Loading...

Para dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi umum (PTU) se-Indonesia mengikuti sarasehan di Ruang Multimedia RKU 1 Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Dok. IST
LAMURIONLINE.COM I BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menjadi tuan rumah pelaksanaan sarasehan dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi umum (PTU) se-Indonesia. 

Kegiatan dengan tema “Quo Vadis Dosen PAI di PTU” itu diikuti oleh 150 orang peserta yang terdiri dari dosen-dosen PAI di berbagai kampus di Aceh dan juga kampus-kampus lainnya di Indonesia berlangsung di Ruang Multimedia RKU 1 Unsyiah, Jumat (2/8) dan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I Unsyiah, Prof Dr Marwan.

Sekretaris Panitia, Dr Rahmat Fadhil, Sabtu (3/8) mengatakan sarasehan tersebut terselenggara berkat kerjasama UPT Mata Kuliah Umum Unsyiah dibawah pimpinan Dr. Teuku Muttaqin Mansur dengan Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam Indonesia (ADPISI) Pusat. Dan juga dirangkai dengan pelatihan sertifikasi dan standarisasi bagi dosen-dosen PAI di Unsyiah dan beberapa kampus lain di Aceh. 

Rahmat Fadhil menambahkan sertifikasi dan standarisasi sangatlah penting dimiliki oleh para dosen-dosen PAI. Hal ini dikarenakan sebahagian besar pengajar mata kuliah PAI di perguruan tinggi umum adalah mereka-mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan atau kesarjanaan agama.

“Walaupun sebenarnya dosen-dosen PAI tersebut telah memiliki kompetensi da’i maupun ustaz melalui jalur non-formal. Oleh karenanya, melalui sertifikasi dan standarisasi ini diharapkan para dosen yang bukan lulusan perguruan tinggi agama akan mendapatkan pengesahan dan standarisasi setelah mengikuti proses sertifikasi ini,” kata Rahmat Fadhil.

Koordinator mata kuliah PAI Unsyiah, Ustaz Enzus Tinianus SH MH, sangat bergembira bersamaan momentum Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke XVI tahun ini, dimana Unsyiah menjadi tuan rumah, secara bersamaan pula dapat menggelar pertemuan dosen-dosen PAI se Indonesia yang kebetulan sebahagian besar mereka adalah official dari berbagai perguruan tinggi yang menjadi peserta MTQ kali ini. 

Menurut Ustaz Enzus, sarasehan ini juga merupakan salah satu sarana untuk saling bertukar informasi dan pengalaman dalam membimbing dan mendidik mahasiswa agar semakin cinta agama, bangsa dan negaranya. Apalagi akhir-akhir ini ada tuduhan bahwa kampus-kampus negeri di Indonesia menjadi sarangnya gerakan radikalisme dan intoleran. Juga mensinyalir adanya upaya menggiring opini seakan-akan kampus-kampus negeri sebagai kampus yang radikal.

“Bagi kita, radikalisme dan intoleran adalah pemikiran dan sikap yang sangat merusak kehidupan agama, bangsa dan negara kita sendiri. Dan tuduhan tersebut sangatlah tendensius dan tidak menghargai pembinaan-pembinaan dengan pendekatan agama yang begitu sungguh-sungguhnya sedang dilakukan oleh dosen-dosen PAI di berbagai kampus PTU di Indonesia,” kata Ustaz Enzus.

Sementara itu Wakil Rektor I Unsyiah, Prof Dr Marwan dalam sambutan pembukaannya menguraikan kembali betapa penting dan strategisnya dosen PAI ini untuk pengembangan akhlak dan karakter mahasiswa. Terutama sekali dalam menghadapi tantangan dan kemajuan zaman yang semakin kompetitif. 

“Oleh karenanya bekal keimanan dan ketaqwaan merupakan pilar-pilar yang sangat diharapkan dapat dimiliki oleh para mahasiswa di perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi umum baik di Aceh maupun Indonesia secara keseluruhan. Hal itu tentunya untuk membentengi diri dari pengaruh dan budaya yang tidak sesuai dengan Islam,” kata Prof Marwan.

Sarasehan tersebut menghadirkan pembicara utama guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga Menteri Agama RI Kabinet Gotong Royong periode 2001-2004 Prof Dr Said Agiel Husein Al Munawar. Selain itu juga narasumber lainnya, diantaranya Sekjend Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam Indonesia (ADPISI) Pusat, Dr Andy Hadiyanto, Ketua pengembangan Organisasi ADPISI Pusat, Dr Waway Qodratullah, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Prof Dr Mustanir dan juga Ketua BKM Jamik Darussalam Unsyiah, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc.

ADPISI Aceh Dilantik
Bersamaan dengan sarasehan dosen-dosen PAI se-Indonesia di Unsyiah ini, juga dilaksanakan pelantikan Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam Indonesia (ADPISI) Aceh periode 2019-2024.

ADPISI merupakan wadah resmi yang menaungi seluruh dosen-dosen pengajar mata kuliah PAI di perguruan tinggi umum se-Indonesia. Untuk Aceh baru kali ini dibentuk kepengurusannya dan sekaligus menjadi cabang dari ADPISI Pusat. 

Kepengurusan ADPISI Aceh ini diketuai oleh Prof Dr drh Muslim Akmal dari Unsyiah dengan wakil ketua Samwil, S.Pd.I, MA (Universitas Teuku Umar), sekretaris umum Dr Rahmat Fadhil (Unsyiah), wakil sekretaris Zulfahmi, M.Ag (ISBI Aceh), bendahara Enzus Tinianus, SH, MH (Unsyiah), wakil bendahara Zarkasyi SHI, M.HI (Unimal). Selain itu kepengurusan ADPISI Aceh juga memiliki divisi-divisi dibawahnya, antara lain divisi pendidikan dan SDM, divisi pengembangan jaringan dan organisasi, divisi media dan publikasi, divisi penelitian dan kajian, dan divisi pengabdian masyarakat. 

Ketua ADPISI Aceh, Prof Dr drh Muslim Akmal dalam sambutannya mengingatkan bahwa ADPISI Aceh lahir untuk mewadahi dosen-dosen PAI pada perguruan tinggi umum se Aceh agar menjadi sarana saling menguatkan, berbagi pengalaman dan pengembangan kapasitas tenaga pengajar agar dari waktu ke waktu dapat menjadi semakin lebih baik dan berkualitas. 

Selain itu tambahnya, keberadaan ADPISI Aceh diharapkan akan menjadi penggerak untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan dalam mendidik mahasiswa-mahasiswa diberbagai perguruan tinggi umum yang saat ini semakin marak semangat beragama.

“Termasuk juga sebagai antisipasi terhadap berbagai pemikiran dan ajaran yang menyimpang.  Terutama terhadap pemahaman-pemahaman yang menjauhkan mereka dari hakikat dan Syariat Islam. Semoga saja usaha ini menjadi amal jariah bagi kita semua,” pungkas Prof Muslim Akmal. (murdani tijue)
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top