Loading...

Oleh Sayed Muhammad Husen

Harapan utama rakyat adalah pemimpinnya berlaku adil dalam multi dimensi kehidupan. Sebab dengan adilnya seorang pemimpin akan berdampak terhadap perubahan yang lebih baik, terpenuhinya perasaan bahagia dan terhindar dari iklim yang memungkinkan rakyat kecewa dan frustasi. Ini harapan ideal dan berlaku universal tehadap kepemimpinan semua tempat dan level. 

Sejak awal “menyeleksi” dan menetapkan pilihan terhadap pemimpin, rakyat telah menaruh harapan besar, bahwa seorang pemimpin mampu mewakili jiwa dan raganya dalam berbagai kondisi. Jiwa dan raga pemimpin bagaikan jiwa dan dan raganya, yang akan melakukan berbagai program dan kegiatan untuk perbaikan, kesejahteraan dan mewujudkan cita-cita bersama.

Karena itu, setiap pemimpin yang dipilih secara demokratis, seharusnya tidak mengubah visi dan misi yang pernah dikampanyekannya. Tidak mengganti program dan kegiatan yang dijanjikannya dihadapan rakyat. Tidak menutup akses terhadap pemilihnya dan sebaliknya membuka ruang lebar kepada out group (orang luar) yang tidak sepaham dengan pemilihnya.

Memang ada keterbatasan pemilih dalam mengawal kepemimpinan. Pemilih seringkali kecewa akibat keterbatasan akses, kurang informasi dan pemimpin berubah haluan. Artinya pemimpin asik dengan dirinya sendiri atau gruop lain, sementara rakyat pemilih dibiarkan frustasi. Lupalah janji dan segudang harapan. 

Bagi kita, inti kepemimpinan adalah sikap adil. Itu pula yang kita ingatkan kepada semua pemimpin (pada semua tingkatan), supaya optimal mengusahakan terwujudnya keadilan kesehatan, keadilan pendidikan dan keadilan ekonomi. Itulah harapan rakyat sebagai pemilih. Hal ini dapat diwujudkan jika pemimpin senantiasa mendengar jeritan dan nurani rakyat pemilihnya. 

Karena itu, kita merasa prihatin apabila ada pemimpin yang hanya merekam harapan rakyat ketika kampanye dan tahapan pemilihan. Selanjutnya dia hanya mendengar pembisik, tim sukses atau pengusaha yang melobinya. Akibatnya sang pemimpin terjebak kepentingan sempit, berpihak kelompok kecil dan lupa prinsip-prinsip keadilan dalam setiap program, kegiatan dan kebijakan. 

Semoga Allah menunjukkan kembali jalan lurus kepada mereka. Jadilah pemimpin sejati yang merakyat dan adil. 

Sumber: Gema Baiturrahman, 7 Februari 2020
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top