Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

Ilustasi
Muhasabah 30 Zulhijah 1440
Saudaraku,  alhamdulillahi rabbil "alamin hari ini kita sudah disampaikan oleh Allah di hari terakhir tahun 1440 hijriyah. Esok sudah memasuki hari dan bulan bulan pertama Islam tahun 1441 hijriyah. Bila muhasabah menjadi agenda penting pada setiap akhir tahun, maka kita sudah melakukannya, bahkan saban hari setiap kesempatan. Makanya semboyannya adalah tiada hari tanpa hisab; tiada masa tanpa muhasabah sampai benar-benar tiba saatnya di hari perhitungan sesungguhnya pada Yaumul Hisab di hari akhirat kelak. Dalam rangka muhasabah, hari ini kita masih mengulangkaji tentang sikap religiusitas kita, oleh karenanya berangkat dari ranah esoterik Islam (dimensi akhlak tasawuf).

Dalam perspektif esoterik Islam, ketenangan dan kerisauan merupakan hal (jamaknya ahwal) atau kondisi psikologis yang lazim datang bergantian ke atas seseorang lantaran sebab-sebab tertentu. Nah bagaimana memposisikannya satu atas lainnya? Insyaallah menjadi tema muhasabah kali ini.

Pada suatu waktu atas titah khalifah, Abu Dzar al-Ghifari sahabat besar Nabi terpaksa berangkat ke dusun Rabadzah sebagai tempat pengasingannya di masa kekhalifahan Usman bin Affan. Saat itu Ali bin Abi Thalib tidak tega dan melepaskan kepergiannya dengan beberapa untaian nasihat hikmah. Di antara pesan yang disampaikan oleh Ali kepada Abu Dzar adalah wahai sahabat karib Rasulullah!... jangan sekali-kali membiarkan sesuatu yang mendatangkan ketenangan bagimu selain kebenaran. Dan jangan membiarkan sesuatu yang menyebabkan kerisauan bagimu selain kebathilan. 

Iya saudaraku, pesan moral nasihat di atas adalah agar kita merasa tenang nyaman hati saat berlaku benar dan bahagia melihat kebenaran, sementara harus risau atau gelisah serta menyesal saat terlanjur berbuat salah dan risau melihat terjadinya kesalahan apalagi kemungkaran dalam hidup ini. Ukuran dan kriteria benar atau salah; haq dan bathil di sini tentu menurut syar'i. 

Dalam iman Islam, kebenaran dan perilaku yang benar adalah energi positif yang akan melahirkan rasa bahagia, hati tenang, hidup aman nyaman tenteram. Sebaliknya kebathilan dan perilaku yang salah adalah energi negatif yang  mengakibatkan dosa, dan dosa pasti melahirkan beban, hati gelisah, hiduppun menjadi susah.

Oleh karenanya seandainya sudah berlaku benar tetapi belum merasakan ketenangan, maka seyogyanya segera melakukan muhasabah; jangan-jangan belum benar-benar ikhlas atau masih bercampur dengan maksiyat. Dan sebaliknya, melakukan kebathilan tetapi masih tenang-tenang saja, tidak risau, tidak gelisah, maka jangan-jangan hati nuraninya sudah tertutupi atau bahkan sudah mati, sehingga tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil lagi.

Bagaimanapun, antara kebenaran dan kesalahan tidak pernah menjadi bersatu sebagaimana halnya antara yang haq dan yang bathil. Oleh karenanya kebenaran adalah kebenaran dan yang haq tetap haq yang semestinya dimenangkan dalan kehidupan praksis karena mendatangkan ketenangan. Adapun yang perbuatan salah dan bathil cukuplah dijadikan pelajaran untuk segera disadari dan diperbaiki dengan taubat. 

Fenomena kesalahan, atau pelanggaran  atau kebathilan yang terjadi atau bahkan bisa menjadi-jadi, belum tentu disebabkan oleh semakin banyaknya orang jahat atau orang "bodoh", tetapi jangan-jangan disebabkan oleh diamnya orang-orang baik, acuh tak acuhnya para ulama. Oleh karena itu sebagai orang baik harus merasa risau melihat kesalahan atau kebathilan atau kedzaliman yang terjadi. Kerisauan orang-orang baik dan kegelisahan ulama saat melihat pelanggaran mewujud dalam seruan bertaubat dan dakwah ke jalan yang benar.

Saat dapat merasakan ketenangan di hati lantaran berada di jalan yang benar atau di lingkungan yang benar dan risau bila melakukan kesalahan atau melihat kesalahan terjadi, maka semestinya kita mensyukurinya, baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini bahwa perasaan tenang saat benar, risau saat salah menjadi penanda keberimanan seseorang. Di samping itu, juga tentu merasa tenang bahagia saat menyaksikan kebenaran menjadi panglima, dan risau saat melihat kebathilan masih ada.

Kedua, mensyukuri di lisan dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahi raabil 'alamin. Dengan terus memuji Allah dan atas kemahamurahanNya, semoga Allah senantiasa menunjuki kita pada jalan keridhaanNya, selalu berjalan di atas rel kebenaran sehingga nyaman karenanya dan memperbaiki kerusakan yang terjadi di sekitarnya.

Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret, yaitu berniat dengan benar, bertutur kata yang benar, bertindak dengan benar agar memperoleh ketenangan hidup. Di samping itu, karena kerisauannya menyaksikan pelanggaran tentu harus berusaha juga mengingatkannya meski harus berkali-kali.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Salam ya Mukmin, ya Allah ya Salam ya Mukmin, ya Allah ya Salam ya Mukmin...dan seterusnya. Ya Allah, zat yang maha damai sejahtera, zat yang maha menjamin keamanan,  maka anugrahi ketenangan dan kedamaian kepada kami.
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top