Oleh Resi Karija

sumber ilustrasi: www.gatra.com
Apa yang disebut dengan alam semesta sering disinonimkan dengan istilah-istilah lain, seperti semesta raya,jagad raya. Secara umum, alam semesta dapat dipahami sebagai mikro-kosmos beserta keseluruhan yang tersedia didalamnya, dan berbagai keteraturan atau regularitas dan stabilitas yang terjadi dalam keberlangsungannya. Secara sederhana,alam semesta terdiri dari langit dan bumi, keduanya mewakili ciptaan tuhan didunia. Berbagai bentuk rupa bumi seperti dataran tanah, laut, kutub, pegunungan, gurun dan pantai. Rupa langit yang terdiri dari planet-planet juga bintang-bintang yang hidup diatas bumi sana. Al quran yang diturunkan kepada Rasulullah bukanlah omong kosong, murni firman dari Allah.

Al quran juga menjelaskan bagaimana asal muasal alam semesta tercipta, dan penelitian abad 19 menunjukan kesamaan hasil penelitian dengan yang termaktub dalam Alquran yang turun sekitar 610 Masehi. Dalam salah satu materi mengenai terciptanya alam semesta (teori big bang), disebutkan bahwa alam semesma tercipta dari sebuah ledakan kosmis sekitar 10-20 miliar tahun yang lalu yangmengakibatkan adanya ekspansi (pengembangan) alam semesta.

Sebelum terjadinya ledakan kosmis tersebut, seluruh ruang materi dan energy terkumpul dalam sebuah titik. Mungkin banyak diantara kita yang telah membaca tentang teori tersebut. Sekarang, mungkin ada diantara kita yang ingin tahu bagaimana al quran menjelaskan tentang terbentuknya alam semesta ini.

Dalam Q.S Al-Anbiya (Surat ke 21) Ayat 30 disebutkan penciptaan alam merupakan bukti kekuasaan dan kebesaran allah swt. Kenyataan tersebut membuktikan kemahaluasan ilmu allah dibandingkan pengetahuan yang kita miliki. Tidak ada kesulitan bagi allah untuk mencipta juga menghancurkan alam semesta ini.

Menurut teori sains, alam semesta terbentuk dari beberapa teori yaitu teori keadaan tetap, teori dentuman besar (big bang), teori terbentuknya galaksi dan tatasurya dan teori tiodal. Tidak hanya itu analisa baru pada isotope besi dalam meteorit yang dilakukan ilmuwan baru-baru ini mengungkapkan bagaimana kelahiran bumi di tata surya ini.

Pada masa-masa awal tatasurya, ternyata bayi bumi membutuhkan waktu yang jauh lebih singkat untuk terbentuk. Menurut analisa baru seperti melansir Science Alert, Jumat 21 Februari 2020, pada isotop besi yang ditemukan di meteorit, sebagian besar bumi hanya membutuhkan 5 juta tahun untuk bersatu. Fakta baru ini mengungkapkan waktu kelahiran bumi yang lebih cepat dari model studi yang dilakukan sebelum-sebelumnya. Wallahu A'lam Bishawab.

(Dari Bebagai Sumber)

Penulis adalah Mahasiswi Pendidikan Geografi STKIP Al Washliyah Aceh.
SHARE :
 
Top