ads1

Oleh: Durratul Baidha

UPT Perpustakaan Unsyiah kembali menggelar event tahunan yaitu Unsyiah Library Fiesta pada 26-29 maret 2018. Event ini kami manfaatkan  untuk menunjukkan kemampuan wirausaha serta sifat mandiri diperantauan.

Kami terdiri dari Farhan Zaky dan Ade Reza Luqfi (Teknik Pertambangan), Muhammad Akbar (Kedoktoran Hewan), Sri Helmi Fitri (Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan) dan saya Durratul Baidha (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia). 

Kami adalah mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang selalu dilanda krisis keuangan  di perantauan, maka dari itu kami berkumpul untuk menguatkan sebuah ide bahwa kami harus memiliki sebuah usaha agar bisa menghasilkan uang.

Tantangan di dunia perantauan sangatlah berat, tidak hanya jauh dari orang tua namun suasana setiap kita pulang selalu ada makanan dibawah tudung saji harus kita lupakan sejenak. Saat di perantauan mau tidak mau kita harus masak dan belanja sendiri atau memilih tidak makan sama sekali.

Dari itulah tekanan keuangan yang selalu membuat kami  malu untuk meminta orang tua mengirimkan uang tiap bulan pun kami coba atasi.

Kami bertekad membuka sebuah usaha makanan ringan yang kami brandkan “Nachos tempe” dan “sunset drink”.

Usaha itu kami buktikan pada saat Unsyiah Library Fiesta dengan menyewa stand sejumlah Rp 600 ribu yang merupakan uang patungan bersama.

Setiap usaha yang kita mulai harus melibatkan modal sendiri dan tidak takut rugi itulah kunci sebuah kesuksesan usaha.
Sebelumnya kami secara tidak sadar menemukan makanan hasil percobaan salah satu diantara kami ternyata hasilnya enak dan kami pasarkan.

Saat acara ULF tersebut kami yang merupakan mahasiswa angkatan 2017 masih diikat dengan amanah kuliah, kami  tetap kuliah seperti biasa. Kami harus ganti-gantian menjaga stand sesuai jadwal kuliah yang kosong. Stand kami yang terkesan sangat sedikit bahan yang akan diperjual-belikan menjadi bahan tawa penghuni stand lain.

Kami menganggap bahwa kami belum sukses jika kami belum ditertawai oleh orang lain. Seiiring dengan mondar-mandirnya pengunjung stand sedikit demi sedikit pengunjunga datang ke stand kami walau pertama hanya melihat-lihat saja atau mampir sebentar dan berlalu begitu saja ketika membaca tulisan di spanduk “ Anda kurang gizi yeah kesini aja” yang menjadi daya tarik tersendiri.

Setelah mungkin muak dengan tulisan yang mengajak pembaca untuk bertengkar, akhirnya satu persatu hingga rombongan pembeli datang untuk nongkrong di stand kami menikmati sunset drink saat senja, rasanya yang segar membuat pengunjung bolak-balik esok nya untuk membawa kawan-kawannya membeli sunset kami.

Tidak hanya mahasiswa biasa namun aktivis-aktivis dakwh kampus datang membeli produk kami. Memang terkesan sangat sederhana, akan tetapi kesederhanaan inilah kemudian akan melahirkan kemewahan.

Selama empat hari kami menjual produk kami dan Alhamdulillah sudah muncul daya tarik pelanggan. Pada tahap awal ini yang ingin kami cari bukan laba tapi daya tarik dak bagaimana kepuasan pembeli terhadap produk kami sehingga kami bisa mengevaluasi sejauh mana keberhasilan dan apa saja yang perlu kami perbaiki sehingga pembeli tetap setia menjadi pelanggan kami.

Tidak hanya itu kami juga memberikan bonus kepada pembeli secara cuma-cuma jika beruntung disaat-saat tertentu. Mungkin itu juga merupakan salah satu daya tarik juga.

Merantau adalah sebuah pilihan untuk melatih kemandirian, bagaimana seharusnya tanpa orang tua kita juga mampu menghasilkan uang sendiri sehingga apapun uang yang kita perlukan untuk makan maupun tugas bisa kita atasi sendiri tanpa bergantung lagi pada orang tua.

Terkadang memang keadaan sempitlah yang membuat kita berfikir bagaimana meluaskan kemungkinan untuk mengisi perut yang kelaparan. Misal saat pulang kuliah jalan kaki,udara panas dan sampai di kos ternyata tidak ada apa-apa karena kita tidak memiliki uang di akhir bulan, terpaksa tidur dan berharap terbangun ada yang mengantarkan makanan.

Maka saat itu kita berfikir bagaimana kita bisa mengenyangkan perut dengan cara yang halal, salah satunya dengan berhutang. Tapi lama kelamaan kita mulai bosan gali lobang tutup lobang.

Maka usaha adalah sebuah solusi yang meyakinkan untuk bisa mandiri di perantauan.

Selama kita mau berusaha selama itu pula jalan Allah luas adanya.

Penulis merupakan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

SHARE :
 
Top