Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

Ilustrasi
Muhasabah 21 Muharam 1441
Saudaraku, sudah lazim disampaikan bahwa yang namanya idealitas itu dunia normativitas, dunia cita-cita, dunia harapan atau impian, sedangkan realitas adalah historisitas, dunia fakta, nyata, terjadi, aktualinya. Bila keduanya sama, dalam pengertian bahwa antara cita-cita dan fakta sama; antara harapan dan kenyataannya tidak berbeda; idealitas mewujud dalam realitas maka alangkah bersyukurnya kepada Allah ta'ala atas karunia kebahagiannya.

Ilustrasinya seperti bercita-cita ingin menjadi dokter (atau anggota dewan, menteri,  dosen, pilot, hafiz Qur'an ...) atau mau naik haji (atau umrah, berwakaf, shalat di Raudhah, ...) dan alhamdulillah kesampaian jadi dokter (atau jadi anggota dewan, jadi menteri,  jadi dosen, jadi pilot, jafi hafiz Qur'an...) dan kesampaian dapat menunaikan haji (atau menunaikan umrah, berwakaf, shalat di Raudhah, ...).

Idealnya umat Islam yang disiplin karena Al-Qur'an dan Hadis mengajarkan kedisiplinan dan tuntutan menghargai waktu, ternyata mewujud dalam realitas. Begitu juga harapan umat Islam berlaku bersih, cerdas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, berkeadaban, sopan, santun, ramah, dan berakhlaqul karimah menjadi kenyataan dalam kehidupan praktis.

Dan tentu masih banyak sekali ilustrasi yang menggambarkan betapa mudahnya hidup ini apabila antara idealitas dan realitas itu sama, cita-cita terpenuhi semua, impiannya kesampaian semua. Tetapi hifup tetaplah ujian, karena ternyata hidup dan kehidupan di dunia ini tetap menyediakan selainnya dan di sini justru dinamika dan makna jihadnya menjadi terasa. 

Ternyata tidak semua idealitas mewujud dalam realitas; tidak semua cita-cita menjadi fakta; tidak semua impian menjadi kenyataan. Statemen seperti ini mengingatkan kita pada "masalah yang harus ada" saat belajar, terutama saat mau menulis artikel, atau karya ilmiah atau penelitian lainnya. Justru dari rumusan pernyataan masalah penelitian ini nanti melahirkan rumusan pertanyaan masalah dalam tulisan atau penelitian yang akan dilakukan.

Di antara rumusan pernyataan masalah dapat diungkapkan ketika terjadi kesenjangan antara idealitas dan realitas; antara cita-cita dan fakta; antara harapan dan kenyataan; antara normativitas dan historisitas; antara das sollen dan das sein. Nah dari gab inilah nanti perlunya dicari jawabannya tentang apa, siapa, di mana, kapan waktunya, bagaimana bisa dan mengapa seperti itu dan seterusnya..

Nah begitulah saudaraku, betapa pentingnya masalah saat mau  menulis artikel atau meneliti. Harusnya begitu juga halnya dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Karena ada banyak sekali harapan yang digadang-gadang, namun kenyataan yang datang tidak sebesar harapan. Mempunyai cita-cita setinggi bintang, tetapi fakta yang dialami berbeda. Dan seterusnya

Dalam konteks ini Ali bin Abu Thalib pernah berwasiat bahwa "Apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi maka senangilah apa yang terjadi." 

Dalam iman Islam, apapun yang sudah terjadi adalah bagian dari ketentuan dan takdir Allah yang maha bijaksana dengan tetap mengakomodir hal ikhwal sebab yang mengantarainya. Oleh karenanya apapun yang sudah terjadi mestinya diterima dengan ridha dan disyukuri sembari mengevaluasi untuk perbaikan menyongsong masa datang. Mensyukuri yang ada sembari berusaha menjemput apapun yang kita suka. Inilah sikap bersyukur yang melahirkan sikap optomis meraih masa depan. Bila hal ini sudah bisa dikukuhkan, maka sudah sepantasnya kita mensyukurinya, baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri dengan hati yakni meyakini bahwa kondisi dan capaian yang ada sekarang ini adalah kondisi dan capaian terbaik menurut ukuran ketetapan Allah ta'ala, oleh karenanya mestinya diterina dengan penuh ridha seraya dijadikan sebagai ibrah untuk perbaikan masa kini guna menyongsong masa depan yang lebih menjanjikan.

Kedua, mensyukuri dengan lisan sersya melafalkan alhamdulillahi rabbil 'alamin, semoga kita dapat terus meningkatkan kuantitas dan kualitas keimanan kita sehingga kita senantiasa ridha terhadap takdirNya 

Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret, ridha terhadap ketetapan Allah ta'ala seraya berdoa dan berusaha lebih intensif menjemput karuniaNya.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Rabbal'alamin ya Syakur. Ya Allah, zat yang maha memelihara seluruh alam semesta, bimbing kami menjadi hamba-hambaMu yang pabdai bersyukur.
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top