Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

sumber ilustrasi: republika.com
Muhasabah 3 Syakban 1441
Saudaraku, dalam iman Islam penciptaan bumi, langit, apapun yang ada di antara keduanya, dan segala yang terjadi - termasuk keberadan atau kehadiran virus tertentu - dapat mengantarkan manusia pada Allah, Rabbuna. Untuk ini istilah yang lazim digunakan adalah tanda. 

Allah berfirman yang artinya, Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.(Qs. Ali Imran 190-192)

"Tanda" dalam bahasa agama disebut "ayat". Maka ayat-ayat Allah dipahami sebagai tanda-tanda yang ketika dibaca akan dapat mengantarkan pembacanya kepada keyakinan adanya Allah atau mengantarkan semakin dekat pada Allah. Karenanya, bisa dimengerti bahwa membaca ayat-ayat Allah menjadi tuntutan yang mula sekali dititahkan dalam Islam.

Allah berfirman yang artinya, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari 'Alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.(Qs. Al-Alaq 1-5)

Lima ayat yang terjemahannya tertera di atas merupakan wahyu atau ayat-ayat qauliah pertama, yang duturunkan oleh Allah kepada Muhammad Al-Amin sekaligus sebagai penanda kenabian beliau. Melalui wahyu inilah, di antaranya nantinya menjadi pilar peradaban manusia yang mengesankan, karena di dalamnya terdapat tuntutan membaca, dan tuntunan mencari ilmu.

Karena obyek yang mesti dibaca tidak disebutkan, maka para mufasir kemudian menjelaskannya bahwa tanda yang harus dibaca adalah apa saja yang tertulis yang difirmankan (ayat qauliah) dan apa saja yang tak tertulis tetapi terbentang yang diciptakan di alam (ayat kauniah). Dengan demikian ayat-ayat Allah secara umum ada dua, yaitu ayat qauliah dan ayat-ayat kauniah.

Pembacaan kreatif dan lillahi ta'ala atas ayat qauliah melahirkan ragam ilmu tentang al-Qur'an hadits dan segala disiplin ilmu turunannya seperti ulumul qur'an, tafsir al-qur'an, ma'anil qur'an, qiraah al-qur'an, ulumul hadits, fiqh ibadah, ushul fiqh, tarikh, akhlak tasawuf  dan seterusnya. Dan semua ilmu ini akan mengantarkan siapapun yang mencari atau menemukan atau memilikinya kepada Allah ta'ala.

Pembacaan kreatif dan lillahi ta'ala atas ayat kauniah, terutama yang dibentangkan pada diri manusia saja dapat melahirkan ragam ilmu dan spesialisasinya seperti spesialis mata, THT, kulit, jantung, penyakit dalam, syaraf, paru-paru, kandungan dll. Sedangkan pembacaan dari segi berfikirnya manusia lahir ilmu filsafat/ilmu hikmah. Pembacaan atas sikap dan perilaku kejiwaannya lahir disiplin ilmu jiwa/psikologi, dari cipta rasa dan karsanya lahir ilmu budaya/antropologi, dilihat dari interaksi dengan sesamanya lahir ilmu sosial/sosiologi, dari catatan masa lalunya lahir ilmu sejarah/tarikh, dari setting sosialnya lahir historiografi, dari cara memengaruhi sesamanya atau memenuhi ambisinya lahir ilmu politik, dari cara berbangsa dan bernegara lahir ilmu ketatanegaraan, dari cara memelihara nilai-nilai yang dipeluknya lahir ilmu pendidikan, dari cara merawat dirinya lahir ilmu kesehatan atau keperawatan, dari cara mengadili perilaku sesamanya lahir ilmu hukum, dari cara mengajak ke jalan yang benar lahir ilmu dakwah dan komunikasi, dari cara memenuhi kebutuhannya lahir ilmu ekonomi, dari cara membangun rumah atau gedung lainnya lahir ilmu teknik kontruksi, dari cara menghitung lahir matematika, dari cara mempertahankan diri dari serangan musuk lahir ilmu bela diri, dari cara menyusun tutur katanya lahir ilmu bahasa, dari cara memasak dan merias diri lahir tata boga, dari segi memperindah suara dan dunianya lahir ilmu kesenian, dari segi beda kelamin dan pemenuhannya timbul seksiologi, dari cara mengelabui pandangan mata sesamanya lahir ilmu sulap atau sihir,  dari segi kejahatan perilakunya lahir kriminologi. Dan seterusnya. 

Adapun pembacaan kreatif atas ayat kauniah yang dibentangkan di alam besar ini juga melahirkan banyak sekali disiplin ilmu. Sekedar mengingatkan kita, membaca cuaca lahir ilmu iklim atau klimatologi, mencermati bumi lahir ilmu geografi, membaca gempa bumi lahir ilmu tentang gempa, memperhatikan makhluk hidup lahir ilmu biologi, mengkaji perbintangan dan tata surya lahir ilmu falak, membaca gunung lahir ilmu geologi?, membaca seluk beluk binatang lahir kedokteran hewan, mencermati alam lahir ilmu pertambangan, perhutanan, pertanian, kelautan dan seterusnya. 

Pembacaan kreatif atas makhluk Allah seperti lebah, laba-laba, semut, lalat, nyamuk dan lainnya juga melahirkan beragam disiplin ilmu yang dengan ilmu itu dapat mengantarkan dirinya semakin dapat mengenal Allah, penciptaNya. Demikian juga pembacaan kreatif atas virus, termasuk virus corona, makhluk ciptaan Allah yang sangat kecil yang kini mendunia menjadi ujian global.

Meski selama ini tidak pernah membaca ayat qauliah (baca al-Qur'an), namun ketika peduli terhadap ayat kauniah melalui makhluk yang bernama virus corona yang telah menjadi pandemi, maka tidak sedikit yang kemudian memperoleh hidayah Islam. Apalagi bagi orang Islam yang selama ini membaca ayat qauliah, maka dengan dihadirkannya ujian covid 19 ini menjadi semakin taqarub ilallah dengan memperbanyak amal ibadah.

Betapa banyak ibrah berharga setelah diuji dengan virus corona. Di antaranya menyadari betapa pentingnya mengusahakan kebersihan, memelihara air wudhuk, menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan dan minuman yang halalan thayiban dan tidak berlebihan, menjaga keluarga dari siksa api neraka, memeluk etika saat berinteraksi dengan sesama dan seterusnya.

Intinya, apapun yang ada dan terjadi di dunia ini menjadi tanda atau ayat yang dengannya manusia dapat "membacanya secara kreatif" sehingga melahirkan ilmu, yang pada akhirnya dapat membantu dirinya dalam meneguhkan keyakinannya kepada Allah. Inilah mengapa orang berilmu itu semakin takut kepada Allah dengan senantiasa mematuhu titahNya, mengerjakan yang diperintah dan meninggalkan segala yang dilarangNya. Allah berfirman yang artinya Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Qs. Faathir 28).

Ketika bisa berhasil membaca ayat-ayat Allah baik yang difirmankan (diwahyukan) maupun yang dibentangkan di alam, sehingga melahirkan sikap religius dengan tetap bijak meresponi segala hal, maka sudah selayaknya kita mensyukurinya. Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini bahwa dengan membaca ayat qauliah dan kauniah, akan menjadi pribadi ulul albab yang senantiasa berzikir dan berpikir dalam rangka menggapai ridha Allah ta'ala. Kedua, mensyukuri dengan lisan seraya melafalkan alhamdu lillahi rabbil 'alamin, semoga Allah melimpahkan hidayahNya kepada kita sehingga tetap istiqamah membaca ayat-ayatNya dan mengindahkan titahNya. Ketiga mensyukuri dalam perbuatan nyata, yaitu berusaha terus membaca, membaca dan membaca terhadap ayat-ayat Allah baik yang tertulis maupun tersirat, baik wahyuNya maupun alam sebagai makhlukNya agar dapat memeluk syariat, hakikat dan makrifat kepadaNya.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati dan penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Rahman ya Rahiim ya 'Alim, ya Allah zat yang maha pengasih, zat yang maha penyayang, zat yang maha mengetahui, tunjukilah kami jalan untuk meraih ridhaMu ya Rabb.
SHARE :
 
Top