Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Menjadi Guru Profesional

Dermawan salah satu sifat yang sangat dianjurkan  Islam, yaitu suka memberi kepada sesama. Rasulullah sendiri sangat menyayangi dan mencintai orang-orang miskin, sehingga beliau memohon kepada Allah agar hidup dalam miskin, mati dalam kondisi miskin dan akhirat nanti di padang mahsyar dapat berkumpul bersama orang-orang miskin. Ternyata sifat inilah yang dimiliki oleh Zainab binti Khuzaimah. Perempuan dermawan yang berasal dari keluarga terhormat dan terpandang. 

Hafidz Muftisany menyebutkan, Zainab binti Khuzaimah adalah istri Rasulullah yang kelima  setelah beliau menikahi Hafsah binti Umar. Zainab seorang janda dari Ubaidillah bin Haris bin Abdul Muthalib yang syahid dalam perang Badar (Republika.co.id).                            

Sebelum menikah dengan Rasulullah, Zainab binti Khuzaimah sudah menikah dua kali. Suaminya yang pertama Thufail bin Haris. Thufail menceraikan Zainab karena tidak memiliki keturunan, Zainab dinyatakan mandul. Untuk memuliakannya, saudara Thufail yaitu Ubaidillah bin Haris menikahinya. Ubaidillah seorang penunggang kuda terhebat setelah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib. Ketiganya merupakan penunggang kuda yang andal disejumlah peperangan. Ubaidillah syahid dalam peperangan  Badar.

Hafidz menulis, setelah Ubaidillah gugur, Zainab menjanda untuk kedua kalinya, hingga Rasulullah menikahinya. Zainab seorang perempuan sederhana yang tidak terlalu cantik. Namun ia memiliki hati yang sangat mulia. Kecantikan hatinya membuat Rasulullah luluh kepadanya. Dalam sejarah disebutkan, Zainab binti Khuzaimah seorang perempuan yang terkenal dengan kebaikan hatinya, lemah lembut, murah hati, dermawan dan santun kepada semua orang, terutama terhadap orang-orang miskin. 

Kemurahan hati Zainab tertanam sejak ia masih kecil. Ia selalu mengutamakan kepentingan orang-orang miskin dari pada kepentingannya sendiri. Zainab seorang penyayang. Ia memperlakukan orang lain tanpa pilih kasih. Bahkan, terhadap seorang budak sekalipun ia tetap  memperlakukannya dengan mulia seperti kerabat dekatnya. 

Dengan kedermawanannya yang luar biasa, ia digelar ummul masakin (ibu orang-orang miskin). Bahkan, gelar ini disandangnya jauh sebelum ia masuk Islam, yaitu ketika masa jahiliyah. Ia tidak menyadari, bahwa sifat baiknya dapat mendatangkan pahala dan kebaikan dari Allah Swt terhadap dirinya.  Setelah menikah dengan Rasulullah gelarnya bertambah satu  lagi, yaitu ummul mukminin. Sepasang gelar yang sangat mulia.

Sibel Eraslan dalam Novelnya Aisyah menulis, ketika menikah  dengan Rasulullah, Zainab dalam keadaan sakit. Ia hanya sempat bertahan hidup bersama Rasulullah selama dua bulan saja. Setelah itu zainab pun meninggal dunia dalam usia yang relatif muda, yaitu 30 tahun. Untuk menghormati keluhurannya, Rasulullah saw mengerjakan sendiri pengurusan jenazah dan menyalatkannya. Zainab binti Khuzaimah merupakan istri kedua wafat setelah Khadijah yang meninggal dunia ketika Rasulullah masih hidup.

Begitulah sekelumit kisah tentang Zainab binti Khuzaimah yang sangat murah hati dan cantik hatinya. Ia memiliki hati sebening kaca, seindah mutiara dan seputih salju, hingga dimasa jahiliyah saja mendapatkan gelar semulia ini. Dalam kezaliman jahiliyah ia tetap menjadi perempuan terhormat dan mulia sampai Rasulullah menikahinya.

Sudah sepatutnya kita dapat mencontoh akhlak dan sifat terpuji ibunda Zainab. Kelembutan dan kedermawanannya menjadi teladan yang baik bagi kita semua. Ibunda Zainab yang hanya sekejab saja menjadi ummul mukminin, namun telah mewariskan sifat-sifat mulianya kepada anak cucunya. Agar dapat menjadi orang-orang yang murah hati dan tidak pelit. Mari mengikuti jejak ibunda Zainab menjadi seorang pendarma sesuai kemampuan kita masing-masing.

Editor: smh

SHARE :
 
Top