Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

sumber ilustrasi: wordpress.com
Muhasabah 9 Syakban 1441
Saudaraku, dengan keimanan yang terpatri di hati, kita meyakini sepenuhnya bahwa Allah senantiasa bersama kita, kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Inilah mengapa, orang-orang beriman merasa aman, nyaman dan tentram dalam mengarungi hidup ini.

Allah berfirman yang artinya Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Qs. Al-Taubah 40)

Itulah di antara riwayat kedekatan sekaligus kebersamaan hambaNya, yaitu Nabi Muhammad saw dengan Allah Rabbnya, yang kemudian menentramkan hati sahabat mulia Abubakar al-Shiddiq ra saat singgah "bersembunyi" dari kejaran pembunuhan oleh orang-orang kafir Quraisy di Gua Tsur. 

Untuk meraih ketenangan jiwa, ketentraman hati dan kebahagiaan yang menyelimuti, kita sebagai umatnya juga dituntun untuk terus menghadirkan Allah dalam setiap keadaan dan aktivitas kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Inilah ajaran ma'iyatullah. Allah hadir di hati, terucap dzikir di lisan, dan mewujud dalam perilaku konkret.

Di saat merasa senang karena memperoleh curahan karunia atau rezeki dariNya berupa hidup dalam Islam dan iman, sehat wa afiat, pikiran jernih cerdas, hati tawadhuk bersyukur, dikaruniai harta yang cukup, kesempatan menambah pundi-pundi amal kebajikan, kita ingat asmaNya Allah yang indah sembari menyebutNya ya Allah ya Razzaq, ya Allah ya Wahhab. Ya Allah yang maha mengaruniai rezeki, ya Allah yang maha memberi pemberian yang melimpah ruah.

Di saat bangun tidur kita bersyukur memanjatkan doa menyongsong dunia baru dengan ghirah dan gairah lebih yang baik, lalu mengambil air sembahyang, shalat sunah malam, shalat fajar dan atau subuhan yang fadhilahnya berupa kebaikan seisi perbendaharaan yang ada di antara langit dan bumi, tilawah al-Qur'an kita basahi lisan dengan terus menyebut asmaul husnaNya. Misalnya ya Allah ya Hayyu, ya Allah ya Muhyi, ya Baa'its, ya Mu'id. Ya Allah zat hidup, zat yang maha menghidupkan, zat maha membangkitkan semangat, zat yang maha mengembalikan kehidupan normal atas makhlukNya.

Di saat beraktivitas di rumah sembari melakukan sanitasi lingkungan pekarangan rumah, menyapu halaman, membersihkan kamar mandi, memperindah tampilan kediaman dan panorama sekelilingnya, kita menyebut asmaNya ya Allah ya Jalal, ya Allah ya Wakil ya Allah ya Mu'id. Ya Allah yang maha gagah perkasa melakukan apa saja, maha melindungi dengan sesempurna perlindungan, maha mengembalikan suasana menjadi normal kembali, ya Allah kepadaMu ya Rabb kami berserah diri, tiada daya dan tiada upaya kecuali atas daya upaya dari perkenan dan keridhaanMu ya Allah.

Begitu seterusnya hari demi hari, kita meneguhkan hati bahwa Allah selalu bersama kita,. sehingga tiada saat yang luput dari mensyukurinya, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-hambaNya. Kedua, mensyukuri dengan lisan, yakni melafalkan alhamdulillahi rabbil'alamin, semoga kita dapat istiqamah dalam muraqabah. Ketiga, mensyukuri dengan tindakan nyata, yakni  mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.

Dzikir pengkondisian hati guna menjemput hidayah Allah ta'ala agar dikarunisi hati yang istiqamah dalam ketaatan adalah membasahi lisan dengan lafal Allah ya Rahman,  ya Rahim, ya Malik, ya Quddus, ya Salam dan setetusnya.
SHARE :
 
Top