Loading...

Oleh: Nursalmi, S.Ag
Daiyah Kota Banda Aceh 
dan Penulis Buku Madrasah Ramadan

Setiap muslim pasti merasa bahagia bersama Ramadhan. Begitu juga dengan Warga Binaan Pemasyarakatan yang sedang berada di Lapas, meskipun gerak mereka terbatas di balik tembok dan jeruji besi, namun mereka merindukan Ramadhan. Bahkan mereka mengharapkan Ramadhan di Lapas bisa dirasakan seperti Ramadhan di kampung halaman.  

Saya salah seorang ustazah yang lebih dari sepuluh tahun keluar masuk Lapas di berbagai daerah. Tetapi bukan sebagai warga binaan. Saya termasuk salah seorang da’iyah yang ditugaskan mengisi kajian di Lapas, khusus untuk Warga Binaan Perempuan. Kadang juga mengajarkan tahsin Al-Quran untuk mereka. Dalam beberapa kesempatan, saya diminta mengisi ceramah tarawih disana. Bagi saya, ini kesempatan luar biasa, dan merupakan suatu kebahagian, karena bisa berbagi manfaat dengan mereka ketika orang lain tidak berani atau merasa kurang nyaman masuk ke Lapas. Di sana saya bisa ngobrol panjang lebar dengan mereka. Bisa mendengar keluh kesah mereka menghadapi berbagai problematika hidup, hingga mengantarkan mereka menjadi penghuni Lapas. 

Banyak hal menarik diambil ibrah disana. Ternyata di Lapas banyak orang pintar, bahkan ada juga guru dan ustaz. Tahun pertama mungkin mereka agak syok, karena harus menjalani Ramadhan di Lapas. Tetapi sebenarnya keberadaan mereka disana banyak membawa manfaat bagi Warga Binaan lain. Bisa berbagi ilmu dan membina mereka menjadi pribadi yang baik. 

Meskipun umat Islam merasa gembira menyambut Ramadhan, namun berbeda dengan warga di Lapas. Mereka menyambutnya dengan hati yang mendua, setengah gembira dan setengah sedih. Di satu sisi gembira karena Ramadhan bulan yang agung, penuh berkah, membawa banyak hikmah, namun di sisi lain bersedih karena tidak bisa menjalani Ramadhan bersama keluarga tercinta. Anak merindukan orang tua dan sebaliknya orang tua juga merindukan anaknya. Ingin sahur bersama, berbuka puasa bersama dan pergi tarawih bersama. Yang lebih sedih lagi, karena orang tua yang sedang menjalani masa hukuman, tidak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya, sementara di bulan Ramadhan dan lebaran membutuhkan biaya ektsra, yang berbeda dengan hari-hari biasa. 

Untuk mengurangi rasa kesedihan para Warga Binaan, pihak Lapas menghadirkan suasana yang menyenangkan, agar mereka bisa merasakan Ramadhan seperti di kampung halamannya. Membuat Lapas benar-benar seperti “pesantren”. Di samping kegiatan shalat fardhu lima waktu secara berjamaah, juga diisi dengan sejumlah agenda yang telah diprogramkan khusus selama sebulan penuh. 

Setiap malam diadakan shalat tarawih berjamaah, dengan imam yang qari dan bilal yang membacakan shalawat, serta zikir-zikir di sela-sela rakaat tarawih dengan suara yang merdu. Dihadirkan pula beberapa penceramah bergantian setiap malam dengan berbagai tema dakwah tentang ilmu agama Islam, serta tazkiatun nufus untuk merenungi dosa-dosa dan berusaha memperbaiki diri menuju ketakwaan,  sesuai dengan tujuan puasa itu sendiri, agar menjadi orang orang bertakwa. Setelah shalat tarawih diadakan tadarus Al-Quran sampai waktu sahur. 

Setiap siang hari diagendakan pengajian mulai Senin sampai Jumat, dengan materi yang berbeda dan diisi oleh beberapa orang ustaz, persis kelas di pondok pesantren. Ada kelas tahsin Al-Quran, tahfizhul Quran, fikih, hadits, shirah nabawiyah. Ustaz yang dihadirkan banyak lulusan Timur Tengah dan juga dari dayah yang ada di wilayah Lapas tersebut. Untuk menambah meriah suasana Ramadhan diadakan juga buka puasa bersama dan peringatan Nuzulul Quran, dengan mengundang penceramah kondang, agar mereka benar-benar merasakan ruh Ramadhan yang begitu berkesan. 

Suasana tercipta benar-benar membuat mereka seolah-olah sedang menjalankan Ramadhan di kampung sendiri. Hanya geraknya saja yang terbatas. Tidak boleh keluar dari tembok Lapas. Hal ini membuat mereka nyaman, sehingga tidak berpikir dan rencana tidak baik dari mereka, seperti mencoba melarikan diri dari Lapas, sebelum waktunya bebas. 

Saya pernah berdialog dengan salah seorang Warga Binaan yang sudah dipercayakan menjadi imam shalat tentang keberadaan mereka di sana. Jawabannya luar biasa. Mereka tidak membayangkan kehidupan di Lapas seperti ini, karena semua orang mengira Lapas itu seram dan penuh dengan prilaku tidak baik antar sesama Warga Binaan, serta petugas yang kasar dan kejam. Mereka membayangkan, selama di Lapas tidak akan ada lagi kesempatan untuk shalat Jumat, shalat tarawih, dan mengikuti majelis. Ternyata suasananya jauh dari yang dibayangkan orang-orang di luar. “Selama mengikuti ceramah tarawih dan pengajian rutin di Lapas membuat kami inshaf, kembali menjadi pribadi yang baik, bermanfaat bagi orang lain, bukan sebaliknya. Kami ingin keluarga dan masyarakat bisa menerima kami kembali nanti, ketika kami bebas dan berada tengah tengah mereka.” Begitu katanya. 

Pernah juga saya mendengar cerita di luar Lapas. Ketika seorang mantan narapidana bebas dan kembali ke kampung halaman. Dia merasa bersyukur sempat masuk ke Lapas. Menurutnya, mungkin Allah kirim dia beberapa bulan ke Lapas untuk merasakan bagaimana hidup dalam kurungan. Kemudian hikmah yang dapat diambil, bahwa selama di Lapas dia sempat mengikuti taklim, mempelajari berbagai ilmu agama, yang tidak didapatkan di luar, sebab terlalu sibuk dengan urusan dunia. Karena itu  menjerumuskannya ke dalam maksiat, lalu mengantarkannya ke Lapas. Kehidupan di luar Lapas membuat dia bebas “terbang” kemana saja dia suka, waktu terbuang percuma, lupa mencari ilmu agama, dan ibadah pun tidak maksimal. Lapas membuat dia insaf kembali ke jalan Allah. 

Bagi Warga Binaan yang menyadari dan mengambil hikmah keberadaannya di Lapas, bisa mengubah prilaku ke arah yang lebih baik. Lapas dijadikan tempat berbenah menjadi orang yang bermanfaat, untuk diri sendiri, keluarga, dan bagi masyarakat. Kenyamanan di Lapas bukan untuk membuat mereka betah dan ingin kembali lagi menjadi Warga Binaan, namun pembinaan yang diberikan untuk membuat mereka menyadari tujuan hidup di dunia sebagai hamba Allah yang harus tunduk dan patuh kepada perintah Allah.  Meninggalkan segala larangannya. Itulah pribadi muttaqin. 

Rasulullah saw menyuruh kita bertakwa dimana saja berada. Lapas juga bisa menciptakan ketakwaan  bagi Warga Binaan maupun bagi petugas Lapas. Lapas juga menjadi ladang pahala bagi pegawai. Jika pembinaan yang baik diberikan kepada Warga Binaan, maka dia akan mendapatkan surga, sebaliknya jika yang diberikan bukan pembinaan, malah menambah menjerumuskan mereka ke arah yang lebih buruk maka nerakalah yang didapat. Semoga seluruh Lapas yang ada bisa dijadikan lembaga membentuk warga binaannya menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah Swt.
SHARE :
 
Top