Oleh: H. Hendri Tanjung, Ph.D

Ada yang menarik dari angka 2021. Jika kita buang angka 2 nya, maka yang tertinggal adalah angka 01. Inilah angka biner yang merupakan cikal bakal ditemukannya computer. Dengan angka biner ini, maka kita sekarang menikmati computer di segala bidang kehidupan.  Angka 01 terdiri dari 2 angka, yaitu angka 0 (nol) dan angka 1 (satu).  Angka nol ditemukan oleh ilmuwan muslim, seorang matematikawan dunia, yang bernama Al-khawarizmi.  Jika tidak ditemukannya angka nol oleh Al-khawarizmi, nisacaya kita tidak akan menikmati computer sampai hari ini.  Inilah salah satu penemuan di bidang matematika yang terbesar dalam sejarah. Terima kasih yang tidak terkira tentunya kepada Al-khawarizmi, semoga penemuan angka nol ini menjadi amal jariyah (wakaf ilmu) beliau. 

Berkat penemuan angka nol ini, maka dengan izin Allah kita memasuki revolusi industry 4,0.  Revolusi 4.0 ini ditandai dengan 3 hal, yaitu: Komputerisasi, Digitalisasi, dan Big Data.  Secara sederhana, komputerisasi adalah penggunaan computer secara benar dan maksimal, tidak sekedar pengganti mesin ketik. Komputerisasi sudah digunakan di dunia bisnis dan ekonomi dengan mengolah data-data bisnis dan ekonomi, kemudian mengambil kesimpulan dari hasil analisisnya. Digitalisasi menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah proses pemberian atau pemakaian system digital.  

Big Data adalah istilah umum untuk segala kumpulan himpunan data dalam jumlah yang sangat besar dan kompleks, sehingga menjadikannya sulit untuk ditangani atau di proses jika hanya menggunakan manajemen basis data biasa. Contoh Big Data dapat berupa data yang berukuran hingga petabytes (1,024 terabytes) atau exabytes (1,024 petabytes), seperti milyaran hingga triliunan catatan personal seseorang yang semuanya berasal dari sumber berbeda seperti web, sales, customer service, social media, data mobile dan sebagainya (IT-Jurnal.com).

Digitalisasi 

Pemakaian sistem Digital sudah merambah ke semua sektor.  Digitalisasi Bisnis misalnya sudah merambah setidaknya kedalam 5 aspek: pertama, mengadaptasi pembayaran digital. Kedua, menggunakan system HRM (Human Resource Management). Ketiga, Penggunaan CRM untuk mengatur hubungan relasi dengan klien.  Keempat, penggunaan marketplace untuk berdagang.  Kelima, Menyusun Strategi Digital Marketing.  

Digitalisasi di dunia kampus, dilakukan setidaknya dalam 10 aspek, yaitu: System Penerimaan mahasiswa Baru (SPMB) Online, system Pembayaran Online, presensi digital dengan QR Code, E-learning, Aplikasi kampus, system akademik kampus, system job fair dan career centre, dashboard perkembangan kampus, E-sertifikat untuk kegiatan mahasiswa dan system keuangan online.  

Digitalisasi koperasi ditandai dengan penggunaan uang digital.  Salah satunya adalah koperasi Benteng Muamalah Indonesia (BMI).  Koperasi BMI sudah menggunakan uang digital yang bernama ‘doitbmi’ dengan alamat ‘doitbmi.com’.  Salah satu tujuan dari Doitbmi adalah mempermudah anggota dalam mengakses informasi mengenai data keuangannya dan melakukan transaksi usaha.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, pedagang bakso dibayar dengan menggunakan uang digital doitbmi.  Anggota koperasi BMI yang jumlahnya 177 ribu orang dapat menggunakan doitbmi ini.  Upaya ini akan membuat uang anggota beredar pada anggota lagi.  Anggota yang mempunyai simpanan di koperasi, tidak perlu mengambil uangnya untuk berbelanja.  Cukup dengan menggunakan doitbmi, maka anggota koperasi dapat berbelanja di warung atau usaha anggota koperasi.  

2021

Baru saja kita tinggalkan tahun 2020, dan memasuki tahun 2021.  Beberapa pakar melakukan beberapa prediksi tahun 2021.  Pertumbuhan ekonomi akan diprediksi antara 3 hingga 5 persen.  Dunia perwakafan masih akan didominasi oleh wakaf uang pada tahun 2021.  Dunia koperasi akan dirambah oleh digitalisasi. Serta beberapa prediksi lainnya dalam berbagai bidang. 

Yang jelas dan pasti adalah, kita harus siap menghadapi masa depan.  Apa itu masa depan?  Masa depan itu dalam Bahasa arab disebut ‘al-ghad’, atau besok.  Al-Qur’an surat Al Hasyar ayat 18 membahas ini yang artinya: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan’.

Hari esok yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah hari akherat.  Itulah masa depan yang sesungguhnya bagi orang yang beriman.  Orang beriman sangat meyakini adanya kehidupan setelah kematian.  Apabila semasa hidup di dunia berbuat baik dan menebar manfaat, maka di akherat akan bahagia.  Sebaliknya, apabila semasa hidup di dunia berbuat jahat dan menebarkan mudarat, maka di akherat akan sengsara.  

Dari sini, kita tidak dapat memastikan apa yang terjadi di masa depan.  Kita hanya dapat merencanakan.  Tidak seorangpun tahu ketika membuat rencana kerja tahun 2020, akan terjadi pandemic covid-19 di dunia.  Akhirnya, semua rencana yang sudah dibuat, tidak dapat tercapai, bahkan capaiannya dibawah 50 persen.  Lihatlah bisnis penerbangan yang rontok, bisnis pariwisata, bisnis perhotelan, dan bisnis-bisnis lainnya. 

Ada 5 hal yang tidak dapat kita pastikan dan tidak kita ketahui dalam kehidupan : pertama, kita tidak tahu kapan terjadinya kiamat.  Kedua, kita tidak dapat memastikan turunnya hujan, yang bisa kita lakukan adalah membuat ramalan cuaca.  Ketiga, kita tidak tahu apa yang ada di dalam Rahim, apakah laki laki, ataukah perempuan, normal atau cacat, dan sebagainya.  Keempat, kita tidak dapat memastikan apa yang terjadi esok hari. Kelima, kita tidak dapat memastikan di bumi mana akan mati.  Hal ini sejalan dengan Al-Qur’an surat Lukman ayat 34 yang artinya: ‘Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal’.

Hari pasti berganti selama matahari masih menyinari.  Bulan pasti berganti selama bulan mengililingi matahari.  Tahun pasti berganti selama bumi mengelilingi matahari.  Kita tidak dapat hentikan waktu, sampai kiamat terjadi.  Kiamat dimana bulan bertabrakan dengan bumi, dan bumi bertabrakan dengan matahari.  Jika itu terjadi, maka waktu dunia akan terhenti.  Dimensi kehidupan akan berganti.  Akherat sudah menanti. 

Apa yang harus kita siapkan di tahun 2021?  Tidak lain dan tidak bukan adalah kesiapan untuk menghadapi apapun yang terjadi.  Kesiapan untuk menghadapi kondisi sulit.  Kesiapan untuk menghadapi kondisi terburuk sekalipun.  Bukankah Rasul mulia telah mewanti wanti dengan sabdanya: ‘Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, yaitu Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu.  Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Hidupmu sebelum datang matimu (HR. Al-Hakim)’

Namun, Islam mengajarkan kita untuk optimism menghadapi masa depan.  Optimisme ini harus terhunjam dalam hati bahwa 2021 akan lebih baik dari 2020.  Optimimisme inilah yang dimiliki oleh orang yang beriman.  Allah berfirman dalam Qs Yusuf ayat 87 yang artinya: ‘Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir’.

Orang beriman tidak mengenal kamus ‘putus asa’.  Optimism harus terus digelorakan.  Optimism yang disertai dengan amal soleh diberbagai bidang.  Insya Allah 2021 akan lebih baik dari tahun yang sudah hilang.  Selamat Bekerja dan Berkarya untuk tahun 2021 yang lebih baik.* 

Sumber: Majalah Peluang, Februari 2021

Penulis merupakan Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor, Anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan Ketua Pengawas Syariah Kopsyah BMI

SHARE :
 
Top