Loading...

Oleh Umu Rahmah, S.IP


Sumber ilustrasi: sindonews.com
Baru-baru ini konsentrasi perhatian masyarakat dunia tertuju pada situs sejarah Ayasofya (Hagia Sofya). Sejak tahun 1934 Presiden Pertama Republik Turki Kemal Attaturk mengubah bangunan termegah di dunia ini menjadi museum. 

Memang betul dalam catatan sejarah Kristen ortodoks sebelumnya Ayashofya merupakan gereja dan dialih fungsikan menjadi mesjid pada Selasa 29 Mei 1543 bersamaan dengan penaklukan konstantinopel oleh Sultan Mehmed II atau yang lebih dikenal dengan sebutan Muhammad al-Fatih. 

Jum'at 10 Juli 2020 pengadilan Turki secara resmi membatalkan keputusan pemerintah tahun 1934 yang telah mengubah Ayashofya menjadi museum. Itu artinya bangunan khas abad ke - 6 ini kembali menjadi mesjid. Tentu masyarakat Muslim seluruh dunia sangat mengapresiasi sebuah keputusan yang berat untuk dilakukan. Presiden Turki Erdogan dinilai telah mengambil langkah tepat meskipun sebelumnya banyak tekanan dari Eropa dan barat terutama Amerika Serikat. 

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Morgan Ortagus mengatakan "Kami kecewa dengan keputusan pemerintah Turki mengubah status Hagia Sophia" dikutip dari internasional.sindonews.com.

Tak hanya itu, protes juga datang dari Unesco. Melalui situs resminya. Direktur Jenderal Unesco Audrey Azoulay mengatakan sangat menyesalkan keputusan pihak berwenang Turki, yang dibuat tanpa diskusi sebelumnya untuk mengubah Hagia Sophia.

Ia melanjutkan, "Hagia Sophia adalah mahakarya arsitektur dan kesaksian unik untuk interaksi antara Eropa dan Asia selama berabad-abad. Statusnya sebagai museum mencerminkan sifat universal warisannya dan menjadi simbol yang kuat untuk dialog". Tutur Audrey Azoulay pada situs resmi en.unesco.org. 

Terlepas dari kicauan Barat dan Eropa tentang beralihnya Ayashofya menjadi mesjid. Seperti memulihkan ingatan umat Islam bahwa penaklukan konstantinopel melalui tangan Sultan Mehmed II adalah bukti mewujudkan lisan Rasullullah. Berkata Abdullah bin Amru bin Ash "Bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah untuk menulis, lalu Rasulullah SAW ditanyakan tentang kota manakah yang di futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Maka Rasul menjawab. 'Kota Heraklius terlebih dahulu' Yakni Konstantinopel" (HR. Ahmad). 

Berabad setelah sabda itu lahir dari lisan Baginda Rasul. Generasi ke generasi mulai berusaha keras mewujudkan sabda Nabi. Dalam catatan sejarah Islam upaya penaklukan Konstantinopel telah dilakukan sebanyak delapan kali oleh umat Islam. 

Penaklukan pertama dilakukan oleh Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan pada tahun 669 M, dimana pasukannya dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah. Meskipun sempat mengepung Kota Konstantinopel namun pasukan gagah ini gagal menaklukkan kota terindah pada masanya. 

Penaklukan kedua dilakukan oleh Sulaiman bin Abdul Malik (98 H). Pengepungan melalui darat dan udara inipun gagal. Selanjutnya upaya penaklukan konstantinopel tetap dilakukan pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid pada tahun 165 H. Pasukannya dapat mencapai pinggiran Kota Iskedar kemudian Ratu Romawi kala itu menginginkan perdamaian dan berjanji akan membayar jizyah. Sultan Ar-Rasyud setuju dan kembali tanpa melakukan penaklukan.

Kemudian, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (98 H) pada masa Kekhalifahan Umayyah, Khalifah Harun al-Rasyid (190 H) masa Kekhalifahan Abasiyyah. Selain itu pada masa Utsmaniyah, Sultan Beyazid I (796 H) dan Sultan Murad II (824 H) juga tercatat dalam usaha pembebasan Konstantinopel, namun belum juga berhasil. (Sumber dari situs islamtoday.id). 

Baru melalui  kegigihan dan semangat yang  pantang menyerah untuk membuktikan sabda Rasulullah, Konstantinopel berhasil ditaklukan oleh Sultan  Mehmed II. Sebelumnya Rasul juga bersabda. "Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]. Sultan Muhammad al-Fatih Bin Murad ini mewujudkan sekaligus dua hadist Rasulullah. Sungguh menggetarkan iman dan semangat kita sebagai Muslim. 

Kini sejarah seperti terulang kembali. Semangat yang bergelora pada tahun 1534 saat Muhammad al-Fatih memasuki Ayashofya sebagai gereja ortodoks terbesar di imperium Romawi ini, seolah kita hadir menyaksikan momen hari tersebut. Melalui lisannya ia memerintahkan kepada pasukan untuk tidak membunuh orang lemah, anak-anak bahkan orang-orang yang di gereja berlindung mencari keamanan untuk tidak diganggu. 

Kini bola panas dari Barat dan Eropa justru menuding umat Islam telah merampas Ayashofya dari umat Kristen ortodoks. Namun tuduhan itu terbantahkan dengan releas nya surat jual-beli bangunan Ayashofya dengan otoritas gereja masa itu. Surat jual-beli gereja ini di publish oleh seorang pengamat Internasional Hashmi Bakhtiar. 

"Ketika  Muhammad al-Fatih menaklukan Konstantinopel, sebelum melaksanakan sholat Jum'at pertama di Ayashofya, Al-Fatih membeli Ayashofya kepada petinggi gereja menggunakan uang pribadinya. Ini dokumennya sampai sekarang masih tersimpan rapih di pusat arsip Turki di Ankara." Tulis Hasmi Bakhtiar di akun Twitter nya. 

Jelaslah bagi kita umat Islam bahwa Ayashofya tidak pernah dirampas dengan semena-mena. Seperti tuduhan Barat dan Eropa dalam merespon reaksi pengalihan Ayashofya menjadi rumah ibadah umat Islam. 

Apa yang dilakukan Sultan al-Fatih dengan cara membeli Hagia Sophia adalah keputusan yang sangat mustanir (pikiran yang sangat brilian), setelah sekian lama sengkarut sejarah yang tak pernah benderang itu, hati ini kita menyaksikan dengan terang dan nyata bahwa Ayashofya bukan hanya ekedar simbol kemenangan penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II. Tapi juga membuktikan Bisyaroh Rasulullah bahwa Konstantinopel adalah kota yang akan ditaklukan oleh seorang kesatria hebat yang mengkomandoi pasukan yang bertakwa kepada Allah. 

Sultan Mehmed II telah mewujudkan sabda Nabi. Kini masih tersisa satu kota lagi yang menjadi kunci kegemilangan Islam untuk menaklukannya, yaitu kota Roma. 

Pertanyaannya siapakah Sultan selanjutnya yang mampu menaklukan Roma ? 

Lalu pasukan terhebat itu berasal dari generasi yang mana ? 

Dua pertanyaan yang harus kita jawab. Dan pastinya kita berharap Sultan dan pasukannya adalah orang-orang yang memiliki semangat yang sama dengan Sultan Mehmed II serta memiliki keyakinan yang kuat untuk mewujudkan sabda Rasulullah. 

SHARE :
 
Top