah Masjid yang terkenal dengan Masjid Tua Indrapuri. Disinilah saya bersama kawan-kawan menghabiskan sebagian masa kecil sambil belajar dan bermain. Dalam masa keislamannya, Indrapuri merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan, khususnya Ilmu Al- Qur'an, yang menghasilkan beberapa 'Ulama terkenal. Konon katanya, Indrapuri merupakan kerajaan yang didirikan oleh adik perempuan Putra Raja Harsha dari India yang melarikan diri ke Aceh ketika suaminya terbunuh oleh serangan bangsa Huna pada tahun 604 M. Dia mendirikan sebuah candi bernama Indrapuri yang artinya Kuta Ratu. Dalam bukunya Tawarikh Raja- Raja Kerajaan Aceh, Tgk. M. Yunus Jamil (1968) menyatakan bahwa Indrapuri adalah bagian dari kerajaan Hindu Indrapurwa. 

Namun menurut catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Besar, Masjid ini berasal dari Kerajaan Hindu Lamuri sekitar abad ke-12 M. Ada tiga kerajaan Hindu terbesar waktu itu. Kerajaan yang pertama adalah Indrapatra di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, yang dibangun oleh Putra Raja Harsha pada abad ke-6 M (604). Karena letaknya yang strategis di tepi laut menghadap Selat Malaka, Benteng Indrapatra pernah digunakan sebagai pusat pertahanan dan penyimpanan senjata Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan yang kedua adalah Indrapurwa di Desa Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, yang dibangun oleh Maharaja Indra Sakti, adik perempuan dari Putra Raja Harsha pada abad ke-10 M (1059). Adapun kerajaan yang ketiga adalah Indrapuri atau lebih dikenal dengan Kerajaan Lamuri, yang juga dibangun oleh Maharaja Indra Sakti pada abad ke-12 (1205). Tiga kerajaan tersebut merupakan titik kekuatan besar yang menentukan transisi dan perubahan budaya di Aceh sehingga terkenal dengan istilah Aceh Lhee Sagoe. 

Ketika Islam berkembang di Aceh, khususnya pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M), bangunan candi Indrapuri dirubah menjadi Masjid. Bahkan di zaman Kerajaan Aceh Darussalam ini, Masjid Indrapuri pernah menjadi pusat pemerintahan selama beberapa bulan ketika Kutaraja sebagai ibukota kerajaan waktu itu direbut Belanda. Masjid ini juga menjadi saksi penobatan Tuanku Muhammad Daud Syah di akhir tahun 1874 M. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Indrapuri juga menjadi pusat kegiatan masyarakat terutama dalam hal pendidikan. Tidak banyak catatan tertulis tentang Dayah Indrapuri, namun sistem pendidikan di Indrapuri waktu itu sudah agak modern dengan menggunakan bangku. Syech Muda Waly dari Aceh Selatan juga pernah belajar dan mengajar di sini. Salah satu Ulama besar yang mengajar di Dayah Indrapuri adalah Tgk. Ahmad Hasballah Bin Tgk. Chiek Oemar Bin 'Auf (Oemar Di Yan), atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Indrapuri. Beliau terkenal sebagai ahli Tafsir dan Qiraat Al-Qur'an yang pernah menempuh pendidikan selama lebih kurang 25 tahun di Makkah. Abu Indrapuri juga terkenal sebagai Ulama yang memurnikan ajaran Islam dari pengaruh bid'ah dan khurafat dengan berpedoman kepada Al-Qur'an dan Sunnah. 

Nah, melihat sejarah panjang Indrapuri dengan tradisi budaya dan ilmunya, maka sepatutnya kita sebagai g e n e r a s i p e n e r u s t e t a p mempertahankan nama besar daerah kita. Banyak orang Indrapuri sekarang yang mempunyai pendidikan tinggi. Namun banyak pula tantangan yang muncul di masyarakat. Kedai kopi dan warung makan lebih banyak dibandingkan dengan pusat-pusat pendidikan. Anak-anak muda khususnya , lebih banyak menghabiskan waktunya di pasar- pasar ketimbang di Masjid dan majlis- majlis ilmu. Oleh karena itu, kewajiban kita bersama adalah tetap melestarikan warisan budaya dan tradisi ilmu dari 'indatu (nenek moyang) kita terdahulu. 

Marilah kita mengajak generasi muda khususnya untuk menghargai sejarah dan senantiasa belajar untuk masa depan yang lebih baik. Semoga Indrapuri ke depan bisa kembali menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan di Aceh. Wallaahua'lam. 

© Akhi (Gombak: 19.04.2015, 3:30 p.m.)

SHARE :
 
Top