Loading...

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc, MA
Ketua STAI Al-Washliyah Banda Aceh

Beliau lahir dari keturunan ulama pemangku jabatan Qadhi. Ayahnya bernama Qadhi Chik Teungku Muhammad Husein bin Muhammad Su’ud, seorang ulama di wilayah Lhokseumawe. Demikian pula dari jalur ibunya Teungku Amrah binti Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Tengku Abdul Aziz. Disebutkan bahwa ibunya merupakan keturunan ulama dan juga bangsawan Aceh. 

Teungku Muhammad Hasbi Shiddieqy lahir di Lhokseumawe pada 1904, semenjak kecil beliau telah ditanamkan semangat dalam belajar dan mencintai ilmu. Perjalanan intelektual Teungku Muhammad Hasbi Shiddieqy dimulai dari belajar langsung kepada orang tuanya yang juga seorang ulama dan qadhi. 

Setelah dibimbing oleh ayahnya dalam ilmu-ilmu dasar, pada usia delapan tahun mulailah beliau melakukan pengembaraan ilmu, dimulai dari Dayah Piyeung Aceh Besar belajar kepada seorang ulama yang bernama Teungku Abbas. Di Dayah Piyeung beliau lebih memfokuskan ilmu nahwu dan sharaf. Tidak lama beliau di Piyeung kemudian menuju ke Dayah Teungku Chik di Bluk Bayu dan seterusnya ke Dayah Teungku Chik di Blang Kabu Geudong dan kemudian di Dayah Blang Manyak Samakurok, tidak lama beliau didayah tersebut dalam rentang setahun-setahun. 

Paling lama Teungku Muhammad Hasbi Shiddieqy di Dayah Tanjungan Samalanga, dayahnya Abu Idris Tanjungan ayah dari Teungku Haji Abdul Hamid Samalanga atau yang dikenal dengan Ayah Hamid. Di Dayah Tanjungan beliau menetap sampai tahun 1925. Beliau juga belajar menulis latin kepada anak gurunya yaitu Teungku Abdul Hamid. Setelah menimba ilmu selama tiga belas tahun dari dayah ke dayah, pada 1925 beliau sudah diijazahkan oleh gurunya untuk mendirikan dayahnya sendiri. Disebutkan pula bahwa bahwa beliau pernah beberapa bulan belajar secara khusus kepada ulama Aceh Teungku Haji Hasan Kruengkalee di Siem.

Walaupun sudah menjadi seorang alim, Teungku Muhammad Hasbi Shiddieqy kemudian pada 1926 berangkat ke Jawa untuk belajar kepada salah seorang ulama pembaharuan yang berasal dari Sudan yaitu Syekh Ahmad Soerkati. Selama dua tahun beliau memperdalam ilmunya pada ulama tersebut, yang kemudian mengubah haluan berpikir beliau, sehingga lebih memilih aliran pembaharuan daripada aliran dayah yang selama ini telah dijalaninya. 

Karena pemikirannya yang sudah sedikit berbeda dengan para ulama lainnya, maka beliau kemudian tidak diidentikkan lagi sebagai ulama dayah, namun dianggap sebagai tokoh dari ulama pembaharuan. Bahkan pernah di Krueng Manee ketika Ampon Lutan, Ulee Balang Krueng Manee ingin menunjuk qadhi di wilayah tersebut, maka pilihan dari lulusan Dayah Abu Idris Tanjungan mengkerucut kepada Teungku Muhammad Hasbi Shiddieqy dan Teungku Abubakar yang dikenal dengan Abu Cot Kuta, maka pilihan jatuh ke Abu Cot Kuta.

Setelah beberapa tahun membina masyarakat di madrasah yang dibangunnya, beliau juga mulai berkenalan dengan para ulama berhaluan pembaharuan lainnya seperti Teungku Abdul Wahab Kenaloi, Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, Teungku Muhammad Daud Bereueh, Teungku Abdul Hamid Tanjungan, dan para ulama lainnya yang umumnya tergabung dalam PUSA, maka tergeraklah keinginan Teungku Muhammad Hasbi berangkat ke luar Aceh, yaitu ke Yogyakarta terhitung dari 1951, mulailah beliau berkarir mengajar di IAIN Sunan Kalijaga. Iklim yang baru ini beliau rasakan lebih sesuai dengan haluan pemikirannya.

Pada 1960 beliau ditunjuk sebagai Dekan Fakultas Syariah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bahkan ketika dibuka Fakultas Syariah di IAIN Aceh di tahun enam puluhan beliau sempat menjadi dekan sementara. Sebagai seorang ilmuan yang andal beliau kemudian banyak menulis dalam berbagai cabang keilmuan Islam, mulai dari fiqih, hadis, tafsir, tauhid dan berbagai judul yang lain, sehingga atas kiprahnya ini beliau diberikan gelar honouris causa sebagai professor dari dua universitas berbeda yaitu IAIN Sunan Kalijaga dan Universitas Islam Bandung. 

Walaupun memang tulisan-tulisan beliau dan ijtihad-ijtihannya kadang-kadang banyak yang dianggap terlalu berani dan diluar dari pandangan jumhur ulama, hal ini disebabkan mungkin karena keluasan bacaan dan luasnya referensi yang terkadang telah memasuki mazhab-mazhab yang tidak mu’tabar dan tidak diikuti oleh ummat Islam secara umum. Namun demikian, atas tulisan-tulisannya yang banyak menempatkan Prof Hasbi Shiddieqy sederetan dengan ilmuan penulis Indonesia lainnya seperti Prof Hamka, Prof Mahmud Yunus, Prof Abu Bakar Aceh, Dr Mohammad Natsir, KH Firdaus AN, Ustadz A Hasan dan ilmuan lainnya.

Bila dibuat daftar para ilmuan Indonesia masa sesudah kemerdekaan yang produktif menulis dalam bahasa Indonesia selain nama Buya Hamka, maka dari sepuluh besar pasti ada nama Prof Hasbi Shiddieqy total tulisannya sebanyak 73 judul dalam berbagai keilmuan. Ada yang satu jilid dan ada pula yang berjilid-jilid dalam satu judul seperti karyannya dalam bidang tafsir. 

Dengan kiprah keilmuan yang luas Prof Hasbi dianggap oleh para peneliti hukum sesudahnya sebagai seorang cendekiawan Islam Indonesia yang tulisannya banyak dikaji. Setelah sekian lama bergelut dalam dunia pendidikan Islam, pada 1975 setelah beliau mendapatkan dua gelar honouris causa, menjelang keberangkatan haji, dalam masa karantina wafatlah ulama dan ilmuan Aceh yang hebat itu. 

Turut memberikan sambutan pada pelepasan beliau adalah Buya Hamka dan Mr Muhammad Roem. Rahimahullah rahmatan wasi’atan.

Editor: smh
SHARE :
 
Top