Alangkah indahnya bila Indrapuri benar-benar jadi kota santri. Kota kecil yang mencerminkan muslim-muslimah yang tidak lepas dari Al-Quran dan As-Sunnah. Penduduknya penuh dengan kegiatan, aktivitas dan rutinitas yang selalu bermanfaat bagi ummat, yang terus bernilai ibadah kepada Allah SWT. Akhlak mulia menjadi ciri khas penduduk kota santri. Baca Al- Quran menjadi rutinitas warga kota santri, bukan hanya selepas magrib saja melainkan setiap selesai sholat 5 waktu,  sholat berjamaah selalu dilakukan sehari 5 waktu, pengajian selalu ada disetiap menasah dan mesjid. 

Menjadi kota santri bukan berarti menjadi kota yang tertinggal dari kecanggihan teknologi, bukan pula GapTek (Gagap Teknologi), bukan juga kota yang kolot dan terbelakang. Melainkan adalah kota yang seluruh penduduknya menjadi maju, bisa menggunakan kecanggihan teknologi sesuai dengan prinsipnya, tidak menyalah gunakan teknologi, tidak menganggap teknologi itu suatu yang terlarang, akan tetapi menganggap teknologi itu suatu hal yang bisa membuka cakrawala yang mudah dilakukan untuk mengetahui Islam secara keseluruhan, baik di dalam negeri maupun diluar negeri diseluruh penjuru dunia. Bukan menggunakan teknologi untuk merusak ketentraman orang lain, seperti menipu, menyalah gunakan info dan lain sebagainya. 

Keinginan mewujudkan kota santri itu memerlukan pengorbanan dan dukungan dari semua pihak, bukan hanya dari para “Tengku”, Ustad, Imam mesjid, melainkan dari semua pihak, baik itu Pihak di Kecamatan, di Kelurahan, tokoh masyarakat, Tokoh adat, pihak pesantren,  dayah dan sampai ke pihak yang paling kecil yaitu keluarga dan diri sendiri. Tidak mungkin keinginan besar ini terwujud bila pemahaman dari diri sendiri tidak kuat untuk menjadikan diri sebagai muslim- muslimah yang khaffah. 

Adapun upaya yang bisa dilakukan untuk membentuk kota santri antara lain yaitu: perkuat dan perdalam ilmu agama islam di tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas serta sampai ke tingkat perguruan. Sangat disayangkan bahwa remaja-remaja sekarang sudah sangat jauh dari norma- norma agama dan bahkan tidak bisa lagi menunjukkan dirinya berakhlak mulia. Mereka boleh bersekolah di sekolah yang beratribut islam, namun kenyataannya, atribut hanyalah sekedar saja tidak bisa membawa mereka kearah yang lebih baik. Hal ini perlau perhatian khusus lagi bahkan menjadi PR buat kita semua, bukan hanya guru disekolah namun semua pihak terlibat dalam membangun perilaku remaja-remaja yang berakhlak mulia. 

Semoga cita-cita mulia ini menjadi pembuka mata bathin kita untuk terus berupaya mengajak masyarakat ke jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan keharuman syurga… Wallahu`alam…
SHARE :
 
Top